HomeSejarah Indonesia-PalestinaSejarah PalestinaEnam Hari yang Mengubah Gaza: Dari Pemerintahan Militer Mesir ke Pendudukan Israel

Enam Hari yang Mengubah Gaza: Dari Pemerintahan Militer Mesir ke Pendudukan Israel

GAZA CITY — Pada pagi 5 Juni 1967, Angkatan Udara Israel melancarkan serangan mendadak terhadap lapangan-lapangan udara Mesir dalam Operasi Fokus, melumpuhkan sekitar 90 persen kekuatan udara Mesir hanya dalam beberapa jam pertama. Dalam enam hari berikutnya, Israel merebut Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza dari Mesir, Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari Yordania, serta Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Perang ini kemudian dikenal sebagai Perang Enam Hari, atau oleh warga Palestina disebut an-Naksa — “kemunduran”.

Bagi Gaza, perang ini menandai pergantian kekuasaan asing yang keempat dalam kurun waktu kurang dari dua dekade: dari Mesir ke Israel, sebuah rezim pendudukan militer yang berlangsung hingga penarikan pemukim Israel pada 2005 — dan yang bentuk kontrolnya, dalam berbagai wujud, masih membayangi Gaza hingga kini.

Gaza di Bawah Mesir: Wilayah Tanpa Status

Sejak 1949, Gaza berada di bawah kendali militer Mesir tanpa pernah dianeksasi secara resmi. Pemerintahan All-Palestine yang diproklamasikan di kota ini pada 1948 dibubarkan Mesir pada 1959, dan sejak itu Gaza diperintah langsung oleh gubernur militer Mesir, meski secara formal berstatus bagian dari Republik Persatuan Arab pimpinan Presiden Gamal Abdel Nasser. Aktivitas politik di Gaza dibatasi ketat, digantikan oleh Arab National Union yang disponsori pemerintah. Wikipedia

Masuknya lebih dari 200.000 pengungsi dari bekas wilayah Mandat Palestina — sekitar seperempat dari total pengungsi Perang 1948 — membuat standar hidup di Gaza merosot tajam, karena Mesir membatasi ketat pergerakan penduduk keluar-masuk Jalur Gaza. Wali Kota Gaza City saat itu, Raghib al-Alami, menjabat sejak 1965 atas penunjukan Mesir dan masih memegang jabatan ketika Israel menduduki kota tersebut dua tahun kemudian. Wikipedia

Penarikan Pasukan PBB dan Jalan Menuju Perang

Krisis 1967 dipicu oleh rangkaian eskalasi di perbatasan Israel-Suriah. Pada 18 Mei 1967, Menteri Luar Negeri Mesir Mahmoud Riad secara resmi meminta Sekretaris Jenderal PBB U Thant menarik Pasukan Darurat PBB (UNEF) yang telah bertugas sebagai penyangga di Sinai dan Jalur Gaza sejak Krisis Suez 1956. Permintaan itu disampaikan atas nama pemerintah Republik Arab Bersatu, yang menyatakan tidak lagi mengizinkan kehadiran pasukan tersebut di wilayahnya, termasuk Gaza. un

Penarikan UNEF berlangsung cepat. Pada 31 Mei, kontingen Kanada telah sepenuhnya dievakuasi lewat udara, sementara kontingen Brasil, India, dan Swedia masih dalam proses persiapan ketika Israel menyerbu Mesir pada 5 Juni 1967. Markas UNEF di Gaza sendiri turut diserang dalam hari-hari awal perang. Wikipedia

Pertempuran di Jalur Gaza

Pertahanan Gaza dipegang oleh Divisi Palestina ke-20 di bawah komando gubernur militer Mesir untuk Gaza. Semula, Menteri Pertahanan Israel Moshe Dayan melarang unit-unitnya memasuki Jalur Gaza untuk menghindari front tambahan. Namun setelah posisi-posisi Palestina di Gaza menembaki permukiman Israel di Nirim dan Kissufim, Kepala Staf IDF Yitzhak Rabin membatalkan perintah Dayan tersebut. Fandom

Divisi lapis baja Israel di bawah Mayor Jenderal Israel Tal kemudian bergerak melalui Jalur Gaza menuju El-Arish. Pasukan Mesir di Gaza melakukan perlawanan sengit, dengan perlawanan terberat datang dari Divisi Palestina ke-20 yang dipimpin gubernur militer Mesir untuk Gaza. Israel secara bertahap mendesak mundur pasukan Mesir, dan serangan udara melumpuhkan komando tinggi mereka. Israel merebut wilayah tersebut setelah dua hari pertempuran berat yang menelan korban dan kerugian kendaraan cukup besar di pihak mereka, sementara korban tewas pihak Mesir mencapai 2.000 jiwa. Pertempuran paling sengit terpusat di sekitar Rafah dan Khan Yunis, dua kota yang sebelumnya sempat diduduki singkat oleh Israel dalam Krisis Suez 1956. En AcademicEn Academic

Pada 8 Juni, pasukan Mesir di seluruh front selatan telah dikalahkan, dan Israel menguasai penuh Jalur Gaza serta Sinai hingga Terusan Suez.

Pendudukan dan Gelombang Pengungsian Kedua

Setelah pertempuran usai, Israel mendirikan Pemerintahan Militer (Israeli Military Governorate) untuk mengelola penduduk sipil di wilayah-wilayah yang baru diduduki, termasuk Gaza. Dampaknya terhadap penduduk Gaza sangat besar: banyak dari mereka adalah pengungsi 1948 yang untuk kedua kalinya harus menghadapi kekuasaan asing di tanah pengungsian mereka sendiri.

Angka pengungsian akibat perang 1967 bervariasi antarsumber. Perkiraan umum menyebut sekitar 280.000 hingga 325.000 warga Palestina terusir dari Tepi Barat dan Jalur Gaza, sementara sumber lain menyebut angka yang lebih tinggi hingga kisaran 400.000-an untuk keseluruhan wilayah pendudukan. Untuk Gaza secara spesifik, dokumen PBB mencatat sekitar 11.000 orang melarikan diri dari Gaza ke Mesir hingga Desember 1967. WikipediaFandom

Yang tak kalah signifikan adalah mereka yang dicegah kembali. Setidaknya 25.000 penduduk Gaza dilarang kembali setelah perang usai, dan secara keseluruhan Jalur Gaza kehilangan sekitar 25 persen populasi pra-perangnya antara 1967 dan 1968 — sebuah estimasi yang tergolong konservatif. Wikipedia

Dokumen internal pemerintah Israel dari periode itu memperlihatkan bagaimana isu kependudukan Gaza dibahas di tingkat kabinet. Pada Desember 1967, dalam rapat Kabinet Keamanan yang membahas nasib penduduk Arab di wilayah pendudukan baru, Perdana Menteri Levi Eshkol mengajukan gagasan bahwa penduduk Gaza mungkin akan pergi jika Israel membatasi akses mereka terhadap pasokan air. Sejumlah langkah, termasuk insentif finansial, kemudian diambil untuk mendorong emigrasi warga Gaza. Klaim ini berasal dari risalah kabinet yang telah dipublikasikan dan dikutip luas dalam historiografi periode tersebut, namun redaksi menekankan bahwa gagasan tersebut adalah satu dari beberapa opsi yang dibahas, bukan kebijakan resmi yang serta-merta dijalankan sepenuhnya. Wikipedia

Tak lama setelah pendudukan, Israel juga mulai membangun permukiman pertamanya di Gaza — cikal bakal Gush Katif — di lokasi yang sebelumnya sempat menjadi kibbutz kecil pada 1946–1948, sebelum akhirnya dievakuasi seluruhnya pada 2005.

Warisan yang Belum Selesai

Perang Enam Hari mengakhiri dua dekade pemerintahan militer Mesir di Gaza dan membuka babak pendudukan Israel yang berlangsung hampir empat dekade, hingga penarikan sepihak 2005 — dan yang, melalui kontrol perbatasan, wilayah udara, dan laut, oleh banyak pihak masih dianggap berlanjut dalam bentuk lain sampai hari ini. Pengungsian 1967 juga menambah lapisan kedua pada krisis pengungsi Palestina yang bermula pada 1948, sebuah persoalan yang hingga kini belum menemukan penyelesaian.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini