HomeBaitul MaqdisAnalisis – Saksi yang Ikut Dipukul: Serangan di Abu Falah dan Celah...

Analisis – Saksi yang Ikut Dipukul: Serangan di Abu Falah dan Celah Akuntabilitas Kekerasan Pemukim

Seorang jurnalis Amerika dihajar di kebun zaitun Tepi Barat pada 16 Oktober 2026. Peristiwa itu membuka pertanyaan yang lebih besar daripada satu insiden: siapa yang bertanggung jawab ketika kekerasan terhadap petani Palestina menjadi pola musiman?

Jumat pagi, 16 Oktober 2026, di kebun zaitun berteras dekat desa Abu Falah, timur laut Ramallah, puluhan pria bertopeng turun dari bukit menuju para petani Palestina yang sedang memanen. Ketika rombongan petani mundur, Heidi Levine, fotografer lepas Amerika berusia 64 tahun yang bertugas untuk The Washington Post, terkejar di belakang. Ia mengenakan rompi bertuliskan PRESS. Menurut kesaksian yang dikutip Reuters, CNN, dan sejumlah media lain, ia dijatuhkan, ditendang berulang kali, dan dirampas kamera serta ponselnya. Kepada wartawan di rumah sakit Ramallah, dengan tangan kiri diperban, Levine mengatakan ia ditendang kira-kira 50 kali. Pada hari yang sama, di Burqa dan Turmus Aya, kendaraan dan pohon zaitun dilaporkan dibakar dan warga terluka. Berita ini menembus layar dunia karena korbannya warga Amerika dengan tanda pers di dada. Pertanyaan yang lebih penting: apa yang terjadi pada serangan-serangan yang korbannya tidak punya rompi dan tidak punya redaksi yang menuntut penyelidikan?

Serangan di Abu Falah bukan peristiwa tunggal. Badan kemanusiaan PBB, OCHA, menyampaikan pada 15 Oktober bahwa serangan pemukim terkait musim panen yang menimbulkan korban atau kerusakan sudah mendekati 200 kasus tahun ini, melampaui 185 kasus sepanjang musim panen 2025. Sekitar 80 persen terjadi dalam dua pekan terakhir. Angka itu kita jadikan jangkar karena ia hanya menghitung insiden yang korban atau kerusakannya terdokumentasi.

Tulisan ini mengajukan satu tesis analitis: kekerasan pemukim di Tepi Barat bertahan bukan terutama karena kurangnya kecaman, melainkan karena celah akuntabilitas antara kecaman dan dakwaan. Tesis ini argumentatif. Ia tafsir atas data, bukan fakta tunggal, dan bukan pembenaran moral atas kekerasan terhadap warga sipil di pihak mana pun. Yang faktual kami tandai sumbernya; yang tafsir kami sebut tafsir. Kami juga memakai istilah “serangan terorganisasi pemukim” alih-alih “pogrom” yang dipakai Al Jazeera, sebab istilah itu diperdebatkan, sedangkan “terkoordinasi” adalah deskripsi yang dipakai Reuters dan lebih dekat pada apa yang bisa dibuktikan.

Pertanyaan intinya sederhana. Jika serangan terhadap jurnalis asing yang terekam kamera pun disambut pernyataan yang masih mempersoalkan siapa yang memulai, apa artinya bagi petani Palestina yang tidak punya kamera? Dan sebagai pembaca di Indonesia, apa yang realistis bisa kita lakukan dari jauh?

Yang Bisa Dipastikan dan yang Masih Diperdebatkan

Beberapa hal dikonfirmasi lintas sumber independen: serangan terjadi di Abu Falah pada 16 Oktober; Levine terluka dan dirawat di Ramallah; ia memakai rompi pers; peralatannya diambil; dan The Washington Post menuntut penyelidikan menyeluruh. Seorang warga Palestina juga ditembak di paha oleh tentara, menurut saksi yang berbicara kepada Al Jazeera dan kantor berita Wafa, dan foto Associated Press dari lokasi menggambarkan seorang pria Palestina terluka setelah ditembak tentara.

Yang diperdebatkan adalah skala dan urutan peristiwa. Rekaman yang diperoleh CBS memperlihatkan sekitar 20 pria bertopeng turun dari arah pos permukiman liar; Levine menyebut sedikitnya 50 penyerang; saksi yang dikutip media menyebut sekitar 80. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan fakta “belum jelas”, mengecam kekerasan terhadap siapa pun termasuk jurnalis, lalu merujuk laporan tentang sekitar 200 warga Arab dan aktivis sayap kiri yang menghadapi sekitar 40 pemuda Israel, dengan benda-benda dilempar dari kedua pihak. Rekaman yang dirujuk JTA memang memperlihatkan warga Palestina melempar batu, dan saksi Jasper Nathaniel mengatakan kepada CNN bahwa lemparan batu itulah yang mungkin menyelamatkan Levine dari kematian. Polisi telah membuka penyelidikan.

Pelajarannya ada dua. Pertama, klaim bahwa benda dilempar dari kedua pihak tidak dibantah oleh rekaman yang kami temukan, dan pembaca yang jujur perlu mengakuinya. Kedua, tidak satu pun versi yang kami temukan menuduh Levine sendiri menyerang siapa pun. Urutan lemparan batu, yang masih disengketakan, tidak mengubah fakta itu. Siapa yang memulai adalah pertanyaan sah bagi penyelidik; ia bukan jawaban bagi seorang wartawan yang sudah tergeletak.

Angka Menunjukkan Pola, dan Setiap Angka Punya Batasnya

Hitungan OCHA baku tetapi sempit. Pada 15 Oktober OCHA mencatat satu warga Palestina tewas, lebih dari 120 terluka, dan lebih dari 2.500 pohon atau bibit rusak dalam rangkaian serangan musim panen ini. Yesh Din, lembaga hak asasi manusia Israel, mencatat sedikitnya 170 serangan pemukim sejak 27 September, menurut Reuters. Xinhua melaporkan Yesh Din juga mendokumentasikan 377 insiden kekerasan pemukim dan tentara di 162 komunitas dalam dua pekan hingga 10 Oktober, termasuk 100 kasus pencurian hasil panen. Ketiganya menghitung hal berbeda dan tidak boleh dijumlahkan.

Untuk korban tewas, angkanya bergerak dan diperdebatkan. Kantor HAM PBB (OHCHR) menyebut 18 warga Palestina meninggal dalam serangan yang melibatkan pemukim hingga 20 Juli 2026. Otoritas Palestina menyebut sedikitnya 30 warga Palestina dibunuh pemukim tahun ini, per awal Oktober. Karena tanggal dan definisinya berbeda, yang jujur adalah membaca rentang 18 hingga lebih dari 30, bukan satu angka pasti; kami juga tidak menemukan rincian kasus untuk angka Otoritas Palestina itu.

Konteks tahunannya lebih berat. OCHA melaporkan hingga awal Juli lebih dari 3.200 warga Palestina terusir di Tepi Barat sepanjang 2026 akibat serangan pemukim dan pembongkaran rumah, rata-rata 17 orang per hari, dua kali lipat laju tiga tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, 16 anak Palestina tewas dan 187 terluka oleh pasukan atau pemukim. Enam belas anak yang gugur sebagai syuhada itu bukan tambahan statistik; mereka alasan mengapa angka-angka ini harus dibaca serius.

Pembaca juga perlu menimbang sisi lain data. Seorang pemukim ditembak mati warga Palestina pada September, dan Times of Israel mencatat 67 warga sipil dan personel keamanan Israel tewas dalam serangan di Israel dan Tepi Barat sejak 7 Oktober 2023. Kekerasan terhadap warga sipil Israel adalah fakta. Ia tidak membatalkan pola di atas, dan pola di atas tidak membatalkan ia.

Pola yang berulang dan meningkat adalah fakta yang terukur; apa yang menggerakkannya adalah tafsir, dan keduanya perlu dipisahkan.

Panen Zaitun Adalah Ekonomi sekaligus Teritori

OHCHR memperkirakan, dalam pernyataan Oktober 2025, hingga 100.000 keluarga Palestina bergantung pada panen zaitun. Otoritas Palestina menyebut lebih dari 45.000 pohon, termasuk 26.000 pohon zaitun, ditebang atau dirusak pada semester pertama 2026, kata Reuters. OCHA mencatat banyak komunitas memetik lebih awal tahun ini untuk mengurangi risiko. Seorang petani berusia 64 tahun di dekat Rantis mengatakan kepada Reuters bahwa ia hanya bisa mencapai kebunnya bersama aktivis pendamping.

Tafsir kami: pada titik ini kekerasan terhadap panen lebih dari sekadar kriminalitas. Ketika petani tak bisa mengakses tanahnya, hasil panen dicuri, dan komunitas akhirnya pergi, seperti 600 warga Badui Ras Ein al-Auja di Lembah Yordan yang terusir seluruhnya pada Januari 2026 menurut OCHA, hasilnya secara efektif adalah perubahan penguasaan tanah, apa pun niat para pelakunya. Koresponden Al Jazeera menyimpulkan bahwa intimidasi ini menciptakan tekanan agar warga pergi; itu penilaian analitis, bukan temuan yudisial.

Ada nuansa yang tidak boleh hilang. Menurut Jerusalem Post, sumber di Komando Pusat militer rezim Zionis menyebut upaya pemukim memanen di lahan yang dilarang bagi petani Palestina sebagai hal yang sama sekali tidak dapat diterima, dan menilai musim panen ini bisa menjadi yang paling keras. Sumber yang sama menyebut penjarahan dan pencurian sebagai pemicu kekerasan. Pengakuan itu penting, tetapi pengakuan bukan pencegahan: Yesh Din mencatat tentara hadir di sedikitnya 44 insiden terkait panen dalam dua pekan.

Kecaman Datang Cepat, Dakwaan Belum Terlihat

Tiga bulan terakhir memperlihatkan pola yang konsisten. Setelah serangan atas Qusra dan Jalud pada akhir Agustus, Netanyahu mengecam “segelintir perusuh”, Presiden Isaac Herzog ikut mengecam, dan Kementerian Luar Negeri menyebutnya aib. Setelah lebih dari 100 orang menyerbu Jalud pada 29 September, melukai tiga personel keamanan dan membakar dua rumah Palestina, Herzog menyebutnya noda moral, sementara polisi menahan satu orang dan memeriksa dua anak di bawah umur. Duta Besar Amerika Mike Huckabee, sekutu lama gerakan permukiman, pada Agustus menyebut pengepungan rumah keluarga Palestina-Amerika di Qusra sebagai tindakan teror yang mengerikan.

Kecaman dari dalam, termasuk dari presiden dan militer, bukan hal sepele; ia menunjukkan kekerasan ini tidak dibela secara bulat di Israel. Kantor Perdana Menteri juga menegaskan bahwa insiden yang diperdebatkan tidak boleh dipakai untuk menjelekkan ratusan ribu warga Yahudi di Tepi Barat yang taat hukum. Poin itu sah secara prinsip: tanggung jawab pidana bersifat individual, bukan kolektif. Namun pernyataan itu hadir bersama keraguan atas peristiwa yang terekam video, dan itu memperlihatkan refleks kelembagaan: kecaman bersyarat lebih dulu, penyelidikan kemudian.

Kecaman yang cepat dan dakwaan yang lambat adalah dua hal berbeda. Hanya yang kedua yang mengubah perhitungan pelaku berikutnya.

Soal peran aparat, bukti masih berupa klaim yang harus diuji. AFP menyatakan pasukan keamanan tidak berusaha mencegah pemukim bersenjata memukuli fotografernya, Jaafar Ashtiyeh (58), dengan popor senapan pada 6 Oktober di dekat Aqraba, dan AFP telah meminta tanggapan militer. Di Abu Falah, saksi menyebut tentara datang setelah serangan lalu menembaki warga Palestina; dalam sumber yang kami telusuri belum ada tanggapan militer atas klaim itu. Haaretz, dikutip Al Jazeera, melaporkan pemerintahan Trump menimbang sanksi atas unit militer dan daftar hitam perwira, tetapi menahannya hingga setelah pemilu Israel dan pemilu sela Amerika. Laporan itu belum dikonfirmasi pejabat dan sebaiknya dibaca hati-hati.

Hukum Sudah Bicara; Penegakannya Belum

Pada 19 Juli 2024, Mahkamah Internasional (ICJ) dalam opini penasihatnya menyatakan kehadiran rezim Zionis di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Al-Quds Timur, melanggar hukum (11 suara berbanding 4), dan bahwa rezim itu wajib menghentikan seketika aktivitas permukiman baru serta memindahkan para pemukim (14 berbanding 1). Mahkamah juga menyatakan negara lain tidak boleh mengakui situasi itu atau membantu mempertahankannya (12 berbanding 3).

Opini penasihat tidak mengikat secara hukum, dan empat hakim berbeda pendapat soal kesimpulan utamanya. Kekuatannya terletak pada beban moral dan dasar bagi langkah negara-negara. Inggris, misalnya, kini memimpin sanksi atas produk permukiman, menurut AFP. Indonesia ikut dalam pernyataan delapan menteri luar negeri pada 19 Juni 2026 yang mengecam kekerasan pemukim, dan Wakil Menlu Arrmanatha Nasir pada 5 Agustus di Amman mendesak penegakan hukum internasional dan putusan ICJ. Pada Februari, Kemlu menegaskan bahwa keterlibatan dalam pasukan stabilisasi internasional di Gaza tidak mengubah sikap bahwa perluasan permukiman melanggar hukum internasional. Pertanyaannya kini: bagaimana konsistensi itu diuji, bukan sekadar dinyatakan?

Pemilu 27 Oktober Mempercepat, Bukan Menciptakan

Israel menggelar pemilu pada 27 Oktober. Al Jazeera melaporkan para menteri menjadikan peresmian permukiman sebagai acara kampanye dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyerukan tentara untuk “berperang” di Tepi Barat; Haaretz, lewat Al Jazeera, melaporkan menteri dan anggota Knesset hadir pada pendirian permukiman baru Metzoke Eretz pada 23 September.

Tafsir kami: insentif politik menjelang pemilu menurunkan biaya politik membiarkan kekerasan, tetapi tidak cukup menjelaskannya. OCHA mencatat musim panen 2025 sudah menjadi yang terburuk sejak 2020, dan Maret 2026 mencatat jumlah korban luka akibat pemukim tertinggi per bulan sejak pencatatan dimulai pada 2006, jauh sebelum kampanye. Pemilu adalah akselerator, bukan penyebab tunggal. Kami juga tidak menemukan bukti bahwa pergantian pemerintahan otomatis menghentikan ekspansi permukiman. Jajak pendapat menunjukkan Netanyahu menghadapi pertarungan berat, tetapi menggantungkan harapan pada hasil pemilu adalah asumsi yang perlu diuji, bukan diterima.

Jika serangan yang terekam kamera dan menimpa warga Amerika pun belum tentu berujung dakwaan, jangan heran bila serangan yang tak terekam jarang sampai ke pengadilan.

Yang Tersisa untuk Kita Lakukan

Dari jauh, tindakan yang realistis adalah yang dampaknya bisa diperiksa.

  1. Salurkan bantuan lewat lembaga yang menjelaskan jalurnya. OCHA mencatat lebih dari 2.500 pohon atau bibit rusak musim ini, dan Otoritas Palestina menghitung lebih dari 45.000 pohon pada semester pertama 2026. Sebelum berdonasi lewat INH, BAZNAS, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Adara Foundation, MER-C, atau Sahabat Al-Aqsha, tanyakan terbuka apakah mereka punya program di Tepi Barat (bukan hanya Gaza), siapa mitra lokalnya, dan kapan laporan penyalurannya terbit.
  2. Bagikan laporan bersumber, bukan video tanpa konteks. Dalam sepuluh hari, dua jurnalis dipukuli: Jaafar Ashtiyeh pada 6 Oktober dan Heidi Levine pada 16 Oktober. Rujuk laporan AFP, Reuters, dan OCHA, cantumkan tanggal serta lokasi, dan tandai bagian yang masih diperdebatkan seperti jumlah penyerang. Itu bukan sikap netral; itu cara membuat pembelaan kita sulit dibantah. Pantau hasil penyelidikan polisi atas serangan 16 Oktober dan pertanyakan bila tak ada kabar.
  3. Tuntut agar kecaman diplomatik berubah menjadi langkah. Kirim surat atau aspirasi ke Kemlu dan Komisi I DPR agar Indonesia secara eksplisit mendukung pelaksanaan opini ICJ 19 Juli 2024, termasuk kewajiban tidak mengakui dan tidak membantu, serta langkah seperti sanksi produk permukiman yang dipimpin Inggris. Minta tanggapan resmi atas serangan 16 Oktober, dan catat sikap pemerintah setelah pemilu 27 Oktober dan pemilu sela Amerika pada November, dua titik yang menurut laporan Haaretz menahan pertimbangan sanksi Washington.

Kita tahu seorang fotografer dipukuli di Abu Falah pada 16 Oktober. Kita tahu seorang warga Burqa berusia 44 tahun, yang menurut Anadolu dan Mondoweiss juga anggota pasukan keamanan Palestina, tewas pada 7 Oktober saat panen; militer menyatakan tentara dan pemukim sama-sama menembak, dan Reuters mencatat belum jelas siapa yang membunuhnya. Kita tahu seorang fotografer AFP dipukul popor senapan pada 6 Oktober. Kita tahu sebuah desa diserbu lebih dari seratus orang pada 29 September.

Kita belum tahu apakah penyelidikan polisi akan berujung dakwaan. Kita belum tahu siapa yang menembak di Burqa. Kita belum tahu apakah pemerintahan yang terbentuk setelah 27 Oktober akan mengubah apa pun. Kita belum tahu apakah sanksi yang dilaporkan sedang dipertimbangkan akan benar-benar dijatuhkan.

Yang juga kita tahu: di bawah pohon-pohon itu ada keluarga yang menunggu musim panen untuk menutup biaya setahun, dan ada warga sipil di pihak lain yang berhak hidup tanpa serangan. Tulisan ini berpihak pada hak petani Palestina atas tanah dan keselamatannya, dan sikap itu tidak mensyaratkan menutup mata pada kekerasan terhadap warga sipil Israel maupun pada kelemahan kita sendiri dalam memeriksa sumber.

Seorang jurnalis berompi PRESS tertolong karena orang-orang yang kebunnya sedang diserang berbalik melindunginya. Jika kamera, rompi, dan perhatian dunia pun belum menjamin keselamatan, siapa yang akan melindungi petani yang tidak punya ketiganya, dan akankah penyelidikan kali ini berujung pada nama-nama di kursi terdakwa?

ARTIKEL TERKAIT

Terkini