TEHERAN – Iran mengatakan siap ‘menyambut’ invasi darat Amerika Serikat, sementara Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan malam kesembilan berturut-turut serangan terhadap Iran setelah tewasnya tentara Amerika di Yordania dan Irak selama akhir pekan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan, kepemimpinan negaranya sedang menghitung menit-menit untuk menyambut pasukan AS dalam invasi darat apa pun.
Ia menambahkan, isi perjanjian sementara yang dimediasi Pakistan dan ditandatangani dengan AS pada Juni sepenuhnya jelas, dan tidak ada alasan bagi Washington untuk melanggar perjanjian tersebut.
Pada dini hari Senin (20/7), militer AS mengklaim melalui unggahan di X, serangannya menghantam “pusat komando militer Iran, pertahanan udara dan lokasi pengawasan pesisir, kemampuan maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta jaringan komunikasi”.
Mereka menambahkan gelombang serangan terbaru itu bertujuan untuk mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal dagang dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump mengatakan gelombang serangan yang sangat keras terbaru dilakukan untuk menghormati tiga anggota militer Amerika yang tewas dalam beberapa hari terakhir.
“Kami menghantam mereka dengan sangat keras lagi malam ini, dan kami melakukan itu untuk menghormati tiga patriot hebat yang gugur” katanya kepada wartawan.
Ia mengklaim, Iran “telah mengalami kerusakan yang sangat, sangat parah. Mereka hampir kehilangan segalanya—secara militer. Mereka masih memiliki beberapa rudal, beberapa drone, sedikit kemampuan produksi, tidak banyak.
Ketika ditanya mengenai korban jiwa di pihak militer, Trump menjawab “kami merasa sangat sedih”, seraya menambahkan mereka yang tewas berjuang tujuannya agar ‘Teheran tidak dapat memiliki senjata nuklir.’
Iran Serang Pangkalan AS di Yordania saat Pemboman Amerika Terus Berlanjut
Centcom mengatakan seorang tentara Amerika tewas di Irak utara pada Sabtu dalam peledakan terkendali drone satu arah Iran yang gagal ditembak jatuh.
Sedikitnya dua anggota militer AS lainnya tewas setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania pada Jumat. Pejabat AS mengonfirmasi pada Senin bahwa Letnan Tyler James Feehan, 25 tahun, asal Hawaii, dan Prajurit Isabella Gonzales, 19 tahun, asal Texas, tewas akibat “serangan musuh pada 17 Juli di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti”.
Tak lama setelah pengumuman Centcom, media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di berbagai wilayah negara itu, termasuk kota-kota selatan Bandar Mahshahr, Bandar Imam Khomeini, dan Chabahar, serta kota Tabriz di barat laut.
Menurut kantor berita semi-resmi Mehr, satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka di barat daya Tabriz.
Kemudian pada Senin, media pemerintah Iran melaporkan serangan yang menargetkan beberapa lokasi di kota pelabuhan selatan Bushehr, tempat berdirinya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil negara tersebut.
“Beberapa menit yang lalu, beberapa lokasi di kota Bushehr dihantam proyektil musuh Amerika,” kata Gubernur Bushehr Mohammad Mozaffari, seraya menambahkan tingkat kerusakan akibat serangan tersebut masih diselidiki.
Sementara itu, Teheran menyerukan kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk mengecam serangan AS terhadap pembangkit nuklir Darkhovin, yang masih dalam tahap pembangunan di barat daya negara itu pada Minggu.
Organisasi Energi Atom Iran mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Serangan Kejutan
Teheran merespons dengan serangkaian serangan terhadap negara-negara tetangganya yang menjadi sekutu AS, termasuk Yordania, Kuwait, dan Suriah.
Di Yordania, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pesawat angkut C-17 AS dan pesawat P-8 di Bandara Aqaba.
Menurut pernyataan tersebut, pesawat-pesawat AS “menjadi sasaran rudal balistik, menyebabkan kerusakan parah pada sejumlah di antaranya”.
Iran Nyatakan Perjanjian Islamabad Ditangguhkan, Salahkan Pelanggaran oleh AS
IRGC juga mengatakan, mereka menargetkan 20 tempat perlindungan tempat pasukan AS ditempatkan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, menewaskan puluhan pasukan teroris Amerika.
Pejabat AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada The New York Times, sebelum serangan terhadap pangkalan udara tersebut, puluhan personel militer AS lainnya terluka dan helikopter mengalami kerusakan dalam tiga serangan Iran di Yordania pekan lalu.
Di Kuwait, IRGC mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di pangkalan Ali Al Salem, gudang peralatan penerbangan dan hanggar yang menampung drone MQ-9 milik AS, menyebabkan beberapa pesawat terbakar.
Pemerintah Kuwait mengatakan pada Minggu, sebuah pabrik desalinasi kembali diserang untuk hari kedua berturut-turut, dan mengecamnya sebagai serangan langsung terhadap infrastruktur sipil yang vital.
Angkatan Darat Kuwait melaporkan melalui X, sistem pertahanan udaranya telah diaktifkan sebagai respons terhadap serangan Iran, serta menegaskan setiap ledakan yang mungkin terdengar merupakan hasil dari sistem pertahanan udara yang mencegat sasaran musuh, mereka meminta masyarakat mematuhi petunjuk keamanan.
IRGC juga mengumumkan adanya serangan kejutan terhadap sebuah pusat komando di al-Tanf, Suriah. Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita pemerintah IRNA, mereka mengatakan serangan itu dilakukan sebagai “balas dendam atas darah para prajurit yang gugur” di kota Iranshahr, Iran tenggara.
Di Manama, Bahrain, sirene meraung di tengah laporan adanya ledakan yang terdengar di ibu kota, sementara televisi pemerintah melaporkan sistem pertahanan udara negara itu sedang merespons serangan dari Iran.
Tidak Setetes Pun Minyak dan Gas
Seiring runtuhnya perjanjian gencatan senjata, perebutan kendali atas jalur pelayaran strategis Selat Hormuz terus berlanjut, sehingga mendorong lonjakan harga minyak selama akhir pekan.
IRGC bersumpah “tidak setetes pun” minyak akan melintasi jalur perairan tersebut jika serangan AS terus berlanjut, serta memperingatkan Washington agar bersiap menghadapi operasi penghukuman.
IRGC melaporkan dua kapal tanker minyak yang melanggar dan mencoba melintasi jalur pelayaran yang tidak aman di selatan Selat Hormuz telah “meledak” dan “terpaksa menghentikan pergerakan mereka”. Kapal-kapal tersebut berusaha menggunakan jalur di bawah “tekanan dan paksaan” dari militer AS.
“Ini adalah tanah kami, dan intervensi tentara teroris Amerika dari ribuan kilometer jauhnya tidak memiliki dasar hukum dan pasti akan kami hadapi.”
Pernyataan IRGC
“Selama tindakan jahat Amerika terus berlanjut di kawasan ini, jalur tersebut tidak akan aman bagi lalu lintas pupuk kimia maupun bahkan satu tetes minyak dan gas,” lanjut pernyataan itu.
Sebelumnya, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal terbakar sekitar delapan mil laut di barat laut Kumzar, Oman. Menurut UKMTO, pihaknya menerima informasi dari otoritas militer, sebuah kapal sedang terbakar, seraya menambahkan penyebabnya masih belum dapat dipastikan.
Menurut data pelayaran, lalu lintas di Selat Hormuz menurun selama akhir pekan di tengah serangan tersebut, dengan hanya empat kapal melintas pada Minggu, turun dari delapan kapal pada hari sebelumnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuduh Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tawar-menawar di tengah konflik yang sedang berlangsung di kawasan, dan menyerukan negara-negara lain untuk meningkatkan upaya melindungi pelayaran global. Meski serangan masih terus saling berbalas, Rubio mengatakan, AS tetap “terbuka terhadap solusi diplomatik dengan Iran”.
Setelah sempat melonjak tajam akibat kembali memanasnya konflik, harga minyak turun kembali ke bawah 90 dolar AS per barel pada Senin setelah Baghaei mengatakan kepada wartawan di Teheran, komunikasi diplomatik dengan AS melalui para mediator masih terus berlangsung.
“Kami telah menerima informasi dari para mediator, kami telah menerima pesan-pesan—tanpa merinci lebih jauh—tetapi poin utamanya adalah aparat diplomatik telah aktif dalam beberapa hari terakhir dan berbagai gagasan telah disampaikan kepada kami oleh sejumlah mediator,” katanya.

