GAZA CITY — Ketika Inggris menyatakan perang terhadap Jerman pada September 1939, Gaza bukan lagi kota yang hancur seperti pada akhir Perang Dunia I. Kota ini telah dibangun ulang selama dua dekade Mandat Inggris, dan pada 1939 kembali menjadi pusat administratif dengan wali kota baru yang akan memimpinnya sepanjang perang: Rushdi al-Shawwa, yang dilantik pada 29 Januari 1939 menggantikan Fahmi al-Husseini yang ditahan dan diasingkan ke Sarafand.
Selama enam tahun berikutnya, Gaza tidak menjadi medan pertempuran seperti pada 1917. Namun kota dan wilayah sekitarnya berperan sebagai bagian dari infrastruktur militer Inggris di Timur Tengah — sebuah babak yang jarang muncul dalam narasi sejarah Gaza yang lebih dikenal lewat perang-perangnya, bukan lewat perannya sebagai basis logistik Sekutu.
Lapangan Udara yang Dibangun Ottoman, Dipakai Sekutu
Lapangan terbang yang kelak dikenal sebagai RAF Gaza pertama kali dibangun pada 1917 oleh militer Ottoman dengan bantuan teknis Jerman. Setelah Inggris menguasai Palestina, lapangan ini dipakai untuk penerbangan sipil oleh Imperial Airways sejak 1927 dan KLM sejak 1933, menjadikan Gaza titik transit dalam rute udara menuju Baghdad, Karachi, hingga Hindia Belanda.
Begitu Perang Dunia II pecah, fungsi lapangan terbang ini berubah total. Sejumlah skuadron RAF ditempatkan di sana, termasuk Skuadron 33, 45, 127, 208, Skuadron Tempur-Pengintai Polandia ke-318, dan Skuadron 451 milik Angkatan Udara Australia. Sekolah Perwira Awak Pesawat No. 2 RAF juga berbasis di lapangan ini, begitu pula Unit Latihan Yunani yang beroperasi pada 1941–1942 — menampung personel militer Yunani yang mengungsi setelah pendudukan Jerman atas negaranya. Antara Juli dan September 1942, ketika pasukan Jerman di bawah Erwin Rommel mendekati Mesir dalam Kampanye Afrika Utara, lapangan udara Gaza sempat difungsikan sebagai depot amunisi utama Timur Tengah.
Warga Gaza dalam Barisan Sekutu
Di luar peran militer Inggris, penduduk Gaza turut terlibat langsung dalam upaya perang. Menurut riset sejarawan Mustafa Abbasi dari Tel-Hai Academic College, sekitar 12.000 warga Arab Palestina secara keseluruhan menjadi sukarelawan di angkatan darat Inggris selama perang, bertempur di front Afrika Utara dan Eropa — jumlah yang kerap terlupakan dibandingkan kisah 30.000 sukarelawan Yahudi Palestina yang kelak membentuk basis Brigade Yahudi. Motivasi mayoritas sukarelawan Arab, menurut penelitian tersebut, bersifat ekonomis di tengah kesulitan hidup, bukan semata ideologis.
Di tingkat elite lokal, Wali Kota Rushdi al-Shawwa termasuk di antara para pemimpin Arab Palestina — bersama Wali Kota Yerusalem Mustafa al-Khalidi dan Wali Kota Nablus Sulaiman Tuqan — yang mendukung upaya perang Inggris melawan fasisme, berbeda sikap dengan Mufti Yerusalem Amin al-Husseini yang justru berkolaborasi dengan Nazi Jerman dari pengasingannya di Berlin.
Ancaman dari Udara: Gaza di Tepi Zona Serang
Antara Juli 1940 dan Juni 1941, Angkatan Udara Italia (Regia Aeronautica) melancarkan serangkaian pengeboman terhadap Palestina Mandat, dengan sasaran utama Tel Aviv dan Haifa — kota pelabuhan dengan kilang minyak strategis. Serangan paling mematikan terjadi pada 9 September 1940 di Tel Aviv, menewaskan 137 orang. Kota-kota pesisir lain seperti Acre dan Jaffa juga terkena dampak.
Berdasarkan sumber yang tersedia, tidak ditemukan catatan bahwa Gaza sendiri menjadi target langsung pengeboman Italia, Jerman, atau Prancis Vichy selama periode ini — sebuah fakta yang tetap perlu ditegaskan secara eksplisit karena absennya bukti bukan berarti Gaza sepenuhnya lepas dari kekhawatiran serangan udara sebagai kota pesisir yang berdekatan dengan basis militer Inggris.
Pemerintahan Kota di Tengah Perang
Di bawah kepemimpinan Rushdi al-Shawwa, pemerintahan Gaza tetap berjalan dan bahkan berkembang selama masa perang. Ia melanjutkan proyek infrastruktur yang telah dimulai sejak akhir 1930-an: jalan beraspal, sistem air bersih melalui sumur Bir as-Safa yang dilengkapi pompa bertenaga mesin, jaringan pembuangan limbah, serta listrik untuk warga kota. Catatan keuangan municipal menunjukkan pendapatan kota meningkat dua kali lipat hingga mencapai 23.997 Pound Palestina pada 1942, meski pengeluaran sedikit melampaui pendapatan pada tahun yang sama, mencapai 26.510 Pound Palestina.
Pada 1945, menjelang berakhirnya perang, Gaza menjadi tuan rumah Konferensi Wali Kota Arab Palestina ke-4 — menegaskan posisi kota ini sebagai salah satu pusat jaringan politik lokal Arab Palestina di penghujung era Mandat.
Makam-Makam yang Menyimpan Jejak Perang
Pemakaman Perang Gaza (Gaza War Cemetery), yang didirikan pada 1920 di kawasan Tuffah untuk mengenang korban Pertempuran Gaza pada Perang Dunia I, juga menerima penambahan sekitar 210 makam personel Persemakmuran yang gugur pada Perang Dunia II. Di antara total 3.691 makam di pemakaman ini — mayoritas berasal dari Perang Dunia I — tercatat pula 36 makam tentara Polandia, kemungkinan berkaitan dengan kehadiran unit-unit militer Polandia yang direlokasi ke Palestina setelah dibebaskan dari Uni Soviet, termasuk Korps Polandia II pimpinan Jenderal Władysław Anders yang tiba di kawasan ini pada 1943.
Menghubungkan ke Hari Ini
Peran Gaza sebagai basis logistik dan udara Sekutu selama Perang Dunia II adalah babak singkat dalam sejarah panjang kota ini sebagai persimpangan kekuatan-kekuatan besar — sebuah pola yang berulang sejak era Firaun hingga Ottoman. Namun tidak seperti periode-periode lain, era ini relatif damai secara militer bagi Gaza sendiri: kota ini menjadi penopang perang orang lain, bukan medan pertempurannya. Kedamaian itu berumur pendek. Hanya tiga tahun setelah Jepang menyerah pada 1945, Gaza kembali menjadi zona pertempuran dalam Perang Arab-Israel 1948 — dan lapangan udara yang pernah menampung skuadron RAF serta pemakaman yang menyimpan jasad prajurit Sekutu menjadi saksi bisu pergantian era yang membentuk Jalur Gaza seperti yang dikenal hari ini.


