Sebuah rekaman video baru yang muncul terkait dengan pembunuhan 15 pekerja medis Palestina oleh pasukan Israel bertentangan dengan pernyataan awal Israel tentang serangan terhadap konvoi medis di Rafah pekan lalu.
Rekaman yang diambil dari ponsel salah satu anggota medis yang tewas tersebut menunjukkan pasukan Israel menyerang ambulans yang jelas-jelas diberi tanda Palang Merah, dengan lampu darurat menyala, dan para pekerja medis mengenakan rompi.
Pejabat dari Palang Merah Palestina menyatakan dalam konferensi pers pada Jum’at di markas PBB bahwa mereka telah menyerahkan rekaman hampir tujuh menit tersebut kepada Dewan Keamanan PBB.
Pekan lalu, para pekerja kemanusiaan ini hilang setelah merespons panggilan darurat dari warga sipil yang terluka akibat serangan Israel di Rafah.
Middle East Eye has obtained the full video from the Palestine Red Crescent Society (PRCS), documenting an Israeli attack on medical workers in Gaza. The video was recovered from the phone of one of the medics who was killed and later discovered in a mass grave.
In the video,… pic.twitter.com/0veQvyP3Dx
— Middle East Eye (@MiddleEastEye) April 5, 2025
Kontak dengan mereka terputus, dan beberapa hari kemudian, mereka ditemukan dalam kuburan massal, dua hingga tiga meter dalamnya, dengan tubuh mereka penuh luka tembakan, menurut Pertahanan Sipil Palestina di Gaza.
“Mereka dibunuh dalam seragam mereka. Mengendarai kendaraan yang jelas diberi tanda. Mengenakan sarung tangan mereka. Dalam perjalanan untuk menyelamatkan nyawa,” kata Jonathan Whittall, kepala kantor urusan kemanusiaan PBB di Palestina.
Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan pasukan Israel telah mengeksekusi para medis tersebut, beberapa di antaranya terikat tangan, sebelum mengubur mereka di bawah ambulans yang hancur di Rafah, Gaza Selatan.
Pernyataan awal militer Israel menyebutkan bahwa kendaraan-kendaraan tersebut diserang karena mereka digunakan oleh Hamas dan Jihad Islam Palestina. Namun kedua kelompok tersebut membantah menggunakan ambulans untuk tujuan militer.
Rekaman baru tersebut membantah klaim pasukan Israel yang menyebutkan bahwa kendaraan darurat “teridentifikasi bergerak mencurigakan menuju pasukan [Israel] tanpa lampu depan atau sinyal darurat”, yang memicu tembakan dari pasukan Israel.
Video tersebut menunjukkan pekerja penyelamat yang keluar dari truk pemadam kebakaran dan ambulans, kemudian mendekati ambulans yang rusak dan terhenti di pinggir jalan. Tiba-tiba tembakan hebat terdengar dan mengenai konvoi tersebut. Suara para pekerja bantuan dan perintah dalam bahasa Ibrani dari tentara terdengar di latar belakang.
Seorang pekerja medis terdengar mengatakan bahwa pasukan Israel menembaki kendaraan mereka. Kemudian ia meminta maaf kepada ibunya, “Ibu, maafkan saya. Ini jalan yang saya pilih – saya ingin membantu orang. Maafkan saya, Ibu. Saya bersumpah, saya hanya mengambil jalan ini untuk membantu orang.”
Kantor media pemerintah Gaza dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa pengungkapan ini “membuktikan kebohongan tentara pendudukan Israel” dan telah menuntut penyelidikan internasional yang independen terkait pembunuhan tersebut.
Pekerja kemanusiaan yang tewas itu termasuk delapan paramedis dari Palang Merah Palestina, enam anggota tim pencarian dan penyelamatan Pertahanan Sipil Palestina, dan satu staf PBB.
Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, mengatakan bahwa setidaknya salah satu dari mereka ditemukan dengan kaki terikat, yang lain terpenggal kepalanya, dan seorang lainnya dalam keadaan topless.
“Kuburan massal ini ditemukan hanya beberapa meter dari kendaraan mereka, menunjukkan bahwa pasukan [pendudukan] Israel menarik para korban dari kendaraan, mengeksekusi mereka, lalu membuang tubuh mereka di lubang tersebut,” kata Basal.
Pembunuhan ini menjadi serangan paling mematikan terhadap pekerja Palang Merah/Palang Merah Bulan Sabit di seluruh dunia sejak 2017, menurut Komite Internasional Palang Merah.
“Anak saya sukarela untuk membantu yang terluka. Dia tidak menerima gaji. Dia mencintai pekerjaannya dan sangat berdedikasi,” kata ibu salah satu paramedis, Ashraf Nasser Abu Labda, kepada Middle East Eye minggu lalu.