TULKARM — Sekitar 10 keluarga Palestina di Kota Tulkarm, wilayah pendudukan Tepi Barat, diperintahkan pasukan Israel untuk meninggalkan rumah mereka selama tujuh jam pada Senin (18/8/2026). Perintah tersebut dikeluarkan dengan alasan adanya aktivitas militer di sekitar kamp pengungsi Nur Shams.
Informasi tersebut disampaikan juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric, dalam konferensi pers di New York, Selasa (19/8) kemarin waktu setempat.
Dujarric mengatakan PBB sangat prihatin terhadap memburuknya situasi keamanan dan kemanusiaan yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.
Menurut dia, keluarga-keluarga tersebut tinggal di kawasan Jabal al-Nasr, Tulkarm. Mereka diminta meninggalkan rumah sementara waktu karena aktivitas militer Israel berlangsung di sekitar Kamp Nur Shams.
“Sekitar sepuluh keluarga diperintahkan meninggalkan rumah mereka selama tujuh jam,” kata Dujarric, sebagaimana dikutip Middle East Monitor.
Selama operasi berlangsung, buldoser militer Israel dilaporkan menggali sebagian ruas jalan di kawasan tersebut. Aktivitas itu menyebabkan kerusakan pada jaringan air dan saluran pembuangan.
Selain itu, pasukan Israel juga melakukan pekerjaan penggalian di sejumlah lahan milik warga Palestina sebelum akhirnya meninggalkan kawasan tersebut.
Kerusakan infrastruktur tersebut kemudian ditangani oleh tim pemerintah kota. Setelah pasukan Israel mundur, keluarga-keluarga yang sebelumnya diperintahkan mengungsi sementara diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Pernyataan PBB tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi kemanusiaan dan keamanan di Tepi Barat.
Dujarric menegaskan bahwa PBB terus memantau perkembangan di wilayah tersebut dan menyatakan keprihatinan atas dampak operasi militer terhadap kehidupan warga sipil Palestina.
Tulkarm dan kamp pengungsi Nur Shams merupakan salah satu kawasan di Tepi Barat bagian utara yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan aktivitas militer Israel.
Situasi tersebut menambah tekanan terhadap warga Palestina yang menghadapi pembatasan mobilitas, kerusakan infrastruktur, serta ancaman kehilangan tempat tinggal di tengah konflik yang belum menemukan penyelesaian.
Bagi warga di Jabal al-Nasr, perintah untuk meninggalkan rumah—meski hanya sementara—menjadi gambaran lain dari ketidakpastian yang terus membayangi kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina di Tepi Barat. (cky)


