HomeSejarah Indonesia-PalestinaDari Kamp Pengungsi Jalur Gaza ke Kuwait: Bagaimana Diaspora Membentuk Gerakan Pembebasan...

Dari Kamp Pengungsi Jalur Gaza ke Kuwait: Bagaimana Diaspora Membentuk Gerakan Pembebasan Palestina

GAZA CITY — Dua dari empat pendiri utama Fatah — gerakan yang kelak menjadi tulang punggung Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) — dibesarkan sebagai pengungsi di Jalur Gaza. Khalil al-Wazir dan Salah Khalaf tiba di Gaza sebagai anak-anak setelah keluarga mereka terusir dari kota lain di Palestina pada 1948. Dari kamp pengungsi dan sekolah UNRWA di Gaza itulah keduanya memulai jalur yang membawa mereka ke Kairo, lalu ke Kuwait, tempat gerakan perlawanan bersenjata Palestina modern lahir.

Artikel ini menelusuri bagaimana penyebaran warga asal Gaza dan Palestina ke berbagai negara — sebagian besar akibat perang 1948 dan 1967 — justru menjadi salah satu sumber daya politik utama bagi perjuangan kemerdekaan Palestina, dari pendirian Fatah hingga pembentukan PLO.

Dari Kamp Pengungsi ke Universitas Kairo

Khalil al-Wazir, kelak dikenal dengan nama perang Abu Jihad, lahir di Ramla pada 1935. Keluarganya terusir pada musim semi 1948 dan setelah melalui Latrun, Ramallah, dan Hebron, akhirnya menetap di kamp pengungsi Bureij di Jalur Gaza, tempat ia bersekolah di sekolah yang dikelola UNRWA, dan menjadi pengungsi ketika keluarganya diusir dari Ramla selama Perang Arab-Israel 1948, lalu mulai memimpin kelompok fedayeen kecil di Jalur Gaza. Di Gaza pula ia mulai aktif secara politik, memimpin gerakan pelajar di Palestine Secondary School, dan memulai kegiatan nasionalnya sejak usia dini di Palestine Secondary School di Gaza, tempat ia terpilih sebagai pemimpin Gerakan Pelajar sekolah tersebut.

Salah Khalaf, atau Abu Iyad, lahir di Jaffa pada 1933. Keluarganya meninggalkan Jaffa lewat laut menuju Gaza pada 13 Mei 1948, tempat ia bergabung dengan kelompok paramiliter pemuda yang terafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Kedua remaja pengungsi ini bertemu Yasser Arafat bukan di Gaza, melainkan di Kairo — Khalaf di Universitas Kairo pada 1952, al-Wazir dalam kamp pelatihan Liga Pelajar Palestina di Mesir pada 1956Keduanya berkenalan dengan Arafat melalui Serikat Umum Pelajar Palestina, sebelum al-Wazir kembali bertemu Arafat di sebuah kamp pelatihan yang dibentuk Liga Pelajar Palestina di Mesir.

Klaim bahwa Salah Khalaf lahir di kota Gaza sendiri — yang muncul di sejumlah situs tidak akademik — tidak didukung oleh sumber-sumber utama. Britannica, Wikipedia, dan Encyclopedia.com secara konsisten mencatat ia lahir di Jaffa dan baru tiba di Gaza sebagai pengungsi pada 1948, keluarganya mengungsi ke Jalur Gaza pada 1948 akibat konflik yang menyertai kemerdekaan Israel.

Kuwait: Tempat Lahir Fatah

Setelah menyelesaikan studi, Khalaf sempat kembali mengajar di Gaza pada 1957, sebelum memenuhi panggilan Arafat untuk pindah ke Kuwait pada 1959. Di sanalah, bersama Arafat, al-Wazir, Farouk Kaddoumi, dan Khaled al-Hasan, ia ikut mendirikan Fatah. Para pendiri Fatah pernah belajar di Kairo atau Beirut dan sebelumnya menjadi pengungsi di Gaza. Nama Fatah sendiri merupakan akronim terbalik dari Harakat al-Tahrir al-Watani al-Filastini, Gerakan Pembebasan Nasional Palestina.

Kuwait bukan lokasi acak. Sejak akhir 1950-an, negara Teluk yang baru merdeka itu menjadi tujuan utama tenaga profesional Palestina — guru, insinyur, dokter, dan pegawai negeri. Pada 1965, warga Palestina mencapai sekitar 17 persen populasi Kuwait, atau 78.000 dari sekitar 468.000 penduduk, dengan populasi Palestina saat itu sebagian besar laki-laki dengan rasio empat berbanding satu terhadap perempuan. Angka itu terus melonjak: pada 1975, warga Palestina di Kuwait mencapai sekitar 204.000 jiwa, atau 29,7 persen dari seluruh warga asing di negara itu, menjadikan mereka komunitas Arab terbesar di Kuwait sejak kemerdekaan hingga invasi Irak 1990. Pada pertengahan 1960-an, hampir separuh guru di Kuwait adalah warga Palestina.

Arafat sendiri memanfaatkan posisinya sebagai pemilik tiga perusahaan konstruksi di Kuwait untuk membangun jaringan dengan pengusaha Palestina di kawasan Teluk, sebuah pola yang menjadikan bisnis Palestina di Teluk sebagai bagian inti organisasi Fatah sejak awal berdirinya. Sumbangan dan gaji dari komunitas profesional Palestina di Kuwait, Arab Saudi, dan Qatar menjadi salah satu sumber pendanaan awal gerakan tersebut.

Serikat Pelajar sebagai Rahim Organisasi

Sebelum Fatah, wadah pengorganisasian diaspora Palestina yang paling berpengaruh adalah Serikat Umum Pelajar Palestina (GUPS). Arafat memimpin cabang GUPS di Universitas Kairo dari 1952 hingga 1956, sementara Khaled Yashruti, yang saat itu berusia 22 tahun, memimpin cabang GUPS di Beirut. Melalui jaringan pelajar yang tersebar di berbagai ibu kota Arab inilah generasi pertama pemimpin Fatah saling mengenal dan merancang strategi perjuangan bersenjata.

Tidak semua tokoh diaspora asal Gaza berperan di jalur militer. Salwa Abu Khadra, perempuan kelahiran Jaffa yang keluarganya berasal dari Gaza, mendirikan taman kanak-kanak pertama di Kuwait dan kemudian sekolah yang berkembang pesat, sebelum menjadi salah satu tokoh perempuan kunci dalam Fatah dan PLO.

PLO: Menyatukan Diaspora dalam Satu Piagam

Pengorganisasian diaspora mencapai puncaknya pada Mei 1964, ketika Ahmad Shukairy berkeliling komunitas pengungsi Palestina di berbagai negara untuk mempersiapkan kongres pendirian PLO. Sebanyak 422 delegasi dari komunitas pengungsi Palestina di seluruh dunia berkumpul di Yerusalem Timur yang saat itu di bawah kendali Yordania, dan meratifikasi Piagam Nasional Palestina serta Undang-Undang Dasar PLO, dokumen yang sering disebut sebagai “deklarasi kemerdekaan” Palestina. Dengan kata lain, cetak biru politik Palestina modern dirumuskan bukan di dalam wilayah Palestina, melainkan oleh delegasi yang datang dari diaspora.

Sisi Lain: Ongkos Politik Diaspora

Jaringan diaspora ini juga rapuh terhadap gejolak politik regional. Ketika kepemimpinan PLO di bawah Arafat mendukung invasi Irak ke Kuwait pada 1990, hubungan yang dibangun selama tiga dekade runtuh. Antara 380.000 hingga 400.000 warga Palestina diusir atau melarikan diri dari Kuwait setelah pembebasan negara itu pada Februari 1991, dari populasi pra-invasi yang berjumlah sekitar 400.000 hingga 450.000 jiwa — pengusiran paksa terbesar warga Palestina dari sebuah negara Arab. Baru pada 2017, setelah permintaan maaf resmi Mahmoud Abbas atas sikap PLO tahun 1990, Kuwait kembali membuka pintu bagi tenaga pengajar Palestina.

Gaza Hari Ini: Gelombang Diaspora Baru

Pola penyebaran dan reorganisasi ini kembali terjadi pada skala yang jauh lebih besar sejak Oktober 2023. Dari sekitar 2,4 juta penduduk Jalur Gaza, sekitar 1,9 juta jiwa terusir dari tempat tinggal mereka, sementara lebih dari 80 persen bangunan di wilayah itu rusak atau hancur. Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 dan pembentukan Board of Peace melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 membuka babak baru, namun pola historis tetap sama: setiap gelombang pengungsian dari Gaza melahirkan jaringan baru warga Palestina di berbagai negara, yang sejarah menunjukkan cenderung kembali terhubung dengan perjuangan politik tanah asal mereka.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini