HomeAnalisis dan OpiniPakta Mecca Tak Ada Artinya bagi Palestina Jika Gaza Hanya Jadi Catatan...

Pakta Mecca Tak Ada Artinya bagi Palestina Jika Gaza Hanya Jadi Catatan Kaki

Pada 7 Agustus 2026, di kota tersuci umat Islam, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan meneken Perjanjian Pertahanan Bersama Mecca: serangan terhadap salah satunya dianggap serangan terhadap ketiganya. Dua bulan kemudian, dunia memperingati setahun gencatan senjata Gaza, dan nyaris tak ada yang layak dirayakan. Pasukan Israel, yang menurut kesepakatan boleh bertahan di 53 persen wilayah Gaza, kini dilaporkan menguasai sekitar 70 persen. Serangan Israel telah menewaskan sekitar 1.450 warga Palestina sejak gencatan berlaku, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang angkanya dinilai akurat oleh PBB. Aliansi baru mungkin masuk akal bagi para penandatangannya, tetapi tak ada payung pertahanan yang bisa menggantikan kemerdekaan dan kedaulatan penuh Palestina. Aliansi yang menempatkan Gaza sebagai catatan kaki hanya akan memperpanjang status quo.

Konteks

Pakta ini lahir di tengah perang Amerika Serikat–Iran yang menyeret negara-negara Teluk, ditambah konflik Yaman yang kembali memanas. Di Gaza, rencana 20 butir yang melahirkan gencatan Oktober 2025 menjanjikan penarikan pasukan Israel secara bertahap, pemerintahan transisi, dan pasukan keamanan internasional. Menurut laporan AP, butir-butir itu, termasuk rekonstruksi, macet.

Pakta untuk ancaman yang berbeda-beda

Menlu Turki Hakan Fidan sendiri mengakui bahwa pakta ini tidak menyebut ancaman bersama. Itu kejujuran sekaligus kelemahan. Seperti ditulis analis Osman Sert di Middle East Eye, tiap anggota harus mengelola risiko yang tidak langsung mengancam anggota lainnya. Analis lain mencatat Riyadh lebih cemas pada Iran, sedangkan Ankara lebih cemas pada Israel. Nasib Palestina tidak tercantum sebagai mandat pakta. Berharap Mecca otomatis membela Gaza adalah salah baca.

Perang kawasan menggeser Gaza

Pada 8 Oktober, Fidan menyatakan Israel menghalangi pelaksanaan rencana damai Gaza, dan perang di Teluk mengganggu upaya diplomasi untuk wilayah itu. OCHA sejak April memperingatkan bahwa perhatian dunia merosot, sementara pembatasan Israel menghambat masuknya bantuan dan pekerja kemanusiaan. Ironisnya, perang yang menjadi alasan lahirnya pakta ini juga yang menenggelamkan Gaza dari agenda. Penderitaan di sana tidak berhenti hanya karena kamera berpindah: otoritas kesehatan Gaza mencatat korban tewas sejak Oktober 2023 telah melampaui 73.000 jiwa, dan mayoritas penduduk masih hidup dalam pengungsian.

Retorika bukan kapasitas

Sert juga mengkritik label “NATO Islam” untuk pakta yang rinciannya belum jelas, serta mengingatkan bahwa krisis ekonomi dan keterbatasan legitimasi politik di dalam negeri Turki membatasi ambisi semacam itu. Pelajarannya bagi gerakan solidaritas: simbol, nama kota suci, dan hitungan jumlah tank tidak membuka satu pun gerbang bantuan. Palestina sudah terlalu lama diberi simbol. Yang dibutuhkan adalah langkah terukur: akses kemanusiaan tanpa hambatan dan tekanan nyata agar pasukan Israel kembali ke garis yang telah disepakati.

Mengakui kompleksitas

Adil pula mengakui gambaran ini tidak sederhana. Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan membawa 251 orang sebagai sandera; seluruh sandera yang masih hidup dibebaskan pada Oktober 2025. Israel mencatat setahun tanpa serangan roket dari Gaza dan menyebut empat tentaranya tewas sejak gencatan. Para penandatangan pakta pun punya kekhawatiran keamanan yang nyata. Namun pengakuan atas penderitaan semua pihak tidak membenarkan pendudukan berkepanjangan, hukuman kolektif, atau perluasan kendali wilayah melampaui isi kesepakatan. Keamanan satu bangsa tidak bisa dibangun di atas ketiadaan kedaulatan bangsa lain.

Hukum sudah bicara, kemauan yang absen

Pada 2024, Mahkamah Internasional (ICJ) menyatakan kehadiran Israel di wilayah pendudukan Palestina melanggar hukum, dan Majelis Umum PBB menuntut pendudukan itu diakhiri dalam 12 bulan. Tenggat tersebut lewat tanpa konsekuensi berarti. Di titik inilah aliansi seperti Mecca bisa bermakna, bukan lewat deklarasi, melainkan lewat daya tawar ekonomi, diplomatik, dan industri pertahanan yang menurut Ankara akan diperdalam. Turki sendiri menyatakan tengah mengupayakan surat perintah penangkapan internasional terhadap Netanyahu terkait pencegatan armada bantuan ke Gaza. Ujiannya sederhana: apakah kekuatan baru ini dipakai untuk menegakkan hukum yang sudah ada? Media pun punya tugas, yaitu menjaga agar Gaza tidak hilang di balik berita perang Teluk dan manuver aliansi.

Penutup

Pakta Mecca boleh jadi menjawab kebutuhan keamanan para penandatangannya. Tetapi bagi Palestina, ukurannya bukan seberapa besar armada tank di atas kertas, melainkan apakah blokade dibuka, pendudukan diakhiri, dan rakyat Palestina menentukan nasibnya sendiri di negara yang berdaulat penuh. Kemerdekaan bukan hadiah penghibur dan bukan konsesi bertahap, melainkan hak. Maka pertanyaan yang patut kita ajukan kepada aliansi mana pun, termasuk yang memakai nama kota suci, adalah: apa yang kalian lakukan untuk Palestina hari ini? Tagih jawabannya, jaga agar Gaza tetap di halaman depan, dan dukung lembaga kemanusiaan yang kredibel selagi tekanan politik dibangun.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini