Februari 1799. Seorang jenderal muda berusia 29 tahun berhenti sejenak di sebuah kota tua di tepi laut, beristirahat tiga malam, lalu pergi mengejar takdirnya — dan tak pernah tahu bahwa kota kecil itu akan bertahan jauh lebih lama dari semua ambisinya.
GAZA CITY — Pada 25 Februari 1799, pasukan Prancis di bawah komando Napoleon Bonaparte memasuki Gaza tanpa perlawanan berarti. Kota itu menyambut mereka dalam kesunyian — bukan kekalahan, melainkan pilihan pragmatis warga yang telah menyaksikan begitu banyak penakluk datang dan pergi selama ribuan tahun.
Napoleon singgah tiga malam. Ia menginap di sebuah istana tua berlantai dua di jantung Kota Lama Gaza — bangunan yang kini dikenal dengan empat nama sekaligus: Qasr al-Basha, Istana Radwan, Benteng Napoleon, dan Dar al-Sa’ada, atau “Rumah Kebahagiaan.”
Ironi terakhir itu mungkin yang paling menyakitkan.
Istana Tiga Nama Sebelum Napoleon Datang
Bangunan yang ditempati Napoleon bukan istana biasa. Lantai dasarnya dibangun pada pertengahan abad ke-13 oleh Sultan Mamluk Zahir Baibars — penakluk Mongol, pejuang Perang Salib, dan salah satu sultan paling berpengaruh di dunia Islam abad pertengahan. Ciri khasnya masih terlihat di fasad bangunan: relief dua ekor singa yang saling berhadapan, lambang pribadi Baibars.
Lantai atas ditambahkan pada era Ottoman. Pada abad ke-17, bangunan itu menjadi kediaman dinasti Radwan — keluarga gubernur lokal yang memerintah Gaza selama lebih dari satu abad di bawah naungan kekaisaran Ottoman. Di sinilah ia mendapat nama Qasr al-Basha: Istana Sang Gubernur.
Saat Napoleon tiba, bangunan itu sudah berumur lebih dari 500 tahun. Ia telah menyaksikan Mamluk, Ottoman, dan kini — untuk pertama kalinya — tentara Eropa.
Perjalanan Menuju Bencana
Napoleon tidak datang ke Gaza untuk berwisata. Ia sedang menjalankan rencana yang, di atas kertas, terlihat brilian: menyerang terlebih dahulu sebelum Kekaisaran Ottoman sempat menggempur Mesir yang baru saja ia taklukkan.
Pada 10 Februari 1799, Napoleon meninggalkan Kairo menuju Suriah. Target pertamanya adalah El-Arish, yang akhirnya menyerah pada 19 Februari setelah pengepungan tak terduga. Dari sana, pasukan bergerak melalui padang pasir Sinai.
Dalam ekspedisi ini Napoleon memimpin 13.000 orang, terdiri dari empat divisi di bawah komando Jenderal Reynier, Kléber, Bon, dan Jean Lannes, dengan pasukan kavaleri dipimpin Joachim Murat.
Setelah melakukan pawai lebih dari 60 league melewati gurun, Gaza direbut lima hari kemudian. Tidak ada pertempuran berarti. Warga kota memilih jalan damai.
Di Gaza, Napoleon beristirahat. Ia menginap di Qasr al-Basha, mengumpulkan para jenderalnya, dan merencanakan langkah selanjutnya: Jaffa, lalu Acre — kota pelabuhan di pantai utara yang ia yakini akan jatuh dengan mudah.
Ia salah.
Gaza Diampuni, Kota Lain Tidak
Setelah pengepungan Acre yang berlangsung dua bulan lebih gagal total, Napoleon terpaksa mundur. Pasukan Prancis yang kelelahan dan dilanda wabah pes menyusuri kembali jalan yang sama: dari Acre ke selatan, melewati Jaffa, menuju Mesir.
Selama mundur, pasukan menghancurkan semua yang dilewati — ternak, tanaman, dan rumah-rumah warga ikut diratakan. Gaza adalah satu-satunya tempat yang tidak disentuh, sebagai imbalan atas kesetiaan warganya kepada Bonaparte.
Keputusan itu mencatat satu momen langka dalam sejarah kota yang telah berulang kali dihancurkan oleh para penakluk: Gaza selamat bukan karena tembok atau tentaranya, tapi karena pilihan politiknya yang tepat.
Napoleon menyebut Gaza “pintu gerbang Afrika, pintu menuju Asia” — kalimat yang ia tulis dalam surat kepada pemerintah Paris, mengakui posisi strategis kota itu yang telah dikenali oleh setiap penakluk sejak ribuan tahun sebelumnya.
Nama yang Tersisa, Bangunan yang Runtuh
Selama lebih dari dua abad setelah Napoleon pergi, Qasr al-Basha terus berganti fungsi dengan cara yang mencerminkan sejarah Gaza sendiri: markas gubernur Ottoman, kantor polisi pada era Mandat Inggris, sekolah putri pada masa administrasi Mesir — sempat bernama Sekolah Putri Ferial, lalu berganti nama menjadi Sekolah Menengah al-Zahra setelah Raja Farouk digulingkan pada 1952.
Pada era Otoritas Palestina, bangunan itu diubah menjadi museum dengan lebih dari 20.000 artefak yang terkatalog rapi — menceritakan peradaban-peradaban yang pernah menguasai Gaza sepanjang sejarah.
Lalu datanglah Desember 2023.
Qasr al-Basha rusak berat akibat serangan udara Israel. BBC melaporkan bahwa militer Israel menyatakan tidak memiliki informasi mengapa Istana Pasha menjadi sasaran dalam perang itu. Ketika tim ekskavasi mulai menggali reruntuhan, mereka menemukan lebih dari 17.000 artefak arkeologis telah hilang. Otoritas Gaza menuduh Israel menjarah koleksi itu sebelum gedung dibom — tuduhan yang tidak bisa dikonfirmasi secara independen dan belum direspons Israel.
Setelah gencatan senjata akhir 2025, pembersihan puing dimulai dan upaya pemulihan artefak yang tersisa di istana dilakukan dengan dukungan dari Centre for Cultural Heritage Preservation.
Bangunan yang bertahan dari Mamluk, Ottoman, Napoleon, Inggris, dan Mesir itu kini tinggal puing.
Warisan yang Bertahan dalam Nama
Ironinya, nama “Benteng Napoleon” — yang selama bertahun-tahun dipersoalkan oleh sejarawan Palestina karena dianggap terlalu memuliakan seorang penakluk asing — justru menjadi salah satu alasan nama bangunan itu dikenal di luar Palestina.
Seorang peneliti sejarah dan arkeolog Palestina pernah menyatakan, “Tidak ada yang berhak memberi nama istana ini dengan nama Napoleon Bonaparte, terutama karena ia hanyalah salah satu dari sekian banyak tamu dan pemimpin yang menginap di sini beberapa hari lalu pergi.”
Tiga malam. Dari ribuan malam yang telah dilalui bangunan itu dalam 750 tahun usianya, tiga malam itulah yang paling sering disebut. Mungkin itulah cara sejarah bekerja: bukan selalu yang paling penting, melainkan yang paling dramatis, yang paling mudah diceritakan.
Adapun Gaza sendiri — seperti selalu — terus bertahan, atau mencoba untuk bertahan, dari penakluk demi penakluk yang datang dan pergi. (IW)

