Penduduk kota Jaba, di utara Yerusalem, menyebut operasi penghancuran yang dilakukan Israel hari ini sebagai “pembantaian”.
Hal itu disebabkan karena Israel menghancurkan rumah-rumah seluruh keluarga, serta bangunan yang digunakan untuk peternakan milik keluarga-keluarga tersebut.
Di daerah Al-Kasarat, di pinggiran Jaba, bulldozer Israel yang dikawal oleh pasukan bersenjata menghancurkan sebuah rumah milik keluarga Al-Mleihat-Ka’abneh, yang memiliki luas 300 meter persegi.
Rumah ini dihuni oleh 3 saudara beserta istri dan anak-anak mereka. Selain itu, 2 barak tempat tinggal saudara keempat mereka serta 3 barak yang digunakan untuk beternak domba juga dihancurkan.
Menurut Mohammed Al-Mleihat, keluarganya terkejut saat pasukan Israel tiba-tiba menyerbu rumah mereka dan langsung menghancurkannya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang mereka, sehingga dalam sekejap mereka menjadi tunawisma.
Mohammed menjelaskan bahwa rumah tersebut dibangun pada tahun 1975. Keluarganya telah menyelesaikan semua dokumen legal serta mendapatkan izin pada tahun 1988. Mereka tidak pernah menyangka bahwa suatu hari rumah tersebut akan dihancurkan.
Penghancuran tanpa peringatan
Sekitar 1,5 kilometer dari lokasi pertama, penghancuran juga terjadi di daerah Ras Al-Hayy, menargetkan 2 apartemen milik Khalil dan Ibrahim Obeidi, yang sekarang kehilangan tempat tinggal bersama keluarga mereka. Akibatnya, 17 orang kini hidup tanpa rumah.
Bukan hanya rumah yang dihancurkan, pasukan Israel juga menembak kaki Khalil ketika ia mencoba bertahan di tanah dan rumahnya.
Ia meminta untuk melihat surat perintah penghancuran, tetapi tentara langsung mengusir dan menyerangnya sebelum bulldozer meratakan rumahnya.
Atta Obeidi, saudara Khalil dan Ibrahim, menjelaskan bahwa tentara Israel menyerbu daerah tersebut di pagi hari dan langsung mengumumkan bahwa kedua rumah itu akan dihancurkan saat itu juga.
“Kami meminta mereka menunjukkan surat perintah penghancuran, tetapi mereka menolak, dengan alasan bahwa mereka memiliki perintah untuk segera menghancurkan rumah-rumah tersebut,” kata Atta kepada Al Jazeera.
Setelah memukuli warga yang mencoba bertahan, tentara Israel menembak Khalil. Tentara juga mengusir keluarga mereka dengan paksa sebelum meratakan kedua rumah menjadi puing-puing.
Total biaya pembangunan rumah-rumah ini mencapai 350.000 shekel (sekitar 95.000 dolar AS).
Para pemilik rumah masih membayar cicilan konstruksi dan perabotan, tetapi kini mereka kehilangan segalanya dan hidup tanpa tempat tinggal.
“Para tetangga membuka rumah mereka untuk menampung anak-anak dan perempuan sementara waktu, tetapi mimpi buruk penghancuran ini mengancam seluruh wilayah Ras Al-Hayy. Sepuluh tahun lalu, lebih dari 60 keluarga di daerah ini telah menerima pemberitahuan bahwa rumah mereka akan dihancurkan,” tambah Atta Obeidi.
Setelah ditembak, Khalil akan menjalani operasi di kakinya sebelum dia keluar dari rumah sakit dan kembali ke Jaba untuk memulai hidup baru dari nol, setelah masa lalunya, masa kini, dan masa depannya dihancurkan dalam sekejap.
Pengusiran massal
Adli Obeidi, sepupu Khalil dan Ibrahim, juga menghadapi ancaman penghancuran rumahnya. Ia menjelaskan bahwa lokasi Ras Al-Hayy sangat strategis, terletak di atas gunung yang menghadap jalan utama dan pos pemeriksaan militer Jaba.
Israel mengklaim bahwa rumah-rumah di daerah itu terlalu dekat dengan jalan, sehingga harus dihancurkan.
Namun, menurut Adli, alasan sebenarnya adalah karena Israel berencana membangun proyek permukiman ilegal di atas tanah Jaba. Proyek itu tidak dapat terlaksana tanpa menghancurkan rumah-rumah dan mengusir penduduknya.
Sejak pagi ini, 8 bangunan, termasuk rumah dan kandang ternak, telah dihancurkan di Jaba. Sementara itu, kemarin bulldozer milik Pemerintah Kota Israel juga menghancurkan 5 bangunan di kota Anata, yang terletak di belakang tembok pemisah ilegal.
Selain itu, Israel juga menghancurkan sebuah kandang kuda dan meratakan tanah di kota Issawiya, di Yerusalem Timur, serta beberapa bangunan di kota Abu Dis.
Pada bulan Maret lalu, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan, terjadi 15 operasi penghancuran di wilayah Yerusalem.
Lima di antaranya dilakukan secara paksa oleh pemilik rumah sendiri, sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh Al Jazeera.