BEIRUT – Sedikitnya tiga orang tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka setelah militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, pada Minggu (14/6/2026). Serangan tersebut kembali memicu ketegangan di tengah gencatan senjata yang masih berlaku antara Israel dan Lebanon.
Menurut laporan Anadolu Agency yang dikutip Middle East Monitor, pesawat tempur Israel menggempur kawasan Dahiyeh di Beirut selatan. Wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu basis kuat kelompok Hizbullah. Serangan itu mengakibatkan sedikitnya tiga korban jiwa, sementara sejumlah warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Militer Israel menyatakan serangan tersebut menyasar target yang diklaim terkait dengan Hizbullah. Namun, otoritas Lebanon mengecam aksi tersebut dan menilai serangan itu sebagai pelanggaran baru terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah dimediasi oleh Amerika Serikat.
Serangan di Beirut terjadi setelah beberapa bulan terakhir wilayah Lebanon terus mengalami serangan udara dan operasi militer Israel. Pemerintah Lebanon sebelumnya melaporkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada April 2026, Israel telah melakukan ribuan serangan udara dan operasi penghancuran di berbagai wilayah negara tersebut.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut tim penyelamat segera dikerahkan ke lokasi serangan untuk mengevakuasi korban dan mencari kemungkinan adanya warga yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang terkena dampak.
Serangan terbaru ini juga menuai perhatian internasional karena terjadi di tengah upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan kawasan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengkritik serangan tersebut dan menyatakan bahwa aksi militer di Beirut seharusnya tidak terjadi ketika berbagai pihak sedang berupaya mendorong stabilitas dan kesepakatan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Pengamat menilai insiden ini berpotensi memperburuk situasi keamanan di Lebanon dan mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang selama ini dianggap rapuh. Ketegangan antara Israel dan Hizbullah terus menjadi salah satu faktor utama yang menghambat upaya stabilisasi kawasan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kemungkinan serangan balasan dari Hizbullah. Namun, otoritas Lebanon dan sejumlah pihak internasional mendesak agar semua pihak menahan diri guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. (cky)

