Ramallah, Sebanyak 5.209 warga Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur sepanjang Agustus 2026, menurut data Kegubernuran Yerusalem.
Kompleks Al-Aqsa terus mengalami peningkatan aksi penyerbuan dan pelaksanaan ritual keagamaan Yahudi oleh warga Israel, baik di dalam kompleks maupun di sekitar gerbangnya. Aktivitas tersebut dilaporkan berlangsung dengan pengawalan langsung polisi Israel.
Salah satu jumlah harian tertinggi tercatat pada 13 Agustus. Sebanyak 751 warga Israel dilaporkan memasuki kompleks Al-Aqsa pada hari tersebut, mengutip Anadolu, Rabu (2/9).
Selain aksi penyerbuan, otoritas Israel juga menerbitkan lima perintah yang melarang warga Palestina memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa sepanjang Agustus.
Pada periode yang sama, pasukan Israel dilaporkan menewaskan dua warga Palestina dan menahan 114 orang, termasuk lima anak.
Perkembangan tersebut berlangsung di tengah laporan media Israel mengenai upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meningkatkan ketegangan untuk memperoleh dukungan dari partai-partai sayap kanan menjelang pemilihan umum Knesset pada 27 Oktober.
Warga Palestina menuduh Israel meningkatkan kebijakan yang bertujuan memperkuat karakter Yahudi di Yerusalem Timur yang diduduki, termasuk di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa, serta menghapus identitas Arab dan Islam di wilayah tersebut.
Palestina tetap menjadikan Yerusalem Timur sebagai calon ibu kota negara Palestina merdeka.
Kompleks Masjid Al-Aqsa merupakan salah satu titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina. Status dan akses terhadap situs suci tersebut kerap menjadi sumber ketegangan di Yerusalem.
Sementara itu, kota-kota, permukiman, dan kamp pengungsi di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, terus menjadi lokasi penggerebekan dan penangkapan oleh pasukan Israel.
Situasi tersebut juga diikuti peningkatan serangan warga Israel terhadap warga Palestina dan properti mereka sejak Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza pada Oktober.


