HomeHeadlineMamlakat Ghazzah: Ketika Gaza Menjadi Ibu Kota Dunia yang Sedang Membangun Kembali...

Mamlakat Ghazzah: Ketika Gaza Menjadi Ibu Kota Dunia yang Sedang Membangun Kembali Dirinya

Di antara reruntuhan yang ditinggalkan Mongol dan kuburan massal yang ditinggalkan Black Death, Gaza mengalami dua abad yang oleh para sejarawan disebut sebagai zaman keemasan. Ini adalah kisah sebuah kota yang tahu cara bangkit — dan harga yang harus dibayar untuk itu.


GAZA CITY — Pada musim panas 1260, pasukan Mongol masuk ke Gaza. Mereka bukan yang pertama — dan bukan yang terakhir — yang menjadikan kota ini medan perang. Tapi invasi Mongol meninggalkan sesuatu yang berbeda dari penakluk-penakluk sebelumnya: bukan hanya kerusakan fisik, tapi kehancuran total jaringan perdagangan yang selama berabad-abad menghidupi kota ini.

Gaza, yang pernah menjadi simpul niaga antara Kairo dan Damaskus, kini koneksi dagangnya hancur berantakan dan posisinya sebagai kota pelabuhan komersial terguncang. Akibat dari kekerasan ekstrem hari-hari penuh pergolakan itu, jalur-jalur perdagangan tradisional Gaza berantakan.

Namun kemudian datanglah sesuatu yang tidak diprediksi siapapun: kebangkitan.

Ain Jalut dan Lahirnya Mamlakat Ghazzah

Pada 3 September 1260, di sebuah lembah di Galilea bernama Ain Jalut, pasukan Mamluk dari Mesir menghadapi pasukan Mongol dalam pertempuran terbuka. Kemenangan Mamluk di Ain Jalut, diikuti kampanye-kampanye di bawah Sultan Baybars I, menandai berakhirnya kehadiran Tentara Salib di Palestina selatan secara efektif dan dimulainya administrasi Mamluk yang sistematis.

Bagi Gaza, kemenangan itu adalah titik balik.

Tahun 1277 menjadi titik perubahan administratif yang kritis. Kampanye Baybars tahun itu terhadap sisa-sisa benteng Tentara Salib dan reorganisasinya atas Suriah selatan sepenuhnya mengintegrasikan Gaza ke dalam sistem negara Mamluk. Sejak saat itu, Gaza berfungsi sebagai pos militer dan logistik utama di jalur antara Kairo dan Damaskus. Mamluk membangun kembali fortifikasi kota, mendirikan benteng, dan menempatkan garnisun untuk mengamankan jalur karavan sekaligus rute barid — sistem pos — yang menghubungkan dua ibu kota.

Dalam nomenklatur administratif Mamluk, distrik Gaza mendapat sebutan yang tidak diberikan kepada wilayah lain di Palestina: mamlaka — kerajaan. Kota Gaza naik menjadi pusat administratif baru bagi dataran pantai selatan. Distrik Gaza, yang dalam nomenklatur administratif Mamluk disebut ‘kerajaan’ (mamlaka), membentang ke utara sepanjang pesisir Palestina hingga kawasan Kaisaria.

Gaza bukan lagi sekadar kota di perbatasan. Ia adalah ibu kota wilayahnya sendiri.

Baybars dan Kota yang Dibangun Ulang

Sultan Baybars bukan sekadar penakluk. Ia adalah pembangun. Setelah kemenangan di Ain Jalut, Baybars menjadikan dirinya sultan dan Gaza merebut kembali kemakmuran masa lalunya. Kota ini segera dipenuhi bangunan-bangunan megah. Baybars membangun masjid baru yang didedikasikan untuk Khalifah Umar di Gaza, di atas tapak Katedral Latin tempat masjid sebelumnya pernah berdiri, dan menghadiahkannya perpustakaan berisi lebih dari 20.000 buku.

Masjid Umar — yang kemudian dikenal sebagai Masjid Omari — bersama Istana Pasha menjadi dua bangunan paling penting di Gaza hingga abad modern. Gaya arsitektur yang dibawa Mamluk — teknik ablaq dengan batu merah dan putih berselang-seling, kubah-kubah batu yang presisi, portal berukir dengan kaligrafi mendalam — mengubah wajah kota secara permanen.

Mamluk adalah patron seni besar yang mensponsori sejumlah besar bangunan keagamaan dan sekuler dalam gaya yang khas. Mereka juga membangun jaringan khan (karavanserai) dan pos-pos surat yang luas, dihubungkan oleh jaringan jalan dan jembatan.

Sistem barid — jaringan pos berkuda Mamluk — adalah salah satu pencapaian administratif paling mengesankan di dunia abad pertengahan. Kurir-kurir berkuda dapat menyampaikan pesan dari Kairo ke Damaskus dalam waktu kurang dari empat hari — kecepatan yang tidak tertandingi di era itu. Gaza adalah simpul penting dalam jaringan ini: setiap surat, setiap perintah militer, setiap informasi intelijen yang bergerak antara dua ibu kota melewati pos-pos di tanah Gaza.

Lahirnya Sebuah Kota: Khan Yunis

Salah satu warisan paling konkret era Mamluk di Gaza bukan berada di kota Gaza sendiri, melainkan 24 kilometer ke selatan — di sebuah desa kecil bernama Salqah yang tidak akan pernah dikenal siapapun jika bukan karena keputusan seorang emir.

Sebelum abad ke-14, Khan Yunis adalah sebuah desa yang dikenal sebagai Salqah. Untuk melindungi karavan, jamaah haji, dan para musafir, sebuah karavanserai besar dibangun di sana oleh Emir Yunis al-Nawruzi pada 1387–88, seorang pejabat tinggi Kesultanan Mamluk. Kota yang berkembang di sekitarnya dinamai Khan Yunis — karavanserai Yunis — untuk menghormatinya.

Karavanserai dari batu kapur ini berfungsi sebagai tempat berlindung bagi para pedagang di jalur karavan. Berbentuk persegi panjang, diperkuat menara bundar di setiap sudut, berlantai dua dengan ruang hunian di lantai atas dan ruang penyimpanan barang dagangan serta hewan di lantai bawah.

Kota pasar yang berkembang pesat di sekitar penginapan itu — dengan pasar Bedouin mingguan setiap Kamis — menjadi stasiun penting bagi karavan-karavan dagang di kawasan tersebut. Khan Yunis juga berfungsi sebagai pos istirahat rutin bagi kurir-kurir layanan pos Mamluk.

Emir Yunis sendiri tidak sempat menikmati warisan yang ia ciptakan. Ia terbunuh atas perintah gubernur Aleppo yang pemberontak pada 1389. Namun namanya melekat pada kota yang ia bangun selama lebih dari enam abad sesudahnya — hingga hari ini.

Wabah Hitam: Ketika Kota yang Sedang Bangkit Kembali Roboh

Di tengah kemakmuran yang sedang dibangun kembali itu, datanglah bencana yang tidak ada persiapannya.

Wabah pes tiba di Gaza, di selatan Palestina, pada April atau Mei 1348, bergerak ke utara dari Mesir yang terinfeksi.

Apa yang kemudian terjadi di Gaza dicatat oleh seorang saksi mata yang kebetulan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat: Ibn Battuta, penjelajah Muslim terbesar abad pertengahan. Ia sedang berada di Aleppo ketika mendapat kabar bahwa wabah telah mencapai Gaza. Ia berbalik arah dan melakukan perjalanan melewati kota-kota yang sedang sekarat.

Di kota Gaza, penduduk melarikan diri ke pedesaan. Setelah mereka pergi, rumah-rumah mereka dijarah oleh para kriminal yang kemudian mati sendiri oleh wabah yang sama. Di luar kota, para petani dilaporkan jatuh mati di ladang-ladang mereka saat sedang membajak.

Gambaran itu — kota yang kosong, rumah-rumah yang dijarah oleh orang-orang yang kemudian mati di dalamnya, mayat yang tergeletak di ladang tanpa sempat dikuburkan — adalah potret Gaza pada musim panas 1348 yang tidak pernah masuk dalam narasi utama sejarah kota ini.

Mamluk, yang biasanya dikenal dengan sistem administrasi dan militer yang sangat terorganisasi, tidak punya jawaban untuk wabah ini. Wabah itu menimbulkan kepanikan yang meluas: kaum tani melarikan diri ke kota untuk menghindari wabah, sementara warga kota melarikan diri ke pedesaan — menciptakan kekacauan dan runtuhnya ketertiban umum. Dua arus pengungsian yang berlawanan arah itu justru mempercepat penyebaran penyakit ke mana-mana.

Gaza yang sedang dibangun kembali oleh Baybars dan para penerusnya kini kembali kehilangan penduduknya — bukan karena pedang, tapi karena sesuatu yang tidak kasat mata dan tidak bisa dilawan dengan tembok apapun.

Antara Dua Bencana: Apa yang Bertahan

Yang luar biasa bukan bahwa wabah datang — hampir semua kota di dunia abad pertengahan mengalaminya. Yang luar biasa adalah bahwa Gaza tetap berfungsi sebagai pusat administrasi dan perdagangan meski dihantam dua bencana besar dalam satu abad.

Masjid Omari, bersama Istana Pasha — kediaman gubernur atau wali — tetap menjadi dua bangunan utama di Gaza hingga hari ini, berdekatan dengan kawasan Shujaiya tempat elit lokal tinggal sejak era Mamluk. Di sisi lain, alun-alun pusat membentang dari kawasan komersial Zaytoun, dengan Hammam Samara yang dipugar pada 1297.

Sistem administrasi mamlaka yang dibentuk Baybars bertahan selama lebih dari dua abad, menjadi kerangka yang kemudian diwarisi Ottoman ketika mereka masuk pada 1517. Nama-nama tempat di Gaza hingga hari ini masih menyimpan jejak era ini: Shujayia, Zaytoun, al-Daraj — semua kawasan yang terbentuk pada masa Mamluk dan bertahan dalam peta kota meski kota di atasnya sudah berganti wajah berkali-kali.

Akhir Era: Pertempuran Kecil yang Mengubah Segalanya

Era Mamluk di Gaza tidak berakhir dengan drama besar. Ia berakhir dengan sebuah pertempuran kecil yang hampir tidak dicatat.

Pada akhir 1516, Khan Yunis menjadi lokasi pertempuran kecil di mana pasukan Mamluk berbasis Mesir dikalahkan oleh pasukan Ottoman di bawah pimpinan Sinan Pasha. Sultan Ottoman Selim I kemudian tiba di kawasan itu dan memimpin pasukan Ottoman menyeberangi Semenanjung Sinai untuk menaklukkan Mesir.

Di tempat yang sama di mana seorang emir Afghanistan membangun karavanserai 129 tahun sebelumnya — di tanah yang dinamai dari namanya — berakhirlah kekuasaan Mamluk atas Gaza. Sebuah peristiwa kecil, di sebuah kota kecil, yang menutup dua abad sejarah paling produktif yang pernah dialami Gaza.

Bulan sabit Ottoman naik menggantikan bulan sabit Mamluk. Dan Gaza, seperti selalu, menyesuaikan diri. (IW)

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler