Israel berencana untuk memperluas serangan daratnya dan menguasai 25 persen wilayah Jalur Gaza yang terblokade dalam dua hingga tiga minggu ke depan, menurut pernyataan seorang pejabat senior Israel pada Senin lalu.
Pejabat tersebut menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari kampanye “tekanan maksimal” untuk memaksa Hamas membebaskan sisa sandera yang masih ditahan di Gaza, seperti yang dilaporkan Axios.
Selain itu, tentara Israel berencana untuk memperluas zona penyangga yang mereka kontrol.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa tujuan Israel kini melampaui alasan awalnya untuk melakukan perang, yang semula bertujuan membasmi Hamas dan membebaskan sandera.
Laporan juga menyebutkan bahwa langkah ini bisa jadi hanya menjadi alasan untuk mengusir warga Palestina dari Gaza.
Keputusan ini muncul setelah warga Palestina mulai kembali ke rumah mereka, setelah perjanjian gencatan senjata yang akhirnya gagal.
Beberapa pejabat Israel berpendapat bahwa reokupasi ini adalah langkah menuju pelaksanaan rencana pemerintah untuk “kepergian sukarela” warga Palestina dari Gaza, yang dianggap perlu untuk mengalahkan Hamas.
Namun, aktivis dan pejuang hak asasi manusia sejak lama menyebutkan bahwa dorongan Israel untuk “kepergian sukarela” sebenarnya merupakan kedok untuk mengusir warga Palestina sepenuhnya dari Gaza, tanpa hak untuk kembali.
Langkah ini juga bertepatan dengan perintah pemindahan paksa dari militer Israel, yang meminta warga Palestina meninggalkan tempat tinggal mereka dengan sedikit pemberitahuan dan harus berjalan kaki menuju tempat perlindungan.
Area yang terkena perintah ini termasuk Khan Younis, al-Mawasi, Rafah, Tal al-Zataar, dan Beit Hanoun.
Perang Israel di Gaza kembali meningkat sejak 17 Maret, dengan sedikitnya 1.000 warga Palestina tewas sejak saat itu, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Kantor media pemerintah Gaza melaporkan bahwa lebih dari 61.700 warga Palestina telah tewas sejak 7 Oktober 2023, dengan angka korban yang sesungguhnya diperkirakan lebih tinggi.
Selain itu, Israel juga telah memblokade semua bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza selama lebih dari sebulan, yang mengundang kecaman internasional.