GAZA CITY — Pada 25 Januari 2006, Hamas memenangi 74 dari 132 kursi Dewan Legislatif Palestina. Dalam beberapa bulan berikutnya Israel menahan pendapatan pajak Otoritas Palestina, Amerika Serikat menangguhkan bantuan, dan perlintasan Karni, jalur utama barang komersial Gaza, sempat ditutup sejak Februari. Dua puluh tahun kemudian, UNCTAD menyebut ekonomi Gaza berada dalam krisis ekonomi paling parah yang pernah tercatat di dunia.
Penutupan yang lebih tua dari pemilu
Pembatasan atas Gaza tidak dimulai pada 2006. Gisha, lembaga Israel yang mengadvokasi kebebasan bergerak warga Palestina, menelusuri awal penutupan bertahap ke 1991, ketika Israel membatalkan izin keluar umum bagi warga Palestina.
UNCTAD mencatat PDB per kapita Gaza setara dengan Tepi Barat pada 1994, lalu turun menjadi 44 persen pada 2007. Maret 2006 menjadi titik lain: Israel berhenti mengizinkan pekerja Palestina masuk ke Israel, menurut catatan OCHA. Pemilu dan pengambilalihan 2007 karena itu lebih tepat disebut pengetatan, bukan awal penutupan.
2006–2007: dari sanksi ke blokade
Pada 25 Juni 2006, pejuang Palestina menangkap prajurit Israel Gilad Shalit. Tiga hari kemudian Israel membom satu-satunya pembangkit listrik Gaza. Pada 9 Juni 2007 Mesir menutup Rafah untuk publik, tiga hari kemudian Israel menutup Karni, dan pada pertengahan Juni Hamas menguasai Gaza setelah bentrokan dengan Fatah. September 2007, Israel menyatakan Gaza “entitas musuh” dan membatasi pasokan bahan bakar serta listrik.
Tujuan yang dinyatakan Israel adalah menghentikan serangan roket, membatasi kemampuan Hamas memerintah, dan membebaskan Shalit. Dampak ekonominya cepat terlihat. Menurut UNDP, median penjualan bulanan per usaha turun dari 18.500 dolar AS sebelum Januari 2006 menjadi 3.000 dolar pada Desember 2007.
Ekonomi terowongan
Penutupan melahirkan ekonomi bawah tanah. Terowongan di perbatasan Rafah memasok pangan, bahan bakar, bahan bangunan, dan mesin. Estimasi pangsanya bervariasi: sekitar 30 persen dari seluruh barang yang masuk menurut laporan Israel Radio, hingga 50 persen menurut Christian Science Monitor.
Pada Juli 2013, setelah militer Mesir menggulingkan Presiden Morsi, seorang pejabat PBB menyatakan sekitar 80 persen terowongan tidak lagi berfungsi. Menteri ekonomi Hamas menyebut kerugian sekitar 230 juta dolar sejak Juni 2013, atau sepersepuluh PDB. Mesir dan Israel menyatakan terowongan juga dipakai untuk menyelundupkan senjata.
Pelonggaran terbatas, perang berulang
Setelah serangan Israel atas armada Mavi Marmara pada Mei 2010, Israel melonggarkan masuknya barang konsumsi. Daftar barang “dua guna” yang disusun pada 2008 baru dipublikasikan pada 2010, dan bahan bangunan tetap dibatasi.
Perang musim panas 2014 mengurangi PDB Gaza sekitar 460 juta dolar menurut Bank Dunia. Output konstruksi turun 83 persen pada semester kedua 2014. Rekonstruksi berjalan lewat Mekanisme Rekonstruksi Gaza (GRM) yang membatasi bahan “dua guna”. Pada 2015, Bank Dunia menyebut blokade, perang, dan tata kelola yang buruk telah menekan ekonomi Gaza, dengan pengangguran tertinggi di dunia dan pengangguran pemuda di atas 60 persen.
Menurut klaster penampungan PBB, lebih dari 157.000 unit rumah rusak pada 2014. Setahun kemudian, pembangkit listrik Gaza berhenti total pada 20 Juli 2015 karena kekurangan bahan bakar, dan pemadaman listrik mencapai hingga 18 jam per hari. Kontraktor Gaza mengkritik GRM sebagai mekanisme yang lamban, sementara Bank Dunia menyebut kurang dari separuh dana donor yang dijanjikan telah dicairkan.
Data OCHA 2019 menunjukkan ekspor rata-rata 262 truk per bulan, 73 persen di bawah rata-rata semester pertama 2007. Impor rata-rata 8.597 truk per bulan, 23 persen di bawah level itu, sementara penduduk naik 42 persen, dari 1,4 juta menjadi 1,99 juta jiwa. UNCTAD pada 2020 memperkirakan blokade merugikan Gaza 16,7 miliar dolar dalam lebih dari satu dekade.
Menjelang 2023 dan sesudahnya
Pada 2007–2022 PDB Gaza hanya tumbuh 1,1 persen, sedangkan penduduk bertambah 61 persen. PDB per kapita turun 37 persen, dari 1.994 dolar (2006) menjadi 1.257 dolar (2022). Pangsa Gaza dalam ekonomi Palestina menyusut dari 31 persen menjadi 17,4 persen. Pengangguran mencapai 45 persen pada 2022, dan UNCTAD menyebut sekitar 80 persen penduduk bergantung pada bantuan.
Perang sejak Oktober 2023 mengubah kemerosotan itu menjadi keruntuhan. PDB Gaza turun 24 persen pada 2023 dan 83 persen pada 2024, menjadi 362 juta dolar. Bank Dunia mencatat PDB 2025 naik lebih dari 30 persen, tetapi menyebutnya efek basis rendah, bukan pemulihan.
UNCTAD mencatat PDB per kapita Gaza 2025 sebesar 212 dolar, 17 persen dari level 2022. Sebanyak 92 persen unit usaha rusak atau hancur. Output pertanian dan industri turun 94 persen, konstruksi 99 persen. Hanya 123.300 orang bekerja, dan harga 274 persen di atas level 2022. Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi diperkirakan sekitar 71,5 miliar dolar.
Oktober 2026
Gencatan senjata berlaku sejak Oktober 2025, tetapi pasokan masih bergantung pada keputusan di perlintasan. OCHA mencatat harga pangan September 2026 rata-rata 204 persen di atas level sebelum Oktober 2023.
COGAT menyatakan kebutuhan Gaza sekitar 250 truk per hari. Kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat, menurut laporan Times of Israel yang dikutip media lain, menetapkan sekitar 600 truk per hari. Pedagang swasta membawa sekitar separuh dari seluruh truk, menurut COGAT.
Pada 14 Oktober, badan militer Israel COGAT menghentikan masuknya barang komersial dengan alasan Hamas memungut 10.000 shekel per truk. Hamas menyebut pungutan itu sumbangan sukarela, dan pedagang menyangkal menghentikan pengiriman. Israel melanjutkan pengiriman secara bertahap pada 19 Oktober, dengan catatan keterangan pedagang belum diverifikasi independen.


