HIMALAYA – Operasi pencarian dan penyelamatan yang didukung helikopter dan drone terus dilakukan pada Kamis (27/8) laporan Anadolu, setelah jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat di sepanjang perbatasan Nepal-China meningkat menjadi 180 orang, sementara lebih dari 1.300 orang masih dinyatakan hilang.
Warga negara asing yang hilang termasuk 178 orang dari India, 100 dari China, 65 dari Amerika Serikat, 53 dari Ukraina, 51 dari Malaysia, 35 dari Australia, 33 dari Inggris, dan 25 dari Kanada.
Otoritas Nepal mengonfirmasi 177 orang meninggal dunia dan mencatat 826 orang masih hilang, termasuk wisatawan, warga negara asing, pejabat sipil, tentara, polisi, serta penduduk setempat.
Menurut Nepal Tourism Board, sebanyak 644 wisatawan asing dan lokal masih hilang di wilayah perbatasan Nepal.
Mereka terdiri dari 178 warga India, 65 warga Amerika Serikat, 53 warga Ukraina, 51 warga Malaysia, 35 warga Australia, 33 warga Inggris, 25 warga Kanada, sembilan warga Singapura, dan delapan warga Jerman.
Otoritas Beijing mengonfirmasi tiga orang tewas, sementara 558 orang masih hilang.
Kementerian Luar Negeri China mengatakan 100 warga negara China hilang di sisi perbatasan Nepal akibat banjir bandang.
Juru bicara kementerian, Lin Jian, mengatakan sebanyak 260 warga negara asing masih belum diketahui keberadaannya di Tibet, yang oleh Beijing disebut sebagai Daerah Otonomi Xizang.
Tentara dan Helikopter Dikerahkan
Banjir tersebut kemungkinan dipicu oleh pecahan es dalam jumlah besar yang terlepas dari gletser Himalaya, sekitar 20 kilometer di timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi, berdasarkan citra satelit.
Runtuhan tersebut menyebabkan berton-ton es dan bebatuan longsor ke Sungai Bhotekoshi di bawahnya.
Pemerintah Nepal mengatakan pihaknya tengah memindahkan warga yang terdampak serta mengerahkan tentara dan operator helikopter swasta untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan.
Tentara Nepal telah mengerahkan ratusan personel serta sejumlah aset militer, termasuk helikopter, untuk mengevakuasi warga ke tempat yang aman.
Distrik Chitwan di Provinsi Bagmati mencatat jumlah korban tewas tertinggi, yakni 64 orang, disusul Dhading dengan 27 orang dan Nawalparasi Timur dengan 22 orang.
Kepolisian Nepal mengatakan 28 personel polisi juga masih hilang.
Menurut laporan awal, banjir menghancurkan 19 jembatan dan sekitar 40 kilometer ruas jalan utama, memutus jalur transportasi dan semakin mempersulit upaya penyelamatan.
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan banjir menyebabkan “kerusakan ekstrem” di sejumlah distrik. Ia memperingatkan informasi yang tersedia saat ini masih bersifat awal.
Khanal meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan di sepanjang bantaran Sungai Bhotekoshi dan Trishuli di distrik Nuwakot, Dhading, Gorkha, dan Chitwan, karena risiko bencana masih tinggi.
Hampir 300 Warga India Dilaporkan Hilang
Secara terpisah, Khanal mengatakan kepada stasiun televisi India NDTV “hampir 300 warga India dilaporkan hilang dan pemerintah sedang berupaya menghubungi mereka.”
Ia juga mengatakan warga negara asing, termasuk warga India, menggunakan jalur di wilayah terdampak untuk melakukan Masarovar Yatra, sebuah perjalanan ziarah suci bagi umat Hindu.
Jumlah warga India yang dinyatakan hilang oleh Khanal jauh lebih tinggi dibandingkan angka yang dikonfirmasi oleh Nepal Tourism Board.
Pemerintah Nepal menetapkan Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading sebagai “wilayah krisis bencana” selama tiga bulan.
Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal meminta operator helikopter dan drone berkoordinasi dalam upaya penyelamatan dengan pemerintah distrik, lembaga keamanan, dan pemerintah daerah.
Otoritas juga mengimbau warga yang terjebak untuk menyalakan api dan menghasilkan asap sebagai tanda untuk menunjukkan lokasi mereka.
Menurut Kementerian Keuangan Nepal, India, China, dan Bank Dunia telah bergerak untuk mengoordinasikan bantuan keuangan bagi upaya penyelamatan, bantuan darurat, dan rekonstruksi di wilayah yang terdampak banjir.
Menteri Luar Negeri India mengatakan pada Kamis pagi New Delhi telah mengirim pesawat kedua yang membawa 37,5 ton bantuan kemanusiaan dan material bantuan bencana, obat-obatan, serta paket makanan untuk Nepal.
3 Tewas, 558 Hilang di Tibet
Sedikitnya tiga orang tewas dan 558 lainnya masih hilang di Kabupaten Gyirong, China, setelah bencana longsor lumpur, demikian dilaporkan media pemerintah China.
Longsor lumpur menerjang Pelabuhan Gyirong di wilayah barat daya Daerah Otonomi Xizang, yang secara umum dikenal sebagai Tibet, demikian dilaporkan kantor berita Xinhua yang berbasis di Beijing pada Kamis.
Sebuah kelompok pengarah dari Tentara Pembebasan Rakyat China dikirim ke wilayah terdampak pada Kamis untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan bersama yang melibatkan personel militer.
Perlintasan perbatasan Gyirong merupakan jalur utama bagi wisatawan dan lalu lintas antara China dan Nepal.
Menurut laporan tersebut, State Grid Xizang Electric Power Company Limited tengah menyiapkan pasokan listrik darurat di Kota Gyirong.
Kementerian Manajemen Darurat China dan Administrasi Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Nasional mengerahkan lebih dari 100 petugas pemadam kebakaran dan personel penyelamat ke wilayah yang terdampak bencana.
Pesawat carter pertama yang membawa tim penyelamat tiba di sebuah bandara di Kota Xigaze pada Kamis pagi.
—–
(Bantuan bencana banjir bandang Nepal dan Nasional bisa melalui link berikut)
https://inh-or-id.myr.id/galang-dana/v2/bantu-saudara-kita-yang-terkena-musibah-bencana


