Kisah Count Folke Bernadotte — diplomat Swedia yang merumuskan hak pulang bagi ratusan ribu pengungsi Arab, dan tewas 24 jam kemudian.
Dunia pada musim gugur 1948 tengah menyaksikan tragedi berlapis. Di satu sisi, lebih dari 700.000 warga Arab Palestina terusir dari kampung halaman mereka dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Nakba. Di sisi lain, satu-satunya orang yang memiliki mandat resmi internasional untuk memastikan hak mereka pulang — justru dibunuh sehari setelah menandatangani rekomendasinya. Namanya Count Folke Bernadotte, dan pembunuhannya hingga hari ini merupakan salah satu titik hitam yang paling sedikit dibicarakan dalam sejarah konflik Palestina.
Ini bukan sejarah yang mudah untuk diceritakan. Ia melibatkan pembunuhan seorang pejabat PBB yang tak bersenjata, kelompok militan yang kemudian berintegrasi ke dalam negara Israel, dan seorang perencana operasi yang kelak menjadi Perdana Menteri. Namun justru karena itu, ia wajib diketahui.
01 — Latar Belakang
Diplomat Perang yang Dipercaya Dunia
Folke Bernadotte bukan diplomat biasa. Ia adalah keponakan Raja Gustav V dari Swedia, dan selama Perang Dunia II ia memimpin ekspedisi “Bus Putih” (White Buses) — sebuah operasi kemanusiaan Swedish Red Cross yang berhasil menyelamatkan sekitar 15.000–20.000 tawanan dari kamp-kamp konsentrasi Nazi Jerman, termasuk ribuan tahanan Yahudi dari Theresienstadt.
Reputasi kemanusiaannya yang tak tertandingi di kedua belah pihak Perang Dunia II menjadikannya kandidat ideal ketika PBB membutuhkan seorang mediator netral di Palestina. Pada 20 Mei 1948 — hanya beberapa hari setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya dan perang Arab-Israel pecah — Dewan Keamanan PBB secara resmi mengangkat Bernadotte sebagai Mediator PBB pertama dalam sejarah organisasi itu.
“Tugas Bernadotte adalah ‘memajukan penyesuaian damai atas situasi masa depan Palestina’ — mandat pertama dari apa yang kini disebut sebagai Misi Politik Khusus PBB.”
— PBB, Departemen Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian (DPPA)
Bernadotte segera bekerja. Pada Juni 1948, ia berhasil memfasilitasi gencatan senjata pertama dalam perang itu, berlaku efektif mulai 11 Juni 1948. Ia terbang bolak-balik antara ibu kota Arab dan Tel Aviv, mencoba menjembatani dua pihak yang saling curiga.
02 — Laporan Kemajuan
Rekomendasi yang Mengubah Segalanya
Setelah berbulan-bulan mediasi, Bernadotte menyusun apa yang dikenal sebagai Progress Report of the United Nations Mediator on Palestine (Dokumen A/648). Laporan itu diserahkan kepada Majelis Umum PBB pada 16 September 1948. Isinya mencakup beberapa rekomendasi yang sangat sensitif secara politis.
POKOK-POKOK LAPORAN BERNADOTTE (16 SEPTEMBER 1948)
| ▸ Hak pulang para pengungsi Arab ke wilayah yang dikuasai pihak Yahudi harus ditegaskan oleh PBB secepatnya, disertai pemulangan, pemukiman kembali, rehabilitasi ekonomi-sosial, serta kompensasi bagi yang memilih tidak pulang. |
| ▸ Yerusalem harus berada di bawah kendali internasional — tidak boleh dikuasai secara sepihak oleh pihak manapun. |
| ▸ Wilayah Negev diusulkan menjadi bagian Arab, sementara Galilea diserahkan kepada pihak Yahudi — sebuah kompromi teritorial yang memicu kemarahan kedua pihak. |
| ▸ Hak-hak politik, ekonomi, sosial, dan agama semua warga — baik Arab di wilayah Yahudi maupun Yahudi di wilayah Arab — harus dijamin dan dihormati penuh. |
Rekomendasi tentang pengungsi dirumuskan Bernadotte dengan bahasa yang lugas namun bertenaga moral. Dalam teks laporan, ia menulis bahwa kepergian para pengungsi Palestina disebabkan oleh “kepanikan akibat pertempuran, rumor tentang aksi teror nyata maupun yang diklaim, atau pengusiran,” dan bahwa ada “banyak laporan dari sumber-sumber terpercaya tentang penjarahan berskala besar dan penghancuran desa-desa tanpa keperluan yang jelas.”
“Akan menjadi penghinaan terhadap prinsip-prinsip keadilan paling mendasar apabila para korban tak berdosa dari konflik ini ditolak haknya untuk kembali ke rumah mereka, sementara imigran Yahudi terus berdatangan ke Palestina.”
— Count Folke Bernadotte, Progress Report, 16 September 1948
03 — Kronologi
24 Jam yang Mengubah Sejarah
Berikut adalah rekonstruksi peristiwa berdasarkan laporan saksi mata, catatan PBB, dan dokumen Departemen Luar Negeri AS yang telah dideklasifikasi:
| 16 Sep 1948 | Laporan Diserahkan ke Majelis Umum PBB Bernadotte menyerahkan draf laporan kemajuannya. Dokumen ini memuat rekomendasi hak pulang pengungsi Arab yang tegas dan rinci. Kelompok militan Lehi (Stern Gang) dilaporkan panik — mereka tidak yakin apakah Israel akan menolak atau justru menerima rekomendasi tersebut. |
| 17 Sep 1948, Siang | Konvoi Memasuki Yerusalem Barat Bernadotte melakukan perjalanan dari Ramallah menuju Yerusalem dalam konvoi tiga kendaraan. Wilayah yang dilewati — distrik Katamon — berada di bawah kendali de facto pasukan Yahudi. |
| 17 Sep 1948, Sore | Penyergapan di Distrik Katamon Sebuah jip militer memblokir konvoi. Tiga pria berseragam militer Israel turun dan mendekati kendaraan. Seorang di antaranya berlari menuju Chrysler tempat Bernadotte duduk, memasukkan laras senjata otomatis melalui jendela belakang yang terbuka, dan menembakkan enam peluru ke arah Bernadotte. Kolonel André Serot — perwira AU Prancis dan pengamat PBB yang duduk di sebelahnya — dihujani 18 peluru dan tewas seketika. |
| 17 Sep 1948, Malam | Bernadotte Meninggal di RS Hadassah Bernadotte dibawa ke Rumah Sakit Hadassah dalam kondisi kritis. Enam peluru bersarang di dadanya, tenggorokannya, dan lengan kirinya. Ia meninggal beberapa menit kemudian. Kelompok Hazit Hamoledeth (Front Tanah Air) — faksi dari Lehi (Stern Gang) — mengklaim bertanggung jawab. |
| 21 Sep 1948 | Majelis Umum PBB Mengheningkan Cipta Sidang Majelis Umum PBB mengheningkan cipta selama satu menit untuk menghormati Bernadotte. Laporan yang ia tulis tetap diserahkan dan dipertimbangkan oleh sidang. |
| 11 Des 1948 | Resolusi 194 Majelis Umum PBB Rekomendasi hak pulang Bernadotte mengkristal menjadi Resolusi 194, yang menegaskan bahwa pengungsi berhak kembali ke rumah mereka atau menerima kompensasi. Resolusi ini hingga kini menjadi landasan hukum internasional bagi perjuangan pengungsi Palestina. |
04 — Para Pelaku
Stern Gang, dan Nama yang Tak Bisa Dihindari
Investigasi oleh otoritas internasional — termasuk Konsulat Jenderal AS di Yerusalem — menyimpulkan bahwa pembunuhan didalangi oleh kelompok Lehi, yang dikenal di dunia Barat sebagai “Stern Gang.” Empat orang terlibat langsung dalam eksekusi. Penembaknya, Yehoshua Cohen, tidak pernah diadili atas pembunuhan itu dan bahkan kemudian menjadi pengawal pribadi Perdana Menteri David Ben-Gurion.
Yang lebih kontroversial adalah peran Yitzhak Shamir — salah satu dari tiga pemimpin tertinggi Lehi saat itu. Berdasarkan laporan Jerusalem Post (2021), pembunuhan ini disetujui oleh pemimpin Stern Gang termasuk Shamir dan Natan Yellin-Mor. Buku A Death in Jerusalem karya jurnalis Kati Marton mengutip laporan Haaretz yang menyebutkan keputusan pembunuhan diambil dalam pertemuan Komite Sentral Lehi yang dihadiri Shamir.
Dalam memoarnya sendiri, Shamir mengakui bahwa Lehi ingin Bernadotte “disingkirkan dari arena.” Namun ia menegaskan kelompoknya “tidak mengambil tanggung jawab atas perbuatan itu.” Shamir tidak pernah diadili. Ia kemudian menjadi Perdana Menteri Israel pada 1983.
CATATAN AKURASI — APA YANG TERVERIFIKASI
| ▸ TERVERIFIKASI: Lehi/Stern Gang mengklaim dan bertanggung jawab atas pembunuhan — dikonfirmasi oleh PBB, AS, dan pemerintah Israel sendiri. |
| ▸ TERVERIFIKASI: Penembak langsung adalah Yehoshua Cohen, anggota Lehi — dikonfirmasi oleh berbagai sumber sejarah. |
| ▸ DIPERDEBATKAN: Tingkat keterlibatan spesifik Shamir dalam persetujuan operasi — ada bukti kuat (laporan Haaretz, buku Marton) namun Shamir sendiri membantah sebagai perencana langsung. Tidak ada pengadilan yang pernah memverifikasi. |
| ▸ TERVERIFIKASI: Pemerintah Israel di bawah Ben-Gurion segera menangkap sekitar 200 anggota Lehi pasca-pembunuhan dan menyatakan Lehi sebagai organisasi teroris. |
05 — Warisan
Peluru Membunuh Orangnya, Bukan Idenya
Para pembunuh Bernadotte berhasil membunuh orangnya — tetapi gagal membunuh idenya. Laporan kemajuan yang ia selesaikan sehari sebelum kematiannya tetap diserahkan kepada Majelis Umum PBB. Tiga bulan kemudian, pada 11 Desember 1948, Majelis Umum mengesahkan Resolusi 194, yang dalam Pasal 11-nya secara eksplisit menegaskan hak pengungsi Palestina untuk kembali ke rumah mereka atau menerima kompensasi atas harta benda yang ditinggalkan.
Bernadotte juga diakui oleh para sejarawan sebagai salah satu arsitek diplomasi ulang-alik (shuttle diplomacy) modern — metode yang kini menjadi tulang punggung mediasi internasional. Sven Erik Söder, Direktur Jenderal Akademi Folke Bernadotte Swedia, bahkan menyebutnya sebagai “bapak misi perdamaian” PBB.
Pembunuhan Bernadotte juga menjadi katalis bagi adopsi Konvensi Jenewa Keempat pada 1949 — yang mengatur perlindungan warga sipil dalam waktu perang — sebuah warisan yang ironisnya paling sering dikutip dalam konteks konflik Palestina hingga hari ini.
CATATAN EDITOR
Kisah Bernadotte penting bukan hanya sebagai sejarah, tetapi sebagai pengingat bahwa hukum internasional dan lembaga-lembaga multilateral memiliki sejarah panjang dalam mendokumentasikan hak-hak Palestina — jauh sebelum perdebatan kontemporer.
Resolusi 194 yang lahir dari rekomendasinya hingga kini belum dilaksanakan. Namun ia tetap hidup sebagai landasan hukum yang terus diperjuangkan — bukti bahwa gagasan keadilan, sekali tertulis, tidak mudah dibunuh. (IW)
SUMBER & REFERENSI TERVERIFIKASI
- United Nations. Progress Report of the United Nations Mediator on Palestine, Dokumen A/648, 16 September 1948.
- “Greve Folke Bernadotte.” britannica.com
- Jerusalem Post. “On This Day: Stern Gang Assassinates UN Mediator Count Folke Bernadotte,” 17 September 2021.
- Jewish Telegraphic Agency. “Israel Refuses to Apologize for 1948 Assassination,” 16 September 1988.
- Marton, Kati. A Death in Jerusalem. Pantheon Books, New York, 1994.
- Folke Bernadotte Academy (Swedia). “The Story of Folke Bernadotte.” fba.se
- Middle East Monitor. “Remembering the Assassination of Count Bernadotte,” 17 September 2023.
- United Nations. Resolusi Majelis Umum 194 (III), 11 Desember 1948.
- S. Department of State. Foreign Relations of the United States 1948, Vol. V, The Near East.
- “Shamir Ordered Bernadotte Assassination to Save Jerusalem for Jews,” Juli 2012.


