Thursday, April 3, 2025
HomeBeritaPasukan Israel bunuh 15 pekerja medis dengan tangan terborgol

Pasukan Israel bunuh 15 pekerja medis dengan tangan terborgol

Pasukan Israel dituduh mengeksekusi petugas medis Palestina yang terborgol sebelum menguburkan mereka dalam sebuah kuburan massal di bawah ambulans yang hancur di Rafah, selatan Gaza.

Sebanyak 15 pekerja kemanusiaan hilang minggu lalu setelah merespons panggilan darurat dari warga sipil yang diserang oleh pasukan Israel.

Para pekerja tersebut terdiri dari delapan paramedis dari Palestina Red Crescent Society (PRCS), enam anggota tim pencarian dan penyelamatan dari Pertahanan Sipil Palestina, serta satu staf PBB.

Mereka ditemukan pada akhir pekan di dalam sebuah kuburan massal dengan sekitar 20 tembakan peluru di tubuh masing-masing, menurut Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza.

Setidaknya satu di antara mereka ditemukan dengan kaki terikat, satu lainnya dipenggal, dan yang ketiga dalam keadaan tanpa atasan, tambah Basal.

Ashraf Nasser Abu Labda, salah satu paramedis yang terbunuh, dikenal sebagai seorang relawan yang tidak menerima gaji dan sangat mencintai pekerjaannya, menurut ibunya. “Anak saya sukarela membantu yang terluka. Dia tidak digaji. Dia mencintai pekerjaannya dan berdedikasi untuk itu,” kata ibunya.

Saudaranya menambahkan bahwa Ashraf tidak membawa senjata, melainkan sedang membawa tandu untuk menyelamatkan orang.

“Apa salah anak ini sampai dia harus tumbuh tanpa ayahnya?” ujarnya, sambil memegang keponakannya yang masih bayi.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan beberapa jenazah ditemukan dengan tangan terikat dan luka tembak di kepala serta dada mereka. “Pasukan pendudukan Israel dengan kejam mengeksekusi tim Pertahanan Sipil,” kata Basal.

Ia juga menyatakan bahwa para pekerja kemanusiaan tersebut dikuburkan dalam kuburan massal sedalam dua hingga tiga meter, “sebagai upaya untuk menyembunyikan kejahatan itu.”

Kuburan tersebut ditemukan hanya beberapa meter dari kendaraan mereka, yang menunjukkan bahwa pasukan Israel mengeluarkan korban dari kendaraan, mengeksekusi mereka, dan kemudian membuang tubuh mereka ke dalam lubang tersebut, jelas Basal.

“Ini adalah salah satu pembantaian paling brutal yang pernah terjadi di Gaza dalam sejarah modern,” tambahnya.

Kementerian Kesehatan Palestina mengecam pasukan Israel atas “kejahatan keji” ini dan menyerukan penyelidikan internasional.

PRCS mengungkapkan rasa kesedihannya atas pembunuhan para paramedis yang “diserang oleh pasukan pendudukan Israel saat menjalankan tugas kemanusiaan mereka.”

Jonathan Whittall, kepala kantor urusan kemanusiaan PBB di Palestina, mengatakan bahwa kuburan massal tersebut ditandai dengan lampu darurat dari salah satu ambulans yang hancur.

Kematian para pekerja ini menjadi serangan paling mematikan terhadap pekerja Palang Merah/Palang Merah Setengah Bulan di seluruh dunia sejak 2017, menurut Komite Internasional Palang Merah.

Whittall menjelaskan dalam serangkaian unggahan di X, bahwa pada 23 Maret, 10 paramedis PRCS dan enam petugas Pertahanan Sipil dikerahkan ke Rafah untuk mengevakuasi yang terluka setelah pasukan Israel maju ke wilayah tersebut.

Pasukan Israel kemudian menyerang lima ambulans, mobil pemadam kebakaran, dan kendaraan PBB yang datang belakangan. Kontak dengan mereka terputus.

Tentara Israel dalam pernyataannya mengklaim bahwa kendaraan tersebut diserang karena digunakan oleh Hamas dan Jihad Islam Palestina. Namun, kedua kelompok tersebut membantah menggunakan ambulans untuk tujuan militer.

Setelah lima hari berusaha mengoordinasikan dengan militer Israel, tim PBB akhirnya diberikan izin untuk mengakses daerah tersebut.

Mereka menemukan kendaraan-kendaraan yang hancur dan sebagian terkubur. Setelah berjam-jam menggali, satu jenazah ditemukan di bawah truk pemadam kebakaran.

Whittall menambahkan, “Mereka dibunuh dalam seragam mereka. Mengemudikan kendaraan yang jelas tertera tanda daruratnya. Mengenakan sarung tangan mereka. Dalam perjalanan untuk menyelamatkan nyawa.”

Militer Israel mengatakan telah melakukan “penilaian awal” yang menyatakan bahwa pasukannya menembak beberapa kendaraan yang “bergerak mencurigakan menuju pasukan [Israel] tanpa lampu depan atau tanda darurat”.

Mereka mengklaim pergerakan kendaraan tersebut tidak dikoordinasikan dengan militer Israel sebelumnya, dan wilayah tersebut merupakan “zona pertempuran aktif”.

Namun, Palang Merah dan para medis dengan tegas membantah klaim Israel, dan menyatakan bahwa Tel al-Sultan dianggap aman pada saat itu, sehingga koordinasi tidak diperlukan.

Sejak dimulainya perang di Gaza pada Oktober 2023, pasukan Israel telah membunuh setidaknya 105 anggota Pertahanan Sipil, 27 paramedis PRCS, 284 staf badan PBB, dan hampir 1.400 pekerja Kementerian Kesehatan Palestina. Jumlah korban tewas di Gaza telah melebihi 50.000, termasuk 15.000 anak-anak.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Pengajar HI Universitas Al Azhar Indonesia, Mahasiswa PhD Hubungan Antarbangsa Universitas Sains Malaysia.
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular