Telaah atas penderitaan yang jarang masuk berita utama — melahirkan tanpa bius, mengelola haid tanpa air, dan memikul seluruh keluarga di atas pundak sendiri, di sebuah wilayah tempat menjadi perempuan berarti memikul perang dua kali
Di sebuah tenda pengungsian di Khan Younis, seorang perempuan bernama Maysa mengucapkan satu kalimat kepada petugas PBB yang merangkum seluruh tragedi yang jarang kita dengar: “Makanan membuat kami tetap hidup, tetapi pembalut, sabun, dan privasi membuat kami hidup dengan bermartabat. Ketika kami menerima paket kebersihan, rasanya seperti akhirnya ada yang melihat kami.” Kalimat terakhirnya — “akhirnya ada yang melihat kami” — adalah kunci untuk memahami dimensi perang Gaza yang paling sering luput dari pandangan dunia: beban yang dipikul oleh perempuan.
Ketika berita tentang Gaza sampai ke layar kita, ia biasanya berbicara dalam angka besar dan peristiwa dramatis — jumlah korban, pengeboman, perundingan, rudal. Namun di bawah permukaan angka-angka itu, ada lapisan penderitaan yang nyaris tak pernah menjadi tajuk: apa artinya menjadi perempuan di Gaza hari ini. Lembaga PBB untuk kesehatan reproduksi, UNFPA, bahkan menyebut mereka dengan satu frasa yang menggetarkan: “korban-korban yang tak terlihat dari krisis ini”.
Analisis ini hendak membuat yang tak terlihat menjadi terlihat. Sebab perang, sebagaimana ditegaskan UN Women, tidak pernah netral gender — ia menimpa perempuan dengan cara yang berbeda dan seringkali lebih berat. Di Gaza, menjadi perempuan berarti menanggung perang dua kali: sekali sebagai manusia yang dikepung, dan sekali lagi sebagai perempuan yang kebutuhan paling mendasarnya diabaikan.
Melahirkan di Tengah Kehancuran
Mari kita mulai dari momen yang seharusnya menjadi salah satu yang paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan: melahirkan. Di Gaza, momen itu telah berubah menjadi mimpi buruk. Menurut UNFPA, sekitar 50 ribu perempuan di Gaza sedang hamil pada satu titik, dengan ribuan di antaranya diperkirakan melahirkan dalam waktu dekat. Namun hanya segelintir rumah sakit — pada satu periode tercatat hanya lima — yang masih mampu memberikan layanan persalinan di seluruh Jalur Gaza. Sekitar 160 persalinan terjadi setiap hari, banyak di antaranya dalam kondisi yang nyaris tak terbayangkan.
Apa artinya “kondisi yang tak terbayangkan”? Laporan dari lembaga keadilan gender mendokumentasikan perempuan yang melahirkan di tempat penampungan yang penuh sesak, tanpa bantuan medis, tanpa kebersihan, tanpa privasi. Operasi caesar darurat dilakukan tanpa anestesi karena kelangkaan obat. Dokter dilaporkan terpaksa menggunakan lampu senter telepon genggam saat operasi karena ketiadaan listrik. UNFPA mencatat bahwa satu dari tiga kehamilan kini tergolong berisiko tinggi, dan satu dari lima bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah — membutuhkan perawatan khusus yang semakin tidak tersedia.
Operasi caesar tanpa bius, di bawah cahaya senter telepon. Inilah ruang bersalin Gaza — tempat memberi kehidupan menjadi pertaruhan nyawa.
Dampaknya bahkan terbaca dalam statistik kelahiran itu sendiri. UNFPA mencatat bahwa pada paruh pertama 2025, hanya sekitar 17 ribu kelahiran tercatat — turun tajam dari sekitar 29 ribu kelahiran pada periode yang sama di tahun 2022. Penurunan drastis ini mencerminkan bukan hanya kematian dan pengungsian, tetapi juga keputusan menyakitkan banyak pasangan untuk menunda memiliki anak di tengah kondisi yang mustahil. Pada saat yang sama, survei fasilitas kesehatan oleh UNFPA mendokumentasikan lonjakan kasus keguguran yang dirawat di bangsal bersalin, didorong oleh stres ekstrem, malnutrisi, dan hancurnya layanan prenatal. Tubuh perempuan, dalam arti yang paling harfiah, menjadi medan tempur tempat perang ini meninggalkan jejaknya.
Krisis ini diperdalam oleh kelaparan. UNFPA memperkirakan sekitar 55 ribu perempuan hamil dan menyusui berisiko mengalami kematian akibat malnutrisi pada pertengahan 2026 — tiga kali lipat dari angka 17 ribu pada Mei 2025. Seorang ibu bernama Inas, yang termasuk di antara ratusan ribu orang yang menghadapi kelaparan, mengatakan: “Kadang aku memberikan jatah makananku kepada anak-anakku agar mereka tidak merasa lapar.” Pengorbanan diam-diam seorang ibu, yang menukar nyawanya sendiri demi anak-anaknya, adalah salah satu beban paling berat yang dipikul perempuan Gaza.
Martabat yang Dirampas: Soal yang Tabu Dibicarakan
Ada satu dimensi penderitaan perempuan yang jarang dibahas karena dianggap tabu, namun justru menyentuh martabat paling dasar: menstruasi. Bagi ratusan ribu perempuan dan anak perempuan Gaza, sesuatu yang sepenuhnya alami telah berubah menjadi sumber penderitaan dan rasa malu. UN Women melaporkan bahwa selama perang, satu dari empat perempuan tidak memiliki akses ke layanan kesehatan reproduksi, dan sekitar 700 ribu perempuan kesulitan mengelola menstruasi mereka secara layak.
Tanpa pembalut, tanpa air bersih, tanpa privasi, dan tanpa toilet yang berfungsi, perempuan terpaksa menggunakan bahan seadanya — potongan kain, bahkan sobekan tenda. Sebagian, dalam keputusasaan, mengonsumsi pil penunda haid untuk menghentikan siklus mereka sama sekali, dengan risiko kesehatan yang serius. Akibatnya adalah lonjakan infeksi saluran kemih dan reproduksi, yang jika tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang. Seorang anak perempuan pengungsi bernama Aisha mengucapkannya dengan pilu: “Kadang aku lebih membutuhkan pembalut dan sabun daripada makanan.”
Bagi perempuan Gaza, kehilangan martabat sering datang bukan lewat bom, melainkan lewat ketiadaan sepotong pembalut dan seember air bersih.
Para ahli PBB menyebut fenomena yang lebih luas ini sebagai “kekerasan reproduktif yang sistemik”. Ini bukan sekadar efek samping perang, melainkan pola yang dihasilkan oleh penghancuran sistematis atas infrastruktur kesehatan: UN Women mencatat setidaknya 927 serangan menargetkan fasilitas kesehatan dan ambulans, termasuk bangsal bersalin dan klinik kesuburan, antara Oktober 2023 dan Oktober 2025. Ketika sistem yang menopang kesehatan perempuan dihancurkan secara terstruktur, akibatnya bukanlah nasib buruk yang acak, melainkan penderitaan yang dapat diprediksi.
Memikul Keluarga di Atas Reruntuhan
Perang juga secara diam-diam mengubah struktur masyarakat Gaza, dan beban perubahan itu jatuh terutama ke pundak perempuan. Dengan begitu banyak laki-laki yang gugur, ditahan, atau hilang, semakin banyak perempuan yang mendadak menjadi kepala keluarga. UN Women memperkirakan sekitar 14 persen rumah tangga di Gaza kini dikepalai perempuan — naik dari hanya 9 persen sebelum eskalasi 2023. Dengan kata lain, kini satu dari setiap tujuh keluarga bergantung pada seorang perempuan.
Bayangkan beban itu: seorang perempuan yang mungkin belum pernah menjadi kepala rumah tangga, kini harus mencari makanan, air, dan tempat berlindung untuk anak-anak dan orang tua, di tengah reruntuhan, setelah berkali-kali mengungsi, sering kali sambil berduka atas kehilangan suaminya sendiri. Data menunjukkan rumah tangga yang dikepalai perempuan bahkan lebih rentan terhadap pengungsian dibanding yang dikepalai laki-laki. Beban ini diperberat oleh hilangnya dokumen: di Khan Younis dan Rafah, sekitar 83 persen perempuan melaporkan kehilangan surat kepemilikan properti mereka — yang berarti, bahkan ketika perang usai, hak mereka atas tanah dan rumah menjadi rapuh dan mudah disangkal.
Ditambah lagi, runtuhnya pendidikan memukul perempuan secara berlipat. Lebih dari 318 ribu anak perempuan telah kehilangan dua tahun sekolah dan terancam kehilangan tahun ketiga. Karena sebagian besar guru di Gaza adalah perempuan, hancurnya sekolah juga berarti hilangnya salah satu jalur pekerjaan utama bagi perempuan. Ketidaksetaraan yang sudah ada sebelum perang kini diperdalam menjadi jurang.
Ketika Bahaya Datang dari Dalam Tenda
Ada pula bahaya yang lebih sunyi dan lebih sulit dibicarakan: meningkatnya kekerasan berbasis gender. Dalam setiap krisis kemanusiaan, ketika keluarga terusir, privasi lenyap, dan jaring pengaman sosial runtuh, perempuan menjadi lebih rentan terhadap kekerasan — baik di ruang publik yang penuh sesak maupun di dalam tenda yang berdesakan. UN Women memperingatkan bahwa risiko ini meningkat tajam justru ketika layanan perlindungan paling lemah.
Yang memperburuk keadaan, ruang-ruang aman yang seharusnya melindungi perempuan justru ikut tumbang. UNFPA melaporkan bahwa akibat blokade, sejumlah ruang aman bagi perempuan dan anak perempuan terpaksa ditutup, dan sisanya beroperasi dengan kapasitas sangat terbatas. Padahal ruang-ruang inilah yang menyediakan dukungan psikososial, pencegahan kekerasan, dan layanan kesehatan reproduksi. Ketika tempat berlindung terakhir ikut runtuh, perempuan ditinggalkan menghadapi bahaya berlapis tanpa perisai apa pun.
Mengapa Kita Harus Melihat Mereka
Mungkin ada yang bertanya mengapa beban perempuan layak menjadi sorotan khusus, di tengah penderitaan yang menimpa semua orang di Gaza. Jawabannya bukan untuk menciptakan hierarki penderitaan, melainkan untuk memastikan respons yang adil. Sebagaimana ditegaskan UN Women: karena krisis di Gaza tidak netral gender, maka responsnya pun tidak boleh netral gender. Kebutuhan pembalut, perawatan kehamilan, dan perlindungan dari kekerasan adalah kebutuhan spesifik yang akan terlewat jika kita hanya berbicara dalam istilah umum.
Bagi kita di Indonesia, sebagai bangsa yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, mengangkat suara perempuan Gaza adalah bagian tak terpisahkan dari solidaritas yang utuh. Solidaritas yang hanya melihat angka korban tanpa melihat ibu yang melahirkan dalam gelap, anak perempuan yang malu karena haidnya, atau janda yang memikul seluruh keluarganya, adalah solidaritas yang setengah. Melihat mereka secara utuh adalah bentuk penghormatan yang paling mendasar.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
Menyaksikan beban berlapis yang dipikul perempuan Gaza, kepedulian harus diterjemahkan menjadi dukungan yang tepat sasaran. Ada tiga hal konkret yang bisa kita lakukan sebagai pembaca Indonesia:
- Dukung bantuan yang spesifik untuk kebutuhan perempuan. Selain pangan dan obat umum, perlengkapan kesehatan reproduksi, paket kebersihan, pembalut, dan layanan persalinan aman adalah kebutuhan vital yang sering terlupakan. Salurkan bantuan melalui lembaga terpercaya seperti INH, MER-C, Sahabat Al-Aqsha, dan Adara Foundation, serta zakat-infak via BAZNAS, Dompet Dhuafa, atau Rumah Zakat — dan bila memungkinkan, tanyakan dan dukung program yang secara khusus menyasar kebutuhan perempuan dan ibu.
- Pecahkan keheningan, bicarakan yang tabu. Justru karena soal seperti menstruasi dan kesehatan reproduksi dianggap tabu, ia paling mudah terlupakan. Berani membicarakannya secara bermartabat — berdasarkan data dari lembaga seperti UNFPA dan UN Women — adalah bentuk advokasi tersendiri. Suarakan beban perempuan Gaza, bukan hanya angka korban umum.
- Dorong rekonstruksi yang menempatkan perempuan sebagai prioritas. Ketika pembangunan kembali Gaza mulai dibicarakan, desak agar pemulihan layanan kesehatan ibu, ruang aman bagi perempuan, dan perlindungan hak properti perempuan menjadi prioritas — bukan renungan belakangan. Pemulihan yang mengabaikan setengah populasinya bukanlah pemulihan yang sejati.
Akhirnya, Ada yang Melihat
Mari kita kembali pada kalimat Maysa di awal tulisan ini: “Ketika kami menerima paket kebersihan, rasanya seperti akhirnya ada yang melihat kami.” Dalam kalimat sederhana itu terkandung sebuah kerinduan yang mendalam — bukan hanya akan pembalut atau sabun, melainkan akan pengakuan. Kerinduan untuk dilihat, untuk diakui keberadaannya, untuk tidak menjadi korban yang tak terlihat di tengah perang yang menyita semua perhatian dunia ke arah lain.
Perempuan Gaza tidak meminta untuk dikasihani. Mereka meminta untuk dilihat sebagaimana adanya: sebagai ibu yang berjuang menghidupi anak-anaknya, sebagai perempuan yang mempertahankan martabatnya di tengah kehancuran, sebagai tulang punggung yang menahan agar masyarakat mereka tidak runtuh sepenuhnya. Ketangguhan mereka — melahirkan di tengah reruntuhan, menjaga keluarga tetap utuh, mempertahankan kebersihan dan harga diri dengan sumber daya yang nyaris nihil — adalah salah satu bentuk perlawanan yang paling sunyi sekaligus paling heroik.
Tugas kita, dari kejauhan, adalah memastikan bahwa kerinduan untuk dilihat itu tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa di tengah hiruk-pikuk geopolitik, rudal, dan perundingan para pemimpin, kita tidak melupakan perempuan yang sedang melahirkan dalam gelap malam ini, anak perempuan yang malam ini tidak punya air untuk membersihkan dirinya, dan janda yang malam ini terjaga memikirkan bagaimana memberi makan anak-anaknya esok pagi.
Maka pertanyaan terakhir yang ditinggalkan analisis ini sederhana namun menuntut jawaban dari nurani kita masing-masing: ketika seluruh dunia sibuk menghitung rudal dan menimbang kesepakatan, akankah kita menjadi mata yang akhirnya melihat para korban yang tak terlihat ini — atau akankah kita membiarkan mereka tetap tak kasat mata, menanggung perang dua kali, dalam keheningan yang sempurna? (IW)

