Gaza, Perang berkepanjangan di Gaza membuat warga Palestina yang mengungsi harus menghadapi persoalan kebutuhan dasar yang semakin berat. Salah satunya akses terhadap toilet dan fasilitas sanitasi yang layak.
Banyak keluarga yang tinggal di tenda pengungsian kini terpaksa menggunakan toilet darurat yang sangat sederhana.
Sebagian bahkan membuat toilet sendiri dengan melubangi kursi plastik dan menempatkannya di atas lapisan pasir. Kondisi tersebut oleh warga digambarkan seperti kembali ke “zaman batu”.
Eman Mahmoud Shamia, seorang ibu lima anak yang tinggal di kamp pengungsian, mengatakan fasilitas toilet di tempat tinggalnya jauh dari layak.
Toilet komunal dibangun dengan menggali lubang resapan, tetapi tidak memberikan privasi yang memadai, terutama bagi perempuan dan anak-anak.
“Bagaimana toilet bisa menjadi seperti ini dan bagaimana pintunya hanya berupa selembar kain?” demikian keluhan Shamia sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Senin 24 Agustus 2026.
Harga Toilet Melambung
Krisis sanitasi juga diperburuk melonjaknya harga perlengkapan toilet. Menurut laporan tersebut, harga dudukan toilet bekas di Gaza kini mencapai sekitar 1.500 hingga 2.000 shekel.
Kondisi ekonomi yang sulit membuat banyak warga tidak mampu membeli perlengkapan sanitasi.
Mereka kemudian mencari alternatif dengan memanfaatkan barang bekas atau material dari bangunan yang hancur.
Ekonom Omar Salouha mengatakan kondisi tersebut merupakan dampak dari terganggunya pasokan akibat pembatasan masuknya perlengkapan toilet, bahan sanitasi dan material perpipaan.
Di sejumlah kamp, toilet komunal menjadi satu-satunya pilihan. Satu toilet bahkan dapat digunakan oleh sekitar 20 hingga 25 orang.
Fasilitas tersebut umumnya tidak memiliki wastafel atau keran yang memadai sehingga warga menggunakan selang maupun wadah air untuk kebutuhan sehari-hari.
Masalah sanitasi semakin berat karena keterbatasan air dan rusaknya jaringan pembuangan limbah. Di beberapa wilayah Gaza, air hanya tersedia sekitar sekali dalam sepekan.
Sebagian kamp pengungsian juga tidak memiliki jaringan pembuangan air limbah yang terintegrasi.
Penilaian WASH yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan hanya sekitar separuh warga yang disurvei di Gaza memiliki akses terhadap sanitasi dasar.
Sekitar 60 persen berada dalam kondisi terpapar air limbah atau kotoran manusia dalam jarak 10 meter dari tempat tinggal mereka.
Kondisi itu meningkatkan risiko penyebaran penyakit, terutama di tengah kepadatan kamp pengungsian dan terbatasnya fasilitas kebersihan.
Dokter Ahmed Al-Jedi dari Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah mengatakan banyak anak, perempuan dan lansia datang ke unit gawat darurat dengan keluhan diare berulang, penyakit kulit dan gangguan pencernaan.
Menurutnya, sebagian kasus berkaitan dengan kondisi kehidupan di tenda yang minim fasilitas mandi dan kebersihan. Beberapa keluarga bahkan hanya mampu mandi sekali dalam sepekan.


