spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Friday, March 27, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeAnalisis dan OpiniLAPORAN KHUSUS - Mengapa Trump ingin merebut pulau Kharg dari Iran?

LAPORAN KHUSUS – Mengapa Trump ingin merebut pulau Kharg dari Iran?

 

Meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa “perang telah dimenangkan” melawan Iran, pengerahan kapal perang amfibi, kapal pendarat, serta ribuan marinir dan pelaut ke kawasan terus berlangsung.

Langkah ini memicu spekulasi bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan untuk merebut Pulau Kharg, sebuah pulau kecil di lepas pantai Iran yang menjadi urat nadi ekonomi negara tersebut karena menangani sekitar 90 persen ekspor minyak mentahnya.

Namun, para ahli mempertanyakan apakah penguasaan pulau strategis tersebut cukup memberi tekanan bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, di tengah krisis energi global yang kian memburuk.

Apa itu Pulau Kharg?

Pulau Kharg merupakan daratan sepanjang sekitar 8 kilometer di lepas pantai Iran, dengan luas sekitar sepertiga Manhattan. Pejabat AS menyebutnya sebagai pusat utama distribusi minyak Iran.

Pulau ini memiliki dermaga panjang yang menjorok ke laut dalam, memungkinkan kapal tanker raksasa berlabuh. Hal ini menjadikannya lokasi vital dalam distribusi minyak.

Sejak lama, Kharg menjadi kunci ekonomi Iran. Dokumen CIA yang dideklasifikasi pada 1984 menyebut fasilitas di pulau tersebut sebagai “yang paling vital dalam sistem minyak Iran” dan sangat penting bagi kelangsungan ekonomi negara itu.

Meski ada jalur ekspor alternatif yang tidak melalui Selat Hormuz, kapasitasnya terbatas dan belum teruji secara maksimal, menurut International Energy Agency.

Sebagai contoh, Iran meresmikan terminal minyak Jask pada 2021 untuk menyalurkan minyak ke Teluk Oman. Namun, fasilitas tersebut belum dianggap sebagai alternatif utama ekspor.

Kapasitas penyimpanan minyak di Kharg diperkirakan mencapai sekitar 30 juta barel. Saat ini, sekitar 18 juta barel tersimpan di sana, menurut laporan Reuters mengutip perusahaan intelijen perdagangan Kpler.

Sebelumnya, pemimpin oposisi Israel Yair Lapid menyatakan bahwa menghancurkan fasilitas di Kharg akan “melumpuhkan ekonomi Iran dan menjatuhkan rezim”.

Seberapa berisiko operasi darat AS?

Dua unit Marine Expeditionary Unit (MEU) milik AS—yang dikenal dengan kemampuan operasi amfibi cepat—telah dikerahkan ke Timur Tengah.

Latihan militer sebelumnya menunjukkan kemampuan mereka dalam operasi pendaratan, dengan dukungan helikopter tempur dan kapal serbu besar.

Mantan panglima tertinggi NATO, James Stavridis, menyebut kekuatan tempur MEU sangat besar. Namun, ia mengingatkan bahwa pasukan harus melewati Selat Hormuz dan menghadapi ancaman drone, rudal balistik, serta ranjau laut Iran.

Ia juga menekankan bahwa pasukan AS harus menguasai wilayah udara dan laut dalam radius setidaknya 160 kilometer di sekitar pulau sebelum operasi dilakukan.

Risiko lainnya adalah potensi serangan Iran terhadap kapal amfibi. Selain itu, ribuan penduduk pulau—yang sebagian besar pekerja minyak—harus diamankan atau dievakuasi.

Stavridis juga meragukan dampak strategisnya. Ia menilai belum tentu Iran akan tunduk hanya karena kehilangan Kharg.

Senada, Richard Haass menyebut operasi semacam ini berpotensi menguras persediaan rudal AS dan dipersepsikan sebagai upaya merebut minyak Iran.

Apakah Iran bersiap menghadapi serangan?

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa musuh Iran tengah merencanakan pendudukan salah satu pulau negaranya.

Ia menegaskan bahwa seluruh pergerakan musuh diawasi ketat, dan setiap tindakan akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur vital pihak lawan.

Menurut laporan intelijen AS, Iran telah memperkuat pertahanan di Pulau Kharg, termasuk menambah sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) serta menanam ranjau anti-personel dan anti-kendaraan di sekitar pulau.

Apakah AS pernah menyerang pulau ini?

Ya. Awal bulan ini, Trump mengklaim AS telah membombardir “seluruh target militer” di Kharg, termasuk fasilitas bandara.

Ia juga mengancam akan menyerang infrastruktur energi jika Iran terus menghambat pelayaran di Selat Hormuz.

Menariknya, sejak 1988, jauh sebelum menjadi presiden, Trump sudah pernah menyatakan keinginannya untuk mengambil alih pulau tersebut.

Pejabat Gedung Putih meyakini bahwa penguasaan Kharg dapat melumpuhkan Islamic Revolutionary Guard Corps dan mempercepat akhir perang. Namun, banyak pihak di internal pemerintahan masih ragu karena tingginya risiko dan kebutuhan pasukan besar.

Bagaimana reaksi kawasan?

Sekutu AS di kawasan Teluk dilaporkan secara tertutup mendesak Washington agar tidak memperluas konflik dengan mengirim pasukan darat ke Kharg.

Mereka khawatir langkah tersebut akan memicu korban besar, memperpanjang konflik, dan mendorong Iran membalas dengan menyerang infrastruktur negara-negara Teluk.

Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran, Alireza Tangsiri, sebelumnya menegaskan bahwa pulau-pulau Iran di Teluk Persia merupakan “benteng pertahanan”.

Ia memperingatkan bahwa setiap kesalahan dari pihak musuh akan dibalas dengan respons tegas.

 

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler