Friday, April 4, 2025
HomeAnalisis dan OpiniAnalis: Israel buat Gaza kelaparan untuk paksa penduduknya mengungsi

Analis: Israel buat Gaza kelaparan untuk paksa penduduknya mengungsi

Para ahli sepakat bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza telah mencapai tingkat bahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat blokade ketat yang diberlakukan oleh pendudukan Israel.

Mereka menegaskan bahwa Israel berupaya memanfaatkan tekanan luar biasa terhadap wilayah tersebut untuk memaksakan realitas politik baru.

Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan pada hari Kamis bahwa lebih dari separuh penduduk Gaza hidup di bawah perintah evakuasi dari Israel.

Sementara itu, organisasi bantuan internasional memperingatkan bahwa penduduk terancam mengalami kelaparan parah di tengah terhentinya pengiriman bantuan kemanusiaan.

Dalam konteks ini, peneliti dan aktivis kemanusiaan, Dr. Utsman Al-Samadi, menggambarkan kondisi saat ini sebagai belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam wawancara di program Masar Al-Ahdath, ia menegaskan bahwa Gaza berada di bawah blokade total yang melumpuhkan akses ke seluruh kebutuhan dasar seperti air, makanan, dan obat-obatan.

Serangan harian yang terus-menerus, lanjutnya, juga menewaskan puluhan dan melukai ratusan orang.

Ia menekankan bahwa situasi ini tidak memiliki preseden dalam sejarah modern dalam hal kekejaman dan kebrutalannya dalam pembersihan etnis dan genosida.

Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, Dr. Mustafa Barghouti, sependapat dengan Al-Samadi. Ia menyatakan bahwa Gaza sedang mengalami tahap penderitaan yang sangat luar biasa.

Barghouti menambahkan bahwa kondisi saat ini di Gaza adalah yang paling berbahaya, tidak hanya sejak dimulainya perang ini, tetapi sejak Nakba tahun 1948.

“Kita menyaksikan kelaparan yang mengerikan secara terang-terangan di hadapan dunia, serta pembunuhan dan kematian tanpa penghormatan terhadap kehidupan manusia,” katanya.

Menurut Barghouti, tujuan strategis dari tindakan Israel saat ini adalah untuk memaksa seluruh penduduk Gaza mengungsi ke kamp-kamp penahanan yang dikendalikan oleh Israel.

Lalu, katanya, Israel menciptakan kondisi mengerikan yang memaksa mereka menerima pembersihan etnis.

Ia juga mengungkapkan bahwa Israel berniat menunjuk sebuah perusahaan swasta Amerika untuk mengelola seluruh barang yang masuk ke Gaza di bawah pengawasannya langsung.

Al-Samadi menambahkan bahwa kebijakan pengusiran berulang yang dilakukan Israel terhadap warga Gaza adalah bagian dari strategi yang disengaja untuk memperparah penderitaan mereka.

“Israel tidak hanya cukup dengan kelaparan, pembunuhan, dan kehausan, tetapi juga berusaha melemahkan penduduk secara fisik dan psikologis melalui pemindahan paksa yang terus-menerus, dengan tujuan akhir untuk memaksa mereka tunduk pada syarat dan rencana Israel,” tegasnya.

Bencana kemanusiaan

Sementara itu, Penjabat Kepala Kantor Media UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) di Gaza, Inas Hamdan, menyoroti tantangan besar yang dihadapi organisasi kemanusiaan di Gaza.

Ia menjelaskan bahwa lembaga-lembaga yang seharusnya menyediakan bantuan pangan, kesehatan, dan tempat tinggal.

Lembaga-lembaga itu juga harus mengurus para pengungsi dan warga yang mengungsi. Mereka kini menghadapi hambatan yang terus meningkat. Mulai dari memburuknya situasi keamanan hingga serangan langsung terhadap kantor dan fasilitas PBB.

Hamdan menyatakan bahwa organisasi kemanusiaan saat ini hanya beroperasi dengan kapasitas minimum.

Mereka bergantung pada sisa-sisa stok makanan, peralatan medis, dan bahan bakar yang tersisa di gudang mereka.

Mereka berupaya memenuhi kebutuhan dasar di tengah kebutuhan yang sangat besar, dengan lebih dari dua juta orang yang kekurangan segalanya.

Menurut Hamdan, indikator masa depan menunjukkan bencana yang akan segera terjadi.

Ia mengungkapkan bahwa 25 pabrik roti yang dikelola Program Pangan Dunia berada di ambang penghentian operasi karena kekurangan tepung dan bahan bakar, yang memperparah gambaran suram dari krisis ini.

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, menegaskan pada Kamis malam bahwa blokade terhadap Gaza setara dengan hukuman kolektif.

“Dan dapat dianggap sebagai penggunaan kelaparan sebagai senjata perang,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa Program Pangan Dunia hanya akan mampu mendistribusikan paket makanan terakhirnya dalam dua hari ke depan.

Sementara itu, Al-Samadi memperingatkan bahwa sumber air, sistem sanitasi, obat-obatan, bahkan sektor pertanian yang dulu menjadi urat nadi kehidupan penduduk, semuanya mengalami kerusakan serius akibat operasi militer yang terus berlanjut.

Kondisi ini telah membawa masyarakat ke titik di mana kebutuhan dasar kehidupan tak lagi tersedia.

Di sisi lain, Barghouti mengkritik keras sikap diam komunitas internasional dan regional. Ia menegaskan bahwa pengabaian terhadap Gaza semakin memburuk dari waktu ke waktu. Baik oleh negara-negara Arab maupun dunia internasional secara umum.

“Sampai kapan negara-negara Arab dan Islam akan tetap diam terhadap tragedi ini? Apakah tidak mungkin 56 negara Arab dan Islam bergerak bersama dan menyatakan pembebasan Gaza dari blokade?” kecamnya.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular