JAKARTA – Sejumlah organisasi kemanusiaan dan lembaga swadaya masyarakat (NGO) menggelar konsolidasi Blueprint Entering Al-Aqsha di Kantor Adara, Kamis (29/10/2026). Pertemuan ini menjadi ruang untuk menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, serta merumuskan strategi perjuangan Palestina.
Acara dibuka dengan pembacaan Surah Al-Ma’idah ayat 21–26 yang mengisahkan perintah Allah SWT kepada Nabi Musa AS agar Bani Israil memasuki tanah suci (Ardhul Muqaddasah). Kisah tersebut menjadi pengantar refleksi mengenai keberanian, ketaatan, dan komitmen dalam memperjuangkan pembebasan Baitul Maqdis.
Ir. Maryam, Ketua Adara dan tuan rumah mengucapkan terima kasih kepada seluruh perwkilan NGO yang sudah hadir, dimulainya Global Sumud Flotilla 1 dan 2, kebersamaan itu sungguh mahal, dengan kebersamaan dan wadah satu tujuan yaitu Palestina merdeka. Di saat yang bersamaan upaya kita di Indonesia terus melakukan perjuangan untuk saudara-saudara kita di Palestina. Saat ini Andrea Balocelli penyanyi yang pro-Israel terus kita lakukan upaya baik di MUI dan DPR untuk menolak kedatangannya.
Menurutnya, pengalaman dalam gerakan Global Sumud Flotilla (GSF) pertama dan kedua menunjukkan bahwa persatuan antarlembaga merupakan modal penting dalam memperkuat gerakan perjuangan Palestina. Di tengah berbagai upaya internasional, perjuangan dari Indonesia juga perlu terus dilakukan melalui jalur advokasi, diplomasi, dan langkah strategis lainnya.
Maryam turut menyinggung upaya penolakan terhadap rencana kedatangan penyanyi Andrea Bocelli yang dinilai perlu menjadi perhatian gerakan bersama untuk Palestina. Ia menyebut berbagai upaya advokasi telah dilakukan melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Koordinator Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Ustazah Dr. Maimoun Herawati, yang hadir secara daring, menyampaikan bahwa konsolidasi tersebut berlangsung setelah kunjungan sejumlah peserta Global Sumud Flotilla ke Indonesia.
Ia menekankan bahwa perjuangan Palestina tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga dalam pertarungan ideologi dan diplomasi internasional. Karena itu, gerakan ini perlu memiliki visi yang jelas, mekanisme koordinasi yang kuat, serta rencana aksi yang terukur.
Maimoun memaparkan arah gerakan GPCI pada 2027 yang menitikberatkan pada direct action atau aksi langsung. Salah satu agenda yang dibahas adalah Spring Mission yang direncanakan berlangsung pada 27 Maret 2027.
Ia juga menyinggung proses pengambilan keputusan dan koordinasi perwakilan dalam gerakan internasional tersebut. Kawasan Nusantara, yang mencakup Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Maladewa, Sri Lanka, dan Filipina, dinilai memiliki peluang untuk memperkuat peran dalam gerakan perjuangan Palestina.
Selain itu, tim hukum disebut tengah mengkaji sejumlah kemungkinan terkait rute dan mekanisme pelaksanaan misi. Seluruh rencana tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut, termasuk kesiapan administrasi, aspek hukum, dan koordinasi antarorganisasi.
Muhammad Husein: Perjuangan Palestina Membutuhkan Blueprint yang Jelas
CEO International Networking for Humanitarian (INH), Muhammad Husein, menegaskan bahwa perjuangan untuk Palestina membutuhkan lebih dari sekadar reaksi emosional. Menurutnya, perjuangannya ini harus dibangun di atas strategi yang jelas, mentalitas yang kuat, dan kerja sama yang mampu menghasilkan tindakan nyata.
“Futur dan kemalasan adalah musuh kita yang sebenarnya,” tegas Muhammad Husein dalam pemaparannya.
Berdasarkan pengalamannya selama 12 tahun di Gaza, ia menilai bahwa perjuangan Palestina memerlukan blueprint atau peta jalan yang terarah agar setiap sumber daya dan langkah yang dilakukan dapat memberikan dampak nyata.
Ia menyebut Al-Qur’an sebagai landasan utama dalam merumuskan strategi tersebut, dengan tiga domain yang perlu diperkuat, yakni politik, agama, dan kemanusiaan. Menurutnya, Surah Al-Ma’idah ayat 21–26 dapat menjadi salah satu rujukan dalam membangun kerangka berpikir gerakan yang berorientasi pada pembebasan Baitul Maqdis.
Muhammad Husein juga menyoroti pentingnya membedakan gerakan GPCI dari pola aktivisme yang hanya mengandalkan respons spontan terhadap peristiwa. Ia menegaskan bahwa gerakan Entering Al-Aqsha diarahkan untuk membangun strategi yang berlandaskan Al-Qur’an, sehingga perjuangan tidak berhenti pada mobilisasi massa, tetapi berlanjut pada perencanaan dan pelaksanaan program.
Mengacu pada pengalamannya mengikuti Global Sumud Flotilla pertama dan kedua, ia turut mengingatkan pentingnya peran ulama dalam mengarahkan umat. Menurutnya, ulama dan tokoh masyarakat semestinya memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran, menentukan arah perjuangan, dan membimbing gerakan agar tetap berpegang pada tujuan.
“Motivasi kita bukan sekadar reaksi emosional, tetapi bergerak secara strategis,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa prosedur birokrasi yang berbelit-belit dapat menghambat pelaksanaan program. Karena itu, ia mendorong setiap organisasi untuk menyederhanakan koordinasi, memperjelas pembagian tanggung jawab, dan segera mengeksekusi rencana yang telah disepakati.
Muhammad Husein mengapresiasi peran Ustaz Bachtiar Nasir melalui Global Peace Convoy Indonesia dalam mempertemukan berbagai elemen gerakan perjuangan Palestina. Menurutnya, forum konsolidasi tersebut menjadi kesempatan untuk menyatukan potensi organisasi dalam satu arah perjuangan yang lebih terstruktur.
Setiap NGO Perlu Memiliki Peta Jalan Perjuangan
Sementara itu, Ustaz Samade dari Zakatin Gaza berharap seluruh ikhtiar yang dilakukan dalam mendukung Palestina dapat menjadi amal jariah bagi semua pihak yang terlibat.
Ia kembali menekankan pentingnya setiap organisasi memiliki blueprint yang jelas mengenai kontribusi dan strategi masing-masing dalam mendukung perjuangan pembebasan Baitul Maqdis. Menurutnya, gagasan tersebut sejalan dengan pembahasan yang sebelumnya berlangsung dalam pertemuan di AQL.
Konsolidasi Blueprint Entering Al-Aqsha diharapkan menjadi langkah awal untuk menyelaraskan visi dan program berbagai organisasi. Dengan landasan nilai-nilai Al-Qur’an, koordinasi yang efektif, serta pembagian peran yang jelas, gerakan perjuangan Palestina di Indonesia diharapkan mampu berkembang menjadi gerakan yang lebih terarah, konsisten, dan berdampak.
Ustadz Bachtiar Natsir juga mengucapkan terima kasih atas kesempatannya. Sepulang dari Yordania, menangkap dari atmosfernya suasan Timur Tengah, hari ke hari sangat dinamis. Menunjukkan rrentang waktu 10 tahun in syaa Allah kita bisa masuki Masjid Al-Aqsha. Meski pemilu Israel terkini, siapapun pemenangnya, bukan hanya tentang politik international. Qulillaahumma maalikal mulki mimman tasyaa…. ini adalah pedoman bagi setiap individu yang bergerak di dalam ranah perjuangan ini. Saya lebih menguatkan dalam ranah kejiwaan, jangan sampai hilang dari harapan dan tawakal kepada Allah ta’aalaa. Karena ujung dari perjuangan ini ada dua hal yang mesti dijaga, yang pertama adalah menjaga keikhlasan.
Jikalau nanti seremonial kita bisa masuk, yang kita andalkan adalah kekuatan iman. Rabbanaa aatinaa milladunka rahmah, wa hayyi’ lanaa min amrinaa rasyadaa. Kalau kita tidak menguatkan keikhlasan dan keimanan ini maka akan banyak hal yang diuji dalam langkah ini. Yang kedua adalah Insyaa, kesempurnaan dalam perjuangan ini. Tingkatannya lebih daripada hidayah. Ibarat pemuda Ashabul Kahfi, dan Uzair, mereka tidak bekerja, tapi Allah yang bekerja dengan segala kebesaran-Nya. Mintalah kepada Allah agar menyatukan kita, kebersamaan dan persatuan.
Rencana ke depan mengenai Entering Al-Aqsha, informasi terbaru dari Kementerian Luar Negeri, akan dibangun koridor diplomatik untuk menyalurkan bantuan. Kalau kita gak segera mengajak berbicara pihak Kemenlu ini bisa molor. Ketika kita minta ketemu dengan Kedubes Jordan alhamdulillah sejauh ini kita disambut baik. Langkah selanjutnya, segera konsolidasikan angka yang kita bawa, gandeng BAZNAS untuk dibawa ke negara melalui jalur diplomasi agar segera disalurkan kepada saudara-saudara di Palestina. Persatuan dan saling mendukung satu sama lain harus kita kuatkan, jangan dibiarkan saudara kita terasingkan.
Pertemuan ini sekaligus menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina membutuhkan kesinambungan antara nilai, strategi, dan aksi nyata. Melalui kolaborasi lintas organisasi, perjuangan tersebut diharapkan tidak berhenti pada seruan perjuangan, tetapi diwujudkan melalui program yang terencana dan dapat dipertanggungjawabkan.


