HomeBeritaLaporan PBB: Krisis Air dan Wabah Hama Perparah Kondisi Kemanusiaan di Gaza

Laporan PBB: Krisis Air dan Wabah Hama Perparah Kondisi Kemanusiaan di Gaza

GAZA — Kekurangan air bersih, penumpukan sampah, dan wabah hama yang meluas memperparah kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza, menurut laporan situasi kemanusiaan terbaru Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang dirilis awal Juni. Laporan itu menggambarkan situasi yang tetap bergejolak dan tidak aman, dengan serangan yang berlanjut hampir setiap hari meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikutip OCHA, 45 warga Palestina tewas, lima jenazah ditemukan, dua orang meninggal akibat luka, dan 254 orang terluka antara 20 Mei dan 3 Juni. Angka ini membawa total korban sejak pengumuman gencatan senjata menjadi 936 jiwa tewas dan 2.903 orang terluka.

Air Bersih Kian Langka

OCHA menyebut akses terhadap air bersih di Gaza memang sudah terbatas sejak awal. Data yang dikumpulkan pada Maret menunjukkan sebagian besar rumah tangga tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum enam liter air untuk minum dan memasak per orang per hari.

Badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, memperingatkan bahwa kelangkaan air memaksa keluarga di Gaza melakukan pilihan sulit setiap hari antara minum, menjaga kebersihan, dan mencegah penyakit. Mitra yang menangani sektor air melaporkan produksi air keseluruhan di Gaza turun sekitar 20 persen pada Mei dibandingkan dua bulan sebelumnya, terutama akibat kekurangan bahan kimia dan suku cadang.

Infrastruktur air dan sanitasi turut rusak akibat serangan. Pada 23 Mei, jalur pipa Emirati terkena dan rusak, dan pada 28 Mei fasilitas di dekat Rumah Sakit Al-Aqsa juga mengalami kerusakan. Perbaikan tengah berjalan, tetapi berlangsung lambat akibat kelangkaan material penting seperti pipa dan sambungan.

Hama dan Penyakit Menyebar

Penumpukan sampah padat di area permukiman menarik tikus dan serangga yang mencemari makanan serta ruang hidup, dan meningkatkan kasus penyakit, terutama pada anak-anak. Antara 26 April dan 30 Mei, penyakit menular menyumbang 20 persen dari konsultasi kesehatan yang dilaporkan ke sistem peringatan dini WHO di Gaza.

Sistem pemantauan insiden mencatat infestasi tikus dan serangga sebagai persoalan paling kritis di 29 lokasi pengungsian di Khan Younis, Deir al-Balah, dan Kota Gaza. Laporan menyoroti kasus berulang anak-anak yang digigit saat tidur, sementara kepadatan penduduk, tempat berlindung yang rusak, dan pengelolaan sampah yang buruk memperburuk keadaan. Sebuah rencana pengendalian hama yang diluncurkan pada 17 Mei telah memulai penanganan di 1.180 lokasi prioritas, namun keberlanjutannya bergantung pada masuknya pestisida secara teratur.

Bantuan Tersendat dan Dana Menipis

Penutupan lintas Zikim sejak 24 Mei membuat seluruh konvoi bantuan dialihkan ke Kerem Shalom, satu-satunya titik masuk kargo yang tersisa, melalui pos pemeriksaan baru yang padat dan memperlambat pengambilan pasokan. Antara 18 dan 31 Mei, hanya separuh truk bantuan dari Mesir yang dapat membongkar muatan di Kerem Shalom.

Kekurangan dana memaksa sejumlah mitra kemanusiaan mengurangi atau menghentikan layanan penting. Sejak pertengahan Mei, empat mitra penyedia air terpaksa menghentikan pengiriman air dengan truk, membuat lebih dari 330.000 orang di sekitar 250 lokasi terancam kehilangan sumber air minum utama. Penyediaan makanan juga turun, dari 1,5 juta porsi harian pada pertengahan Maret menjadi 678.000 porsi per hari pada akhir Mei.

Di tengah kondisi tersebut, perencanaan ujian akhir sekolah menengah (Tawjihi) 2026 tetap berjalan. Sekitar 30.000 siswa telah mendaftar dari perkiraan 34.000 yang memenuhi syarat, dengan ujian dijadwalkan dimulai pada 20 Juni dan sekitar 100 ruang belajar sementara ditetapkan sebagai pusat ujian. (IW)

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler