Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tidak menginginkan meningkatnya ketegangan di kawasan, namun akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk melindungi keamanan, kepentingan nasional, dan keutuhan wilayah negara.
Pernyataan itu disampaikan di tengah komunikasi Iran dengan pimpinan baru Hamas mengenai perkembangan di Palestina dan Gaza.
Dalam pernyataan yang dikutip Press TV pada Senin 3 Agustus 2026, Pezeshkian mengatakan Republik Islam Iran tidak berupaya memperburuk ketegangan maupun menciptakan instabilitas di kawasan.
“Republik Islam Iran tidak ingin meningkatkan ketegangan atau instabilitas di kawasan. Namun, Iran akan bertindak dengan seluruh kemampuannya untuk mempertahankan keamanan, kepentingan nasional, dan integritas wilayahnya,” ujar Pezeshkian.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke sejumlah negara di kawasan.
Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada April, kemudian menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni untuk mengakhiri konflik militer dan mencapai perjanjian damai jangka panjang.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh bulan lalu setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan selama hampir dua pekan.
Pada Sabtu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah Teheran dan sejumlah negara Timur Tengah meminta waktu untuk merampungkan kerangka perjanjian damai. Trump juga menyatakan bahwa Israel turut bergabung dalam komitmen tersebut.
Sementara itu, Pezeshkian melakukan pembicaraan melalui telepon dengan pemimpin baru Hamas, Khalil al-Hayya. Keduanya membahas perkembangan di Palestina serta situasi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Dalam pernyataannya, Hamas mengatakan Pezeshkian kembali menegaskan dukungan Iran terhadap rakyat Palestina dan hak-hak mereka.
Presiden Iran itu juga menyampaikan ucapan selamat kepada al-Hayya atas terpilihnya sebagai pemimpin baru Hamas serta mengapresiasi komunikasi langsung yang terus terjalin antara kedua pihak.
Pada 20 Juli, Hamas mengumumkan bahwa Khalil al-Hayya terpilih sebagai pemimpin kelompok tersebut menggantikan Yahya Sinwar, yang tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di Gaza selatan pada Oktober 2024.
Dalam pembicaraan itu, al-Hayya menegaskan komitmen rakyat Palestina untuk memperjuangkan seluruh hak mereka melalui cara-cara yang sah. Ia juga berharap serangan terhadap Iran dapat dihentikan sehingga keamanan dan stabilitas kawasan dapat segera pulih.
Percakapan tersebut berlangsung setelah Dewan Perdamaian pada Jumat merilis rancangan perjanjian yang memuat prinsip-prinsip dan mekanisme pelaksanaan fase berikutnya dari rencana Gaza yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk pengaturan keamanan, administrasi, transisi pemerintahan di wilayah tersebut, serta jalur politik yang diusulkan.


