Saturday, April 5, 2025
HomeBeritaLangkah Turki dirikan pangkalan udara di Suriah picu kekhawatiran Israel

Langkah Turki dirikan pangkalan udara di Suriah picu kekhawatiran Israel

Situs Italia Scenari Economici dan surat kabar Rusia Nezavisimaya Gazeta menyoroti meningkatnya pengaruh Turki di Suriah.

Surat kabar itu juga menyoroti persiapan Ankara untuk menempatkan sistem pertahanan udara dan drone tempur di pangkalan udara T-4 (juga dikenal sebagai Tiyas) di tengah negara tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran besar bagi Israel.

Penulis Fabio Lugano dari situs Italia tersebut mengungkapkan bahwa Ankara dan Damaskus telah bernegosiasi sejak penggulingan rezim Bashar al-Assad pada Desember lalu.

Negoisasi itu untuk menandatangani perjanjian pertahanan bersama. Perjanjian itu bertujuan agar Turki memberikan perlindungan udara dan keamanan militer bagi pemerintahan Suriah yang baru, yang saat ini tidak memiliki sistem pertahanan udara yang memadai.

Lugano menegaskan bahwa Turki berupaya menciptakan stabilitas di negara itu dengan mengandalkan kekuatan militernya, menggantikan kekosongan yang ditinggalkan oleh Rusia dan Iran.

Ankara juga ingin meningkatkan upayanya dalam memerangi kelompok Negara Islam (ISIS), yang merupakan syarat utama agar Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan untuk mundur dari kawasan tersebut.

Sistem pertahanan udara

Situs Italia tersebut menambahkan bahwa Turki telah mulai mengambil langkah untuk menguasai pangkalan udara Tiyas (T-4) dan bersiap untuk melengkapinya dengan sistem pertahanan udara.

Menurut sumber yang dikutip oleh Middle East Eye, Turki juga memiliki rencana untuk membangun kembali pangkalan itu setelah sebelumnya diserang hebat oleh Israel minggu lalu.

“Sistem pertahanan udara Hisar akan ditempatkan di pangkalan T-4 untuk memberikan perlindungan udara,” kata sumber tersebut.

Sumber itu menambahkan bahwa begitu sistem ini beroperasi, pangkalan akan kembali aktif dan diperluas dengan fasilitas tambahan.

“Ankara juga berencana menempatkan drone pengintai dan drone bersenjata, termasuk yang dapat melakukan serangan jarak jauh,” imbuhnya.

Pangkalan ini akan membantu Turki menguasai wilayah udara di sekitarnya dan memperkuat usahanya dalam memerangi kelompok ISIS, yang masih memiliki sel aktif di gurun Suriah.

Ankara ingin menciptakan sistem pertahanan udara berlapis di dalam dan sekitar pangkalan, dengan kemampuan pertahanan jarak dekat, menengah, hingga jauh, untuk menghadapi berbagai ancaman, dari jet tempur, drone, hingga rudal.

Penulis juga mengutip sumber lain yang menyatakan bahwa kehadiran sistem pertahanan udara dan drone milik Turki di pangkalan ini kemungkinan besar akan mencegah Israel melakukan serangan udara di wilayah tersebut.

Sistem S-400

Dalam laporan Nezavisimaya Gazeta, jurnalis Igor Subbotin membahas kemungkinan penyebaran sistem pertahanan udara Rusia S-400 di Suriah.

Hal itu sebagai bagian dari perjanjian pertahanan yang sedang dikembangkan antara Ankara dan Damaskus.

Menurut surat kabar Rusia itu, Turki mungkin akan memindahkan sistem S-400 ke Suriah untuk sementara waktu sampai salah satu pangkalan udara siap digunakan.

Namun, keputusan akhir mengenai hal ini tetap berada di tangan Rusia sebagai pemasok utama sistem tersebut.

Meski begitu, Ankara berharap Moskow akan menyetujui pengiriman sistem ini untuk menjaga kepercayaan dengan Presiden transisi Suriah, Ahmad al-Sharaa.

Laporan tersebut menyatakan bahwa beberapa minggu ke depan akan menentukan apakah pangkalan udara Suriah ini akan menjadi titik awal konflik langsung antara Israel dan Turki — sebuah skenario yang semakin sering diperbincangkan belakangan ini.

Di akhir laporan, Nezavisimaya memperkirakan bahwa pemerintahan transisi Suriah akan segera mengumumkan sikapnya terhadap hubungan dengan AS. Setelah kemungkinan pertemuan antara Sharaa dan Donald Trump selama kunjungan ke Arab Saudi.

Kekhawatiran Israel

Perlu dicatat bahwa Israel secara rutin menyerang fasilitas militer Suriah sejak runtuhnya rezim Assad pada Desember lalu. Dengan peningkatan serangan di sekitar pangkalan T-4 dalam beberapa waktu terakhir.

Pangkalan tersebut — dan juga pangkalan udara Palmyra — diserang oleh angkatan udara Israel pekan lalu, yang menargetkan landasan pacu dan sumber daya strategis.

Menanggapi langkah Turki, seorang sumber keamanan Israel menyatakan kepada media pada hari Senin bahwa pangkalan udara Turki di Suriah akan membatasi kebebasan operasional Israel dan merupakan “ancaman potensial” yang ditentang oleh Tel Aviv.

Penulis juga mencatat bahwa ketegangan antara Turki dan Israel meningkat sejak awal perang di Gaza tahun 2023, yang mengakhiri masa rekonsiliasi singkat antara kedua negara.

Ia menambahkan bahwa jatuhnya rezim Assad dan meningkatnya pengaruh Turki di Suriah telah menimbulkan kekhawatiran yang semakin besar di Israel, yang kini memandang Ankara sebagai ancaman regional yang lebih besar dibandingkan Iran.

Perebutan superioritas udara

Penulis menyampaikan bahwa ada informasi mengenai pertimbangan Ankara untuk menempatkan sistem pertahanan udara S-400 Rusia di pangkalan T-4 atau Palmyra.

Tujuannya, demi melindungi wilayah udara selama proses rekonstruksi. Keputusan akhir tentang hal ini belum dibuat karena membutuhkan persetujuan Rusia.

Namun, penempatan sistem dengan jangkauan hingga 400 km ini akan dianggap sebagai ancaman langsung oleh Israel, dan kemungkinan besar memicu eskalasi militer.

Ia juga mengungkapkan bahwa Turki tengah berupaya mencapai kesepakatan dengan AS untuk kembali memperoleh jet tempur F-35.

Setelah sebelumnya dikenai sanksi pada 2019 yang membuatnya dikeluarkan dari program tersebut karena membeli sistem S-400 dari Rusia.

Dalam percakapan telepon bulan lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan membahas cara untuk mengembalikan Turki ke dalam program F-35.

Namun, menurut hukum AS, Ankara harus melepaskan sistem S-400 terlebih dahulu agar bisa kembali berpartisipasi.

Penulis menutup laporan dengan menyatakan bahwa Israel sangat menentang setiap langkah yang memungkinkan Ankara memperoleh F-35. Karena hal itu dapat melemahkan superioritas militer Israel di kawasan.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular