HomeLiterasiFiksiKetukan di Pagi Buta

Ketukan di Pagi Buta

#CerpenJumat — Edisi 4: Suara dari Gaza


Ketukan itu datang sebelum azan Subuh, pelan tapi menahan, seolah tangan di baliknya sudah lama berdiri di sana sebelum berani mengetuk.

Umm Bilal terbangun lebih dulu dari suaminya, jantungnya langsung berdebar—di jam sedingin ini, ketukan jarang membawa kabar baik. Ia membuka kain penutup pintu tenda dengan tangan gemetar, dan mendapati seorang perempuan muda berdiri di luar, menggendong bayi yang kini tertidur tenang, wajahnya diterangi cahaya lampu minyak kecil di tangannya.

“Rasha?” Umm Bilal setengah berbisik, mengenali wajah dari cerita Bilal seminggu lalu—perempuan yang menerima air dari anaknya di antrean.

“Maaf mengganggu sepagi ini,” kata Rasha cepat, suaranya bergetar antara terengah dan menahan tangis. “Aku tidak bisa menunggu sampai matahari naik. Aku takut berubah pikiran.”

Ia mengulurkan sebuah kantong kecil. Di dalamnya, dua lembar obat penurun panas, masih dalam kemasan asli yang jarang sekali terlihat di kamp—biasanya obat semacam itu sudah lama habis di klinik darurat, atau ditukar dengan harga yang tak masuk akal.

“Untuk anak perempuanmu,” kata Rasha. “Yang demam.”


Umm Bilal menatap kantong itu, lalu menatap wajah Rasha, mencoba membaca dari mana obat langka semacam ini bisa datang jam segini. “Dari mana kau dapat ini?”

Rasha tidak langsung menjawab. Matanya berkeliling sebentar, seperti mencari kata yang tepat di udara dingin pagi itu. “Ada klinik kecil, dua sektor dari sini. Buka sebelum subuh, sebelum antreannya jadi seratus orang lebih panjang dari kemarin.”

“Jalan ke sana lewat area yang belum dibersihkan,” kata Umm Bilal pelan, matanya menyipit. “Kau bawa bayi lewat sana, sendirian, jam segini?”

“Aku tidak sendirian,” Rasha akhirnya berkata, suaranya lebih pelan. “Aku bawa ini juga.” Ia membuka telapak tangannya yang satu lagi—kosong. Hanya bekas lingkaran pucat di jari manisnya, tempat sesuatu biasanya melingkar. “Cincin nikahku. Petugas klinik menukarnya dengan obat, karena aku tidak punya uang, dan katanya persediaannya juga hampir habis.”


Umm Bilal merasa dadanya sesak. Ia sudah cukup lama tinggal di kamp ini untuk tahu, cincin bukan sekadar logam bagi perempuan macam Rasha—terutama kalau, seperti yang mulai ia duga dari nada suara dan mata yang menghindar setiap kali kata “suami” nyaris disebut, laki-laki yang memberikannya sudah tidak ada, atau tidak diketahui lagi di mana.

“Suamimu—”

“Hilang,” potong Rasha cepat, seolah kalau ia biarkan orang lain menyelesaikan kalimat itu, kenyataannya akan terasa lebih nyata dari yang sudah cukup nyata. “Delapan bulan. Aku masih menyimpan cincinnya untuk bayi ini, kalau ia besar nanti. Tapi…” Ia menunduk ke arah bayinya yang tertidur. “Bilal memberi kami air minggu lalu tanpa tahu kapan ia akan dapat gantinya. Aku pikir, ini caraku membalas—bukan dengan air, tapi dengan sesuatu yang lebih dibutuhkan sekarang.”


Umm Bilal berdiri lama di ambang pintu, obat itu di satu tangan, dan gambaran cincin yang sudah tak lagi melingkar di jari Rasha membekas di kepalanya. Ada dua hal yang ingin ia lakukan sekaligus, dan keduanya tidak bisa dilakukan bersamaan.

Ia ingin menerima obat itu—Rana masih terbaring lemah di dalam, keningnya panas sejak tiga hari, dan setiap malam Umm Bilal berbaring mendengarkan napas anaknya, menghitung apakah masih teratur.

Tapi ia juga tahu, betapa pun Rasha bersikeras, menerima obat itu berarti menerima bagian dari cincin yang sudah hilang—bagian dari seorang laki-laki yang mungkin tidak akan pernah pulang untuk tahu bahwa cincinnya sudah ditukar demi anak orang lain.

“Aku tidak bisa menerima ini,” kata Umm Bilal akhirnya, mendorong kantong obat itu kembali pelan-pelan. “Bukan karena tidak berterima kasih. Tapi karena aku tahu berapa harga sebenarnya dari ini, Rasha. Dan itu bukan harga yang pantas kau bayar untuk anak yang bukan anakmu.”

Wajah Rasha berubah, sesuatu antara terluka dan bersikeras. “Kau pikir aku menukarnya karena terpaksa? Aku menukarnya karena aku mau. Cincin itu tidak akan menyembuhkan Rana. Obat ini bisa. Biarkan aku memilih sendiri apa yang berharga bagiku, Umm Bilal—aku sudah cukup sering kehilangan pilihan sejak delapan bulan lalu.”


Angin dini hari itu dingin, membawa bau minyak lampu yang mulai habis bercampur asap sisa api unggun semalam dari tenda tetangga. Dari kejauhan, suara azan Subuh mulai terdengar, pelan dan berulang, memantul di antara tenda-tenda yang masih setengah tertidur.

Umm Bilal menatap wajah Rasha lama—wajah yang keras kepala dengan cara yang sama seperti dirinya sendiri dulu, sebelum kamp ini mengajarkannya cara lain untuk bertahan. Akhirnya ia mengambil kantong obat itu, tangannya menyentuh tangan Rasha sebentar, hangat di tengah udara yang dingin.

“Aku akan menyimpan ini untuk Rana,” katanya pelan. “Tapi cincinmu—kalau suamimu pulang suatu hari, dan bertanya di mana cincin itu, aku ingin kau bisa bilang kau menjualnya untuk sesuatu yang layak. Bukan menyerahkannya sia-sia.”

Rasha mengangguk, matanya berkaca-kaca tapi tidak jatuh. “Ia akan mengerti,” bisiknya, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada Umm Bilal. “Kalau ia pulang.”

Ia berbalik pergi sebelum kalimat itu sempat digantungi keheningan yang terlalu lama, langkahnya cepat menembus kabut tipis subuh, menuju tendanya sendiri di ujung sektor yang belum terang benar.

Umm Bilal berdiri lama di depan pintu tendanya, menatap kantong obat di tangannya, lalu menatap ke arah reruntuhan gelap tempat konon terakhir kali suami Rasha terlihat sebelum hilang—tempat yang, ia tahu, akan terus ditatap Rasha setiap kali berjalan melewatinya, berharap suatu pagi ada seseorang berdiri di sana, menunggu untuk pulang.


Minggu depan, cincin yang sudah tak lagi melingkar di jari Rasha akan menuntunnya kembali ke reruntuhan itu—dan kali ini, ia tidak akan pergi sendirian.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini