HomeBaitul MaqdisDua Tahun Berlalu, Keluarga Aysenur Ezgi Eygi Masih Menanti Keadilan

Dua Tahun Berlalu, Keluarga Aysenur Ezgi Eygi Masih Menanti Keadilan

TEPI BARAT — Dua tahun setelah Aysenur Ezgi Eygi tewas akibat tembakan pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki, keluarganya masih menunggu kejelasan dan pertanggungjawaban atas kematiannya.

Hingga kini, belum ada perkembangan berarti terkait penyelidikan independen yang selama ini diminta keluarga Eygi. Suaminya, Hamid Ali, mengatakan proses tersebut praktis masih berada di titik yang sama seperti ketika Eygi pertama kali tewas.

“Kami masih meminta hal yang sama, yaitu penyelidikan sebagai langkah pertama untuk mendapatkan keadilan,” kata Ali kepada Anadolu dari kediamannya di Seattle.

Eygi, warga negara Amerika Serikat dan Turki berusia 26 tahun, tewas pada 6 September 2024 ketika mengikuti aksi protes menentang perluasan permukiman Israel di Beita, dekat Nablus, Tepi Barat.

Militer Israel menyatakan Eygi terkena tembakan secara “tidak langsung dan tidak disengaja”. Israel berdalih pasukannya melepaskan tembakan ke arah demonstran yang disebut melempar batu dan menegaskan bahwa tembakan tersebut tidak ditujukan kepada Eygi.

Namun, keluarga Eygi dan sejumlah saksi membantah keterangan tersebut. Mereka menyatakan Eygi ditembak ketika mengikuti aksi damai.

Sebuah investigasi The Washington Post menemukan bahwa Eygi ditembak sekitar 20 menit setelah bentrokan berakhir. Saat itu, para demonstran disebut telah mundur lebih dari 182 meter dari posisi pasukan Israel.

Beberapa hari setelah penembakan, Menteri Luar Negeri AS saat itu, Antony Blinken, menyebut kematian Eygi sebagai tindakan yang “tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan”.

Meski demikian, dua tahun setelah kejadian, pemerintah Amerika Serikat belum membuka penyelidikan independen terhadap kematian Eygi. Washington justru menyerahkan proses tersebut kepada penyelidikan Israel yang hingga kini tidak menghasilkan temuan publik.

Ayah Eygi, Mehmet Suat Eygi, mengaku semakin pesimistis keluarganya akan memperoleh keadilan.

“Saya tidak terlalu berharap pada keadilan karena Amerika adalah pihak yang membiayai pembunuhan Aysenur. Karena itu, Amerika tidak dapat menyelidiki dirinya sendiri,” ujarnya.

Tidak Ada Perkembangan Berarti

Kasus Eygi menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas terkait warga negara Amerika Serikat yang tewas akibat tindakan pasukan Israel atau pemukim Israel.

Kelompok hak asasi manusia DAWN menyebut sedikitnya 14 warga negara AS telah tewas akibat tindakan pasukan Israel atau pemukim sejak 2003. Hingga kini, tidak satu pun kasus tersebut berujung pada penuntutan pidana.

Brad Parker, Wakil Direktur Kebijakan di Center for Constitutional Rights sekaligus bagian dari tim hukum yang mendampingi keluarga Eygi, mengatakan tidak terdapat perkembangan berarti selama dua tahun terakhir.

“Tidak ada perkembangan baru terkait penyelidikan, baik penyelidikan kriminal dari AS maupun langkah pertanggungjawaban lainnya yang berfokus pada pembunuhan Aysenur,” kata Parker.

Menurutnya, keluarga Eygi juga tidak memiliki keyakinan bahwa penyelidikan yang dilakukan Israel akan menghasilkan pertanggungjawaban yang berarti.

Parker membandingkan kasus tersebut dengan kematian jurnalis Palestina-Amerika Shireen Abu Akleh yang ditembak dan tewas pada Mei 2022. Kasus tersebut juga menuai sorotan internasional terkait pertanggungjawaban pasukan Israel.

Karena belum ada penyelidikan federal independen, keluarga Eygi kini memperluas perjuangan mereka ke negara bagian Washington, tempat Eygi tumbuh besar.

Sebuah resolusi peringatan yang menyerukan penyelidikan AS atas kematian Eygi sempat mendapat dukungan di parlemen negara bagian Washington tahun ini. Namun, resolusi tersebut gagal disahkan sebelum masa sidang legislatif berakhir.

Hamid Ali mengatakan dukungan anggota parlemen Washington terhadap upaya tersebut memberikan dorongan bagi keluarganya.

Menurutnya, kegagalan resolusi itu lebih disebabkan persoalan waktu dan dinamika politik di parlemen, bukan karena kurangnya dukungan terhadap tuntutan penyelidikan.

Eygi Menjadi Simbol Solidaritas Palestina

Di tengah perjuangan mendapatkan keadilan, keluarga dan sahabat Eygi juga berupaya menjaga warisannya tetap hidup.

Menjelang hari ulang tahunnya pada 27 Juli, sejumlah sahabat dan pendukung berkumpul di Seattle untuk membuat mural bergambar wajah Eygi. Mural tersebut dirancang oleh seniman James Hesketh.

Ali mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunitas sekaligus mengenang sosok Eygi.

Menurutnya, keluarga berharap warisan Eygi dapat menginspirasi masyarakat untuk percaya bahwa tindakan individu tetap memiliki arti.

Eygi kemudian dikenal sebagai simbol solidaritas terhadap Palestina dan penolakan terhadap kekerasan yang dialami warga Palestina.

Bagi ayahnya, dua tahun setelah kematian sang putri tidak membuat rasa kehilangan menjadi lebih ringan.

“Tidak mungkin terbiasa menjalani hidup tanpa Aysenur. Dia selalu ada dalam pikiran kami, setiap detik,” ujarnya.

Ia mengatakan keluarganya tetap bangga melihat Eygi dikenang sebagai simbol solidaritas kepada rakyat Palestina.

Namun, menurutnya, satu hal yang belum berubah adalah keadilan yang belum terwujud.

“Pada akhirnya, keadilan belum ditegakkan. Yang tersisa bagi kami adalah kehidupan tanpa Aysenur,” katanya.

Anadolu kemudian meminta tanggapan Departemen Luar Negeri AS mengenai apakah Washington mendukung penyelidikan independen atas kematian Eygi, mengingat penyelidikan Israel belum menghasilkan pertanggungjawaban.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa keselamatan dan keamanan warga Amerika merupakan prioritas utama pemerintah.

Menurut pernyataan tersebut, Kedutaan Besar AS di Yerusalem tetap berkomunikasi dengan keluarga Eygi dan pemerintah Israel selama proses penyelidikan berlangsung.

Departemen Kehakiman AS tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Militer Israel juga tidak memberikan respons.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Turki menyebut kematian Eygi sebagai “pembunuhan yang dilakukan oleh pemerintahan Netanyahu”. Jaksa Turki juga telah membuka penyelidikan sendiri atas kematian warga negara Turki-Amerika tersebut.

Kini, ketika keluarga Eygi memasuki tahun ketiga sejak kematiannya tanpa adanya penyelidikan independen dari Amerika Serikat, mereka bersiap melanjutkan perjuangan dalam jangka panjang.

Hamid Ali mengatakan keluarganya telah menyusun strategi jangka panjang, tidak hanya untuk memperjuangkan warisan Eygi, tetapi juga membantu keluarga lain yang mungkin menghadapi situasi serupa.

“Kami telah mengembangkan strategi jangka panjang dan apa yang ingin kami lakukan untuk Aysenur, untuk warisannya, tetapi juga membantu orang lain yang mungkin berada dalam situasi serupa,” ujarnya. (cky)

Ahmad Tasori
Ahmad Tasori
Aktif sebagai koresponden jurnalis iNews dan bagian dari jaringan MNC Group yang memiliki pengalaman dalam peliputan berbagai isu nasional, keagamaan, dan internasional. Berpengalaman meliput penyelenggaraan ibadah haji di Makkah serta isu Palestina dan Gaza. Pada 2025, pernah melaporkan langsung dari Tunis, Tunisia, mengenai misi Global Freedom Flotilla menuju Gaza.
ARTIKEL TERKAIT

Terkini