JENEWA — Komunitas kemanusiaan PBB meluncurkan Seruan Kilat (Flash Appeal) 2026, meminta dana lebih dari $4 miliar untuk memberikan bantuan penyelamatan jiwa kepada 3,6 juta orang di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Hingga pekan ini, pendanaan yang berhasil dikumpulkan baru sekitar 3 persen dari kebutuhan, meninggalkan celah hampir $3,9 miliar di tengah krisis yang oleh Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) disebut “berat dan sering mengancam jiwa”.
Seruan tersebut menggarisbawahi dua krisis kemanusiaan sekaligus: kehancuran besar dan kekurangan ekstrem di Gaza, serta meningkatnya pengungsian, pembongkaran rumah, kekerasan pemukim, dan pembatasan pergerakan di Tepi Barat. Dana yang diminta akan diarahkan untuk kebutuhan prioritas berupa pangan, air, tempat tinggal, layanan kesehatan dan gizi, sanitasi, bantuan tunai, perlindungan, serta dukungan kesehatan jiwa.
Hampir Seluruh Warga Terusir
Menurut OCHA, hampir seluruh penduduk Gaza yang kini berjumlah sekitar 2,1 juta orang telah terusir dari tempat tinggalnya, tanpa akses memadai ke tempat berlindung, pangan, layanan medis, air bersih, pendidikan, dan mata pencaharian. Sebagian besar pengungsi tinggal di ratusan lokasi padat dalam tenda dan tempat berlindung darurat di seluruh Jalur Gaza.
OCHA menyatakan tidak ada lokasi yang aman atau layak, dan warga nyaris tidak memiliki akses aman ke layanan dasar. Mereka sebagian besar masih terkurung di kurang dari separuh wilayah Gaza, tidak dapat mengakses bagian lain wilayah Palestina maupun bepergian ke luar negeri, kecuali sejumlah kecil pasien yang disetujui untuk evakuasi medis beserta pendampingnya.
Kelaparan di wilayah Gaza telah dikonfirmasi melalui analisis Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terintegrasi (IPC) pada Agustus 2025. Meski ada beberapa perbaikan sejak saat itu, OCHA menyatakan sistem keamanan pangan dan gizi telah runtuh, dan sistem produksi pangan lokal nyaris hancur total.
Akses Bantuan Masih Terhambat
OCHA memperingatkan bahwa hambatan birokrasi yang signifikan, pembatasan akses, dan retorika anti-PBB terus membatasi operasi bantuan. Badan tersebut menekankan bahwa pelaksanaan penuh respons kemanusiaan bergantung pada lingkungan operasi yang stabil dan memungkinkan.
Sepanjang sebagian besar 2025, Gaza menjadi tempat paling berbahaya di dunia bagi pekerja bantuan. Antara 7 Oktober 2023 dan 3 Desember 2025, sedikitnya 578 pekerja bantuan tewas, termasuk 387 personel PBB.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 dan pengesahan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 disebut OCHA memberikan harapan untuk mengonsolidasikan perdamaian. Namun, badan itu menegaskan, hal tersebut belum diterjemahkan menjadi perbaikan nyata di lapangan yang memungkinkan PBB dan mitranya menjalankan rencana gencatan senjata berbasis perlindungan dan menyalurkan bantuan sesuai tingkat kebutuhan warga Palestina.(IW)

