GAZA CITY — Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas menyatakan 1.488 orang tewas dan 5.281 lainnya terluka akibat serangan dan tembakan militer Israel di Jalur Gaza sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025. Data itu dirilis Minggu (11/10/2026), tepat satu tahun setelah kesepakatan dimulai, saat serangan udara Israel masih terjadi di wilayah tengah Gaza.
Kementerian menyebut jumlah korban tewas sejak perang dimulai kini mencapai 74.377 orang. Data kementerian tidak membedakan korban sipil dan kombatan.
Serangan Udara di Gaza Tengah
Fotografer kantor berita AP merekam warga Palestina memeriksa bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Zawaida, Gaza tengah, Sabtu malam (10/10). Rincian korban dalam serangan itu belum dapat dikonfirmasi dari sumber yang diperiksa.
Militer Israel (IDF) dan Shin Bet dalam pernyataan bersama, Minggu, mengatakan telah menghancurkan sejumlah infrastruktur militer Hamas di berbagai wilayah Gaza dalam 24 jam terakhir. Sasarannya disebut mencakup tiga gudang senjata, satu lokasi peluncuran roket di kawasan al-Furqan, Gaza City, dan satu pusat pemantauan di wilayah Daraj dan Tuffah. IDF menyatakan telah memberi peringatan sebelum serangan dan menggunakan amunisi presisi untuk mengurangi risiko terhadap warga sipil.
Pada hari yang sama, IDF menyatakan pasukannya menewaskan seorang warga Palestina yang melintasi “Garis Kuning”, garis pemisah wilayah gencatan senjata, di Gaza selatan. IDF menilai orang tersebut menimbulkan ancaman langsung.
Pembatasan Respons dan Posisi AS
IDF membenarkan serangan selama gencatan senjata dengan alasan pihak yang disasarnya merencanakan serangan terhadap pasukan Israel di Gaza. Menurut The Times of Israel, Amerika Serikat telah meminta Israel hanya merespons ancaman yang akan segera terjadi demi memajukan rencana pelucutan senjata Hamas, tetapi Israel sebagian besar tidak mengikuti permintaan itu. Gaza saat ini masih terbagi menjadi wilayah yang dikuasai Israel dan wilayah yang dikuasai Hamas.
Kebutuhan Musim Dingin Belum Terpenuhi
Di tengah situasi keamanan tersebut, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB pada Jumat (9/10) menyatakan hampir seluruh penduduk Gaza membutuhkan tenda atau bantuan tempat tinggal menjelang musim dingin. Fenomena cuaca El Niño diperkirakan membawa hujan lebih deras dan berisiko memperlemah bangunan yang rusak serta memicu banjir karena sistem drainase yang hancur.
IOM mencatat pasokan yang tersedia baru memenuhi sekitar 17 persen kebutuhan tempat tinggal musim dingin. Sekitar 8.600 paket perlengkapan tempat tinggal darurat belum diizinkan masuk karena otoritas Israel menggolongkannya sebagai barang berguna ganda (dual-use). Israel menyebut pembatasan itu didasari alasan keamanan.
“Keluarga yang sudah berulang kali mengungsi dan kehilangan begitu banyak harus bisa menghadapi musim dingin dengan aman dan bermartabat,” kata Direktur Jenderal IOM Amy Pope dalam keterangan di Jenewa, sebagaimana dikutip Reuters.


