Al Quds — Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir memperingatkan krisis pendanaan militer Israel mulai berdampak pada kesiapsiagaan pasukan. Dalam laporan Yediot Ahronot, Kamis (27/8), Zamir menyebut IDF kini beroperasi dengan “kas yang kosong”.
“Sayangnya, akhir-akhir ini kami juga terlibat dalam pertempuran memperebutkan anggaran. Saat IDF dan personelnya dikerahkan di seluruh front, kami harus berhadapan dengan ‘kas yang kosong’. Situasi ini merusak kesiapan IDF,” kata Zamir dalam evaluasi situasi keamanan di berbagai front.
Peringatan tersebut disampaikan ketika pemerintah Israel bersiap menambah sekitar 40 miliar shekel atau sekitar 12 miliar dolar AS untuk sektor pertahanan. Tambahan anggaran itu akan membawa total anggaran pertahanan Israel pada 2026 menjadi 184 miliar shekel, terbesar kedua dalam sejarah negara tersebut setelah 188 miliar shekel pada 2024.
Tambahan dana itu disepakati pekan lalu oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich setelah berbulan-bulan terjadi tarik-ulur anggaran serta meningkatnya ketegangan antara Kementerian Keuangan dan pejabat pertahanan.
Dalam kesepakatan sebelumnya, Kementerian Keuangan akan segera mengalokasikan 15 miliar shekel, sedangkan keputusan terkait tambahan 25 miliar shekel ditunda hingga akhir tahun. Pejabat Kementerian Keuangan ingin memastikan apakah proyeksi kebutuhan militer memang realistis atau justru terlalu tinggi.
Perselisihan tersebut belum sepenuhnya berakhir. Kementerian Keuangan menilai anggaran pertahanan semakin sulit dikendalikan dan khawatir lonjakan belanja yang dipicu dampak serangan 7 Oktober dapat menimbulkan tekanan jangka panjang terhadap perekonomian Israel.
Di sisi lain, militer mengklaim keterbatasan dana mulai menimbulkan dampak operasional. Pejabat pertahanan memperingatkan produksi rudal dan peluru artileri di sejumlah perusahaan pertahanan Israel dapat melambat atau terhenti jika pesanan baru tidak segera diberikan.
Kementerian Pertahanan Israel juga dilaporkan memiliki utang sekitar 15,5 miliar shekel kepada tiga perusahaan pertahanan terbesar negara itu, yakni Israel Aerospace Industries, Rafael, dan Elbit Systems.
Dana tambahan pemerintah akan digunakan untuk mengisi kembali persediaan senjata yang menipis, membiayai operasi militer yang sedang berlangsung, serta mempertahankan kesiapsiagaan di sepanjang perbatasan Israel. Dana tersebut juga diharapkan mengurangi tekanan keuangan terhadap perusahaan pertahanan yang mengalami keterlambatan pembayaran kepada pemasok dan subkontraktor.
Sementara itu, sektor pertahanan Israel tengah mengajukan program pengadaan dan pembangunan kekuatan militer multiyears dengan nilai sekitar 350–400 miliar shekel.
Program tersebut mencakup pengadaan pesawat, helikopter, rudal, amunisi, sistem nirawak, dan platform angkatan laut. Israel juga mempersiapkan kemungkinan perubahan skema bantuan militer Amerika Serikat setelah 2028.
Di tengah persoalan anggaran, Zamir memerintahkan peningkatan kesiapsiagaan IDF di sejumlah front, mulai dari Iran dan Lebanon hingga Gaza dan Tepi Barat. Militer juga menyiapkan pasukan tambahan yang dapat segera dikerahkan jika situasi keamanan memburuk.
Khusus di Tepi Barat, Zamir memerintahkan peningkatan kesiapsiagaan menjelang periode liburan mendatang. Markas satu divisi reguler tambahan ditempatkan dalam status siaga, sementara sejumlah unit dan batalion disiapkan untuk segera memberikan penguatan.
IDF juga akan mempertahankan kekuatan operasional penuh selama periode liburan, tanpa rencana mengurangi pasukan tempur maupun menghentikan aktivitas militernya.


