HomeBeritaSetahun Kepergian Abu Ubaidah, Suara dan Pesan Perjuangannya Tetap Bergema

Setahun Kepergian Abu Ubaidah, Suara dan Pesan Perjuangannya Tetap Bergema

GAZA MEDIA – Dengan jari telunjuk yang diacungkan ke atas, suara yang tegas dan lantang, di bawah slogan “Dan sesungguhnya jihad itu adalah kemenangan atau syahid”, para pengguna media sosial memperingati satu tahun gugurnya Hudhaifa al-Kahlout, yang dikenal dengan “Abu Ubaidah” dan julukan “Al-Mulatham” (pria bertopeng). Mantan juru bicara militer Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas, yang gugur dalam serangan Israel di Kota Gaza.

Para pengguna dan aktivis media sosial kembali mengingat berbagai pernyataan dan sikapnya dengan sejumlah fase penting dalam perkembangan genosida di Gaza sejak operasi yang dirilis Hamas dengan nama “Badai Al-Aqsa”.

Kenangan keluarga

Keluarga almarhum juga memperingati satu tahun kepergiannya melalui unggahan emosional di media sosial. Saudaranya, Suhaib al-Kahlout, menulis melalui akun X miliknya, mengungkapkan perasaan duka dan kerinduan yang bercampur dengan penerimaan dan kepasrahan. Ia mendoakan agar almarhum memperoleh tempat tertinggi di surga Firdaus serta memohon rahmat bagi seluruh syuhada.

Sementara itu, Ibrahim al-Kahlout, putra Hudhaifa, mengunggah sebuah video yang memperlihatkan kufiyah merah yang biasa dikenakan Abu Ubaidah saat menyampaikan pidato.

Hamas mengenang Abu Ubaidah

Hamas mengatakan 30 Agustus bertepatan dengan peringatan satu tahun gugurnya juru bicara Brigade Izzuddin al-Qassam, Hudhaifa al-Kahlout atau Abu Ubaidah.

Menurut Hamas, sosok Abu Ubaidah dan suaranya menjadi bagian dari fase penting dalam sejarah rakyat Palestina, serta gaungnya terus melekat dalam ingatan banyak orang.

Hamas juga menyebut Abu Ubaidah, dengan suaranya yang lantang dan kufiyah merahnya, sebagai salah satu simbol perlawanan Palestina yang menginspirasi jutaan orang dan meninggalkan kesan kuat dalam ingatan satu generasi.

Di berbagai platform media sosial, banyak pengguna turut menyampaikan reaksi atas kepergiannya dan mengingat pengaruh Abu Ubaidah oleh berbagai kalangan masyarakat.

Para pengguna media sosial menyebut 30 Agustus bukan sekadar berlalunya satu bulan atau tanggal biasa, tetapi sebagai momentum mengenang kepergian sosok yang selama ini dianggap memberikan harapan dan rasa aman. Mereka mengatakan  meski sosok bertopeng tersebut telah tiada, kepergiannya justru membuat kata-kata dan suaranya semakin hadir dalam ingatan orang-orang yang mengenal dan mengikutinya.

Setahun telah berlalu

Salah seorang pengguna media sosial menulis:

“Setahun telah berlalu sejak kepergian seorang pria yang bukan sekadar suara yang terdengar dari balik topeng. Ia adalah suara Gaza ketika dunia terasa semakin sempit baginya, dan suara sebuah bangsa yang bersikeras untuk didengar meski berada dalam penjajahan dan blokade.”

Ia melanjutkan setahun telah berlalu, tetapi kepergian tersebut tidak menghapus kehadirannya.

“Apa yang ditinggalkan Abu Ubaidah bukan sekadar gambar atau kata-kata, melainkan jejak yang tetap berada dalam ingatan masyarakat dan hati mereka yang mengikuti Gaza ketika menghadapi penjajahan Israel dengan kesabaran dan keteguhan. Pemilik suara itu telah pergi, tetapi kata-katanya tetap menjadi saksi sebuah fase yang tidak akan dilupakan Palestina.”

Kemunculan pertama pada 2004

Salah seorang blogger juga menyebut kemunculan pertama Abu Ubaidah terjadi pada 2004. Ia mengenang momen tersebut dengan mengatakan:

“Saya masih mengingat wawancara itu di televisi dengan jelas. Saat itu saya duduk di samping ayah saya—semoga Allah merahmatinya—ketika ia memuji gaya pidatonya dan kefasihan bahasa Arabnya.”

Ia kemudian menambahkan sejak saat itu suara Abu Ubaidah dianggap memiliki pengaruh kuat terhadap para pendengarnya.

“Kau telah pergi secara fisik, tetapi kata-katamu tetap menjadi pedang yang tegas, kufiyah merahmu menjadi simbol perjuangan yang tidak tunduk dan tidak jatuh hingga penjajahan berakhir.”

Simbol Perjuangan Suara Gaza

Berbagai unggahan yang beredar memiliki kesamaan pandangan, Abu Ubaidah bukan sekadar juru bicara militer yang muncul dari balik topeng, tetapi juga dipandang sebagai simbol suara dan keteguhan rakyat Gaza di tengah blokade dan penjajahan.

Meski satu tahun telah berlalu, para pengikutnya terus mendoakan Abu Ubaidah dan para syuhada di Gaza. Mereka juga menyampaikan harapan akan masa depan yang sepadan dengan besarnya pengorbanan dan kesabaran rakyat Palestina.

Sumber: Al-Jazeera.net

ARTIKEL TERKAIT

Terkini