Baru 17 persen kebutuhan perlengkapan hunian musim dingin terpenuhi, sementara pasokan tertahan pembatasan Israel
GAZA CITY — Badan Migrasi PBB (IOM) menyatakan hampir seluruh penduduk Jalur Gaza membutuhkan tenda atau bantuan hunian menjelang musim dingin. Pasokan masih langka akibat pembatasan otoritas Israel. Pernyataan itu disampaikan IOM pada Jumat (9/10/2026), saat fenomena cuaca El Niño diperkirakan membawa curah hujan lebih tinggi ke wilayah tersebut.
Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan hampir 2 juta orang di Gaza membutuhkan bantuan. Namun baru sekitar 17 persen kebutuhan perlengkapan hunian musim dingin yang telah dipenuhi lembaga kemanusiaan.
“Keluarga yang telah berulang kali mengungsi dan mengalami kehilangan besar harus bisa menghadapi musim dingin dengan aman dan bermartabat,” kata Pope. Ia menyebut pembatasan dari otoritas Israel menyulitkan lembaga bantuan meningkatkan respons mereka.
Risiko banjir dan bangunan runtuh
Badan cuaca PBB menyebut El Niño tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat yang pernah tercatat. IOM menyatakan fenomena itu dapat memperlemah bangunan yang tidak aman dan memicu banjir, di tengah sistem drainase Gaza yang rusak berat.
Lebih dari separuh tenda dan hunian darurat di Gaza berada dalam kondisi buruk dan perlu diganti, menurut IOM. Pada Agustus, lebih dari 3.600 bangunan teridentifikasi berbahaya dan berisiko runtuh. Sekitar 1,8 juta orang tinggal di lokasi pengungsian, sebagian besar di kawasan rawan banjir.
Musim dingin tahun lalu, hujan deras membanjiri tenda-tenda pengungsi di Gaza, menurut laporan Vatican News pada 17 Desember 2025.
Material hunian tertahan
IOM menyatakan sekitar 8.600 paket hunian darurat, berisi kayu, terpal, dan bahan dasar lain, belum diizinkan masuk ke Gaza. Otoritas Israel mengategorikannya sebagai barang berguna ganda (dual-use) yang berpotensi dipakai untuk keperluan militer. IOM mengaku sudah bisa memasukkan sebagian terpal dan tenda, tetapi jumlahnya jauh dari cukup.
COGAT, lembaga militer Israel yang mengatur arus bantuan ke Gaza, belum menanggapi permintaan komentar Reuters. Israel selama ini menyebut alasan keamanan atas pembatasan tersebut. Israel juga menyatakan rekonstruksi Gaza tidak dapat dimulai sebelum Hamas dilucuti.
Latar belakang
Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat berlaku sejak Oktober 2025 dan menghentikan pertempuran besar. Serangan militer Israel tetap berlanjut, yang menurut militer Israel bertujuan mencegah serangan Hamas dan kelompok bersenjata lain. Gaza kini terbagi antara wilayah yang dikuasai Israel dan wilayah yang dikuasai Hamas. Upaya yang dipimpin AS untuk mencapai kesepakatan menyeluruh, yang mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel, mandek akibat perbedaan soal tahapannya.
Kementerian Kesehatan Gaza, yang dikelola Hamas, mencatat lebih dari 74.200 orang tewas sejak 7 Oktober 2023, termasuk lebih dari 1.400 orang sejak gencatan senjata. Angka itu tidak membedakan warga sipil dan kombatan.
Sumber: Reuters dan The Times of Israel (9 Oktober 2026); Vatican News (17 Desember 2025).


