Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shibani, mengungkapkan bahwa sanksi Amerika Serikat (AS) menghambat kemampuan negaranya untuk pulih dengan cepat setelah bertahun-tahun konflik, lansir Middle East Eye.
Ia pun menyerukan agar Washington mencabut sanksi tersebut.
“Sanksi-sanksi ini merupakan penghalang dan hambatan bagi pemulihan dan perkembangan cepat rakyat Suriah yang menantikan pelayanan dan kemitraan dari negara-negara lain,” ujar Shibani setelah bertemu dengan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, di Doha pada 5 Januari 2025.
Shibani juga menyatakan bahwa Qatar, yang sebelumnya enggan normalisasi hubungan dengan Presiden Bashar al-Assad, kini akan menjadi mitra dalam fase baru pemulihan Suriah.
Kunjungan ini merupakan perjalanan kedua Shibani di kawasan ini dalam waktu kurang dari sebulan setelah pemberontak menggulingkan mantan Presiden Bashar al-Assad.
Delegasi Suriah, yang juga melibatkan Menteri Pertahanan Murhaf Abu Qasra dan kepala intelijen Anas Khattab, mengadakan pertemuan dengan pejabat senior Qatar.
Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri Qatar, Mohammed al-Khulaifi, menyatakan bahwa Shibani mengungkapkan rencana jelas untuk masa depan Suriah, yang mencakup langkah-langkah yang akan diambil oleh pemerintah baru Suriah.
Shibani menjelaskan bahwa peta jalan tersebut bertujuan untuk “membangun kembali negara kami, memulihkan hubungan Arab dan luar negeri, memungkinkan rakyat Suriah mendapatkan hak sipil dan hak dasar mereka, serta menyajikan sebuah pemerintahan yang dirasakan mewakili mereka dan seluruh komponen bangsa.”
Menteri Luar Negeri Suriah ini juga dijadwalkan mengunjungi Uni Emirat Arab dan Yordania pada minggu ini.
Kunjungan luar negeri pertamanya dilakukan ke Arab Saudi pada Rabu lalu, di mana ia bertemu dengan pejabat Saudi untuk membahas cara mendukung transisi politik Suriah.