YORDANIA

Ngemis Normalisasi, Presiden “Israel” Kunjungi Yordania

GAZA MEDIA, AMMAN –  Presiden penjajah “Israel”, Isaac Herzog tiba di ibukota Yordania, Amman untuk bertemu Raja Abdullah II bin Al Hussein. Rabu (30/3/2022).

 

Dikutip dari Media Penyiaran kantor presiden “Israel” yang dikonfirmasi oleh kedua negara, kunjungan tersebut didampingi Naftali Bennett dan Yair Lapid selaku Perdana Menteri Luar Negeri “Israel”. Kedua belah pihak akan membahas penguatan hubungan dalam menjaga stabilitas kemanaan selama bulan Ramadhan mendatang serta mempromosikan perdamaian dan normalisasi “Israel” dengan negara lain.

 

Diketahui, pihak penjajah mengkhawatirkan eskalasi serangan di wilayah Palestina, terutama Al-Quds dan beberapa kota di Tepi Barat lainnya mengingat masifnya operasi serangan beberpa minggu terkahir oleh beberapa pejuang Palestina. [ml/as/ofr]

Tolak Israel, Pemain Tenis Yordania Mundur dari Turnamen Sharm El-Sheikh

GAZAMEDIA, AMMAN- Pemain tenis Yordania, Musa Al-Qutb mengumumkan pengunduran dirinya dari Turnamen Internasional Sharm El-Sheikh di Mesir, sebagai penolakan dalam menormalkan perwakilan penjajah ‘Israel’ bermain di turnamen tersebut. Rabu (23/3/2022).

Al-Qutb menulis di akun Facebook-nya: “Bermain melawan perwakilan entitas Zionis adalah pengakuan atas keberadaannya, mundur adalah kemenangan yang sesungguhnya.”

Patut dicatat bahwa sejumlah besar atlet Arab mengundurkan diri dari beberapa turnamen internasional karena menolak keberadaan pemain penjajah ‘Israel’. [ml/as/terj.nb]

Baqa`a, Kamp Pengungsi Palestina Terbesar di Yordania

Setelah lebih dari 53 tahun, kamp pengungsi Palestina Baqa’a tetap menjadi kamp pengungsi Palestina terbesar di Yordania. Kamp ini menjadi saksi penderitaan para pengungsian. Rincian tentang peristiwa Nakba (tragedi 1948) dan Naksa (traagedi 1967) hadir di gang-gang kamp dan bangunan rumah-rumah lamanya, seperti dikutip dari Palinfo.

Kamp Baqa’a terletak 20 km dari ibu kota Yordania, Amman. Berada di atas lahan seluas kurang lebih 1,5 km2. Hanya bisa terus berkembang secara vertikal saja. Meskipun fondasi bangunan-bangunan yang ada lemah, beberapa di antaranya masih mempertahankan atap seng. Gang-gang dan jalan-jalan yang sempit tampak sebagai bukti penderitaan berkelanjutan kisah para pengungsi Palestina.

Kamp Baqa’a adalah salah satu dari 13 kamp pengungsi Palestina di Yordania. Kamp ini didirikan pada tahun 1968. Dengan tujuan untuk menampung pengungsi Palestina dan pengungsi yang meninggalkan Tepi Barat dan Jalur Gaza, akibat tragedi Naksa pada tahun 1967.

Menurut data UNRWA, ketika kamp Baqa’a didirikan, kamp tersebut adalah kamp yang besar, dengan 5.000 tenda yang dialokasikan untuk menampung 26.000 pengungsi di area seluas 1,4 kilometer persegi.

Atap seng

Banyak rumah di kamp mengalami bocor saat hujan selama musim penghujan karena atapnya masih seng. Kondisi ini yang mendorong warganya untuk menutupinya dengan penutup plastik guna mengurangi derasnya air yang masuk akibat bocor. Demikian seperti yang dijelaskan oleh Kepala Komite Layanan di Kamp Baqa’a, Hassan Marshoud

Kepada koresponden Pusat Informasi Palestina, Marshod menyatakan bahwa banyak rumah di kamp sudah tua dan tidak ada sarana keuangan untuk memperbaiki kondisinya.

Marshoud menegaskan bahwa Komite Layanan Kamp telah membagikan sekitar 5 ton terpal plastik, hanya untuk menutupi atap seng. Selain ada masalah genangan-genangan air di jalan-jalan kamp selama musim penghujan.

Kemiskinan dan pengangguran

Menurut Marshoud, “Kamp Baqa’a mengalami banyak masalah, termasuk kemiskinan. Ini terbukti dari fakta bahwa rumah-rumah tetap mempertahankan struktur lama mereka. Meskipun ada 50 lembaga amal di kamp, mereka tidak dapat membantu keluarga-keluarga untuk menyediakan sarana keuangan guna merehabilitasi rumahnya, lembaga-kembaga tersebut membantu mereka untuk menyediakan kebutuhan dasar.”

Kemiskinan ini disebabkan oleh tingkat pengangguran yang tinggi, yang telah mencapai hampir 30%. Ini adalah angka yang tinggi sebagai akibat dari kepadatan kamp dengan populasi sekitar 120-130 ribu orang. Banyak di antara mereka bergantung pada pekerjaan dari pemerintah, pada saat UNRWA menghentikan layanannya belakangan ini.

Marshoud menyebutkan bahwa salah satu masalah utama kamp Baqa’a adalah kurangnya kebersihan dan penumpukan sampah di jalan-jalan, akibat kelalaian UNRWA dalam aspek ini, sebagai pihak yang berwenang dalam hal ini. Dia menyatakan bahwa petugas kebersihan hanya bekerja dari pagi sampai jam satu siang, setelah itu sampah menumpuk di jalan-jalan tanpa pengawasan.

Kepadatan dan kesulitan perluasan

Kamp Baqa’a mengalami kepadatan penduduk, sebagai akibat dari area yang terbatas, serta pembatasan perluasan bangunan, termasuk tidak diizinkan pembangunan lantai empat. Rafiq Kharfan, Direktur Jenderal Departemen Urusan Palestina, menjelaskan bahwa “pembangunan lantai empat yang mencakup semua kamp Palestina di Yordania tidak diperbolehkan, ini terkait dengan fondasi yang lemah di mana unit perumahan dibangun.

Dia menyatakan bahwa pemberian persetujuan pembangunan lantai dua dan tiga memerlukan surat keterangan asal (Certificate of Origin) dari kantor teknik untuk memikul tanggung jawab menaikan bangunan rumah.

Awal mula kamp ini berupa tenda-tenda. Demikian dijelaskan Salama Daadas, mantan direktur UNRWA kepada koresponden Pusat Informasi Palestina. Sebelum kemudian tenda diganti dengan perumahan siap pakai.

Dia menambahkan, “Awal kamp pada tahun 1968 adalah tenda-tenda yang dibagikan kepada para pengungsi. Setelah itu diganti dengan perumahan yang sudah jadi. Untuk diketahui bahwa tanah tempat tenda didirikan adalah tanah sewaan dan milik -sukuYordania yang tinggal di daerah tersebut.

Antara tahun 1969 dan 1971, UNRWA mengganti tenda dengan 8.000 rumah pra-bangun untuk melindungi orang dari kondisi musim dingin yang keras di Yordania. Kemudian, sebagian besar warga pengungsi terpaksa membangun rumah-rumah beton yang lebih kuat dan lebih tahan lama.

Daadas menyatakan bahwa kamp tersebut dikelilingi oleh lahan pertanian yang diairi dengan air tanah, yang menjadikannya sebagai daerah pertanian kedua setelah Lembah Yordan, yang memberikan kesempatan kepada warga kamp untuk bekerja di bidang pertanian.

Dia menambahkan, kamp tersebut dikelilingi oleh sejumlah pabrik, seperti pabrik aluminium Aral, pabrik farmasi, pabrik plastik, dan lain-lain, yang memberikan kesempatan kerja bagi penghuni kamp.

Krisis pendidikan

Pihak UNRWA yang mensupervisi pendidikan di kamp selama tahap pendidikan dasar. Di mana UNRWA memiliki 16 sekolah untuk putra dan putri. Jumlah siswa diperkirakan 16.000. Sedangkan untuk tahap pendidikan menengah , ada dua sekolah untuk putra dan dua sekolah untuk putri dari Kementerian Pendidikan Yordania.

Salah satu masalah pendidikan yang paling menonjol di kamp adalah tingginya jumlah siswa dalam satu kelas yang terdiri dari lebih dari 50 siswa putra atau putri. Hal ini menyebabkan menurunnya tingkat prestasi akademik siswa.

Kurangnya penunjukan guru baru, mengakibatkan sejumlah besar guru adalah gugur pengganti. Hal ini diakibatkan oleh defisit keuangan kronis yang terjadi pada UNRWA. Kondisi ini menyebabkan kurang amanya pekerjaan bagi para guru.

Penderitaan yang dialami kamp pengungsi Palestina Baqa’a menjadi contoh penderitaan para pengungsi Palestina yang tersebar di seluruh dunia.

Lebih dari 2,1 juta pengungsi Palestina terdaftar tinggal di Yordania. Semua pengungsi Palestina di Yordania menikmati kewarganegaraan penuh Yordania, kecuali sekitar 140.000 pengungsi dari Jalur Gaza.[]

 

Sponsor Rally di Yordania Mundur Karena Partisipasi “Israel”

Amman, Gazamedia.net – Sponsor dan perusahaan mengumumkan penarikan diri dari perhelatan lomba “Jordan Baja World Rally” di Aqaba karena partisipasi dari pemain “Israel”, Kamis malam (17/2).

Restoran Hamada mengatakan dalam sebuah tweet: “Grup Hamada mengumumkan penarikannya dari mensponsori Kejuaraan Baha. Tegs, kami menolak segala bentuk normalisasi dengan penjajah.”

Jalur ajang Rally Yordania dimulai dari desa Ayla Marina di kota Aqaba Baja. Putaran pertama Piala Timur Tengah untuk Short Cross Country Rally – FIA – Baja, untuk musim 2022, dan putaran kedua Piala Dunia untuk Reli Lintas Alam Pendek – FIA – Baja.

Keikutsertaan para pemain “Israel” menyusul kunjungan delegasi Yordania yang terdiri dari Gubernur Aqaba dan para pejabat di Selatan Palestina, Kota “Eilat” yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dengan penjajah “Israel” di kota Aqaba. []

Delegasi Yordania Berkunjung ke “Israel”

Gazamedia.net – Delegasi Yordania yang dipimpin oleh gubernur kota Aqaba, Muhammad Al-Rafai’a, tiba di wilayah Negev-“Israel” untuk kunjungan normal dan berpartisipasi dalam konferensi Yordania-“Israel”, Rabu (17/2/2).

Saluran Ibrani 11 mengatakan bahwa konferensi tersebut akan diadakan untuk “memperbarui kerja sama yang telah dimulai sebelumnya di berbagai bidang yang terkait dengan kota Eilat dan Aqaba.”

Channel tersebut menyatakan bahwa konferensi tersebut menjadi saksi partisipasi sejumlah pejabat dari Kota Eilat dan Kementerian Luar Negeri “Israel”.

Pertemuan tersebut akan dilakukan dalam upaya memperbaharui dan mengaktifkan lampiran-lampiran Perjanjian Wadi Araba, yaitu terkait penguatan kerjasama lokal di kawasan Aqaba, Eilat dan Arava.

Ia menganggap pertemuan ini sebagai “indikasi lain dari kehangatan hubungan antara kedua belah pihak, dalam beberapa bulan terakhir menandatangani beberapa perjanjian kerja sama di bidang air dan pertanian, dan juga untuk mempromosikan pertukaran perdagangan antara Yordania dan Otoritas Palestina.”

Patut dicatat bahwa Januari lalu, Raja Abdullah II dari Yordania menerima Menteri Pertahanan “Israel”, Benny Gantz, dalam sebuah pertemuan publik di mana mereka membahas cara-cara untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas di “kawasan” tersebut. [terj/AF].

Bentrok dengan Penyusup, Seorang Perwira Militer Yordania Gugur

GAZAMEDIA, AMMAN – Kantor pusat militer Kerajaan Yordania mengumumkan seorang perwira berpangkat kapten dinyatakan gugur dan 3 anggota lainya mengalami luka-luka dalam insiden bentrokan dengan penyusup di perbatasan timur laut Suriah.

Seorang komandan militer Yordania mengatakan kepada badan resmi Yordania jika pasukan penjaga perbatasan di salah satu front perbatasan timur laut mendapat kecaman dari penyusup pada Ahad (16/1/) dini hari waktu setempat.

“Tanggapan itu dibalas dan aturan keterlibatan diterapkan, sebagai dorongan agar para penyusup melarikan diri ke pedalaman Suriah, ” kata komandan militer tersebut.

Dia menekankan bahwa angkatan bersenjata Yordania berupaya dengan kekuatan dan ketegasan melawan penyusupan dan penyelundupan untuk melindungi perbatasan dan mencegah mereka yang mencoba merusak keamanan nasional Yordania. []

Yordania dan Israel Sepakati Peningkatan Ekspor ke Pasar Palestina

GAZAMEDIA, AL-QUDS – Dua negara tetangga Palestina yaitu Pemerintah kerajaan Yordania dan Israel menandatangai perjanjian kontrak kerjasama terkait peningkatan sejumlah prodak yang dizinkan untuk di ekspor ke wilayah Palestina, Rabu (3/10) kemarin.

Pertemuan para mentri dibidang Ekonomi kedua negara tersebut membahas persoalan hubungan dagang dan peningkatan kerjsama keamanan dibidang sipil. Pasalnya, kedua negara tersebut sempat mengalami kerenggangan dalam bidang diplomatik.

Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Youssef Al-Shamali, mengindikasikan bahwa konsensus yang ditandatangani hari ini adalah hasil kerja keras tim teknis dari kedua belah pihak untuk mempelajari proposal pihak Yordania untuk meningkatkan ekspor Yordania ke pasar Palestina, yang telah diajukan ke meja perundingan pada tahun 2018.

“Melengkapi koordinasi yang sedang berlangsung antara pemerintah Kerajaan Hashemite Yordania dan pemerintah Negara Palestina, untuk memperkuat hubungan kerja sama bilateral di bidang komersial dan investasi,” kata Al-Shamali.

Al-Shamali menekankan bahwa sejak saat itu, tim teknis telah berusaha keras untuk mempelajari skenario dan kemungkinan alternatif untuk menghasilkan solusi konsensus yang sepenuhnya mempertimbangkan kepentingan pihak-pihak terkait, seperti pentingnya mendukung ekonomi dan Palestina.

“Disatu sisi untuk meningkatkan kemampuan komersial, selain memfasilitasi akses produk Yordania ke pasar, juga menjadi pertimbangan, di sisi lain, dengan mengatasi kesulitan yang membatasi aliran produk ekspor kepentingan Yordania ke pasar Palestina,” jelasnya.

Lebih lanjut, Al-Shamali juga menyinggung soal pembatasan yang terkandung dalam kerangka Protokol Ekonomi Paris, yang menetapkan kuota untuk daftar barang Yordania yang diimpor sesuai dengan prosedur pabean dan spesifikasi teknis Palestina.

Dia mengatakan bahwa diskusi ini akhirnya menghasilkan konsensus mengenai daftar barang Yordania baru yang akan menikmati perlakuan istimewa ketika memasuki pasar Palestina, dengan nilai tahunan sekitar $730 juta, untuk mencapai kepentingan dan kepentingan Yordania dan Sektor swasta Palestina, karena 425 barang Yordania akan menikmati perkiraan nilai tahunan.

Sekitar $500 juta untuk hak istimewa mengakses pasar Palestina, dibebaskan dari bea cukai dan tunduk pada prosedur komersial serta spesifikasi teknis dan persyaratan Palestina yang berlaku.

Selain itu, 329 barang Yordania, dengan nilai tahunan sekitar $ 230 juta, akan menikmati pembebasan bea masuk ketika mengekspor ke pasar Palestina, dan setelah mencapai spesifikasi teknis dan persyaratan yang berlaku untuk pihak Israel.[]