GAZA CITY — Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan pada Rabu (21/10/2026) bahwa pasokan oli untuk mengoperasikan generator listrik rumah sakit di Jalur Gaza telah habis. Kementerian menyebut kondisi itu mengancam kerusakan mesin seketika pada generator yang tersisa dan pemadaman listrik di unit-unit perawatan penyelamat nyawa.
Menurut kementerian, generator yang masih berfungsi sudah beroperasi dalam kondisi teknis dan mekanis yang rumit. Jika generator berhenti, aliran listrik ke sejumlah departemen vital akan terputus.
Kebutuhan oli dan solusi darurat
Kementerian menyatakan rumah sakit membutuhkan lebih dari 2.500 liter oli per bulan agar generator tetap menyala. Pasokan darurat dalam jumlah terbatas yang masuk sebelumnya, kata kementerian, tidak memperpanjang usia operasi generator.
Jam operasi yang panjang tanpa henti juga menaikkan konsumsi oli, sementara perawatan mendesak belum dilakukan. Kementerian menyerukan komunitas internasional dan semua pihak terkait segera memastikan masuknya oli dan suku cadang.
Rumah sakit bergantung pada generator
Rumah sakit di Gaza mengandalkan generator karena infrastruktur kelistrikan rusak. Masalah pasokan ini bukan yang pertama. Pada 16 September, seorang pejabat kementerian bernama al-Wahidi menyatakan lebih dari 70 persen generator utama rumah sakit sudah tidak beroperasi. Ia mengaitkannya dengan pembatasan Israel atas bahan bakar, oli mesin, dan suku cadang.
Pada 7 Oktober, Rumah Sakit Al-Awda di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, mengumumkan penghentian layanan medis akibat kekurangan bahan bakar generator dan suku cadang, menurut dokumentasi Anadolu Agency.
Dalam pernyataan 9 Oktober, kementerian menyebut tak satu pun dari 36 rumah sakit di Gaza beroperasi dengan kapasitas penuh. Dalam penelusuran redaksi, belum ditemukan tanggapan resmi Israel atas peringatan terbaru maupun pernyataan al-Wahidi.
Korban jiwa di tengah gencatan senjata
Pada hari yang sama, kementerian melaporkan tujuh jenazah dan 24 korban luka tiba di rumah sakit dalam 24 jam terakhir akibat tembakan Israel. Sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025, kementerian mencatat 1.534 warga Palestina tewas dan 5.486 terluka. Sebanyak 841 jenazah ditemukan dari bawah reruntuhan dalam periode yang sama.
Kementerian menambahkan, sebagian korban masih tertimbun atau berada di jalan yang tidak dapat dijangkau ambulans dan tim penyelamat.
Total korban sejak 7 Oktober 2023, menurut data kementerian, mencapai 74.494 tewas dan 175.604 terluka. Seluruh angka dalam dua paragraf terakhir berasal dari kementerian dan belum diverifikasi secara independen.


