GAZA CITY — Angka korban tewas dalam konflik Gaza terus menanjak meski gencatan senjata Oktober 2025 secara resmi masih berlaku. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun per awal Juni 2026, total korban tewas mencapai 75.811 jiwa—dengan 73.770 di antaranya warga Palestina dan 2.039 lainnya warga Israel. Angka tersebut mencakup 270 jurnalis dan pekerja media, 120 akademisi, serta lebih dari 560 pekerja kemanusiaan, termasuk 391 pegawai UNRWA.
Pelaporan terbaru dari kantor PBB pada Senin (1/6/2026) menggambarkan situasi yang kian mencekam bagi warga sipil di Gaza, khususnya keluarga-keluarga yang tinggal di sekitar “Garis Kuning”—garis demarkasi yang menandai wilayah kendali militer Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata. Warga di kawasan tersebut menyatakan kepada PBB bahwa mereka hidup dalam ketakutan terus-menerus akan terbunuh atau terluka.
“Kami Hanya Berlindung di Dalam Rumah”
UNRWA, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina, melaporkan adanya lonjakan aktivitas militer dalam beberapa pekan terakhir di sepanjang Jalur Gaza yang telah menyebabkan peningkatan korban jiwa dan pengungsian baru. Lonjakan tersebut terjadi tanpa peringatan resmi pelanggaran gencatan senjata, namun pola di lapangan menunjukkan eskalasi yang signifikan.
Ahmed Talal, seorang warga yang tinggal di kawasan al-Shaaf, distrik al-Zeitoun, mengaku rumahnya hanya berjarak sekitar 100 meter dari Garis Kuning. Ia mengungkapkan kondisi keluarganya yang dilanda ketakutan sehingga terpaksa selalu berlindung di dalam rumah dan jarang berani keluar. Talal hanyalah satu dari ribuan kepala keluarga yang menghadapi situasi serupa di sepanjang batas kendali militer Israel yang membentang dari utara ke selatan Jalur Gaza.
Bagi keluarga-keluarga di kawasan ini, ancaman tidak datang dari pertempuran terbuka, melainkan dari kebijakan tembak di tempat yang dilaporkan diterapkan militer Israel terhadap siapa pun yang dianggap melintasi atau mendekati Garis Kuning. Beberapa warga melaporkan kerabat yang terluka atau tewas saat mengambil air, mencari kayu bakar, atau bahkan saat berada di halaman rumah sendiri.
Komandan Sayap Militer Hamas Dilaporkan Tewas
Di tengah eskalasi militer yang terjadi selama masa gencatan senjata, militer Israel pada Jumat (29/5) lalu mengklaim telah menewaskan Izz-al-Din al-Haddad, komandan sayap militer Hamas, dalam sebuah serangan udara di bagian barat Gaza City. Hamas dalam pernyataan resminya menyebut kehilangan al-Haddad sebagai kehilangan yang mendalam bagi organisasi tersebut.
Penewasan al-Haddad menjadi salah satu insiden paling signifikan secara militer selama tujuh bulan masa gencatan senjata berjalan. Para analis menilai serangan ini mencerminkan strategi Israel yang terus menargetkan figur-figur militer Hamas meski berada di bawah kerangka gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat. Posisi ini diperkuat oleh pengumuman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya yang menyatakan ia telah memerintahkan militer untuk mengambil alih kendali atas 70 persen wilayah Jalur Gaza.
Kebuntuan negosiasi pelucutan senjata Hamas dengan latar belakang ekspansi teritorial Israel ini membuat rencana rekonstruksi besar-besaran Gaza terlihat semakin jauh dari realisasi.
Iran dan AS Mencari Jalur Pisah untuk Hormuz dan Nuklir
Di tingkat diplomatik regional, dinamika antara Iran dan Amerika Serikat menambah lapisan kompleksitas baru. Negosiator Iran dilaporkan tengah mencari jalur pembicaraan yang terpisah untuk kesepakatan terkait Selat Hormuz dan pembicaraan perdamaian yang lebih luas, termasuk isu nuklir. Pendekatan dua jalur ini muncul setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin (1/6) mengancam akan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz dan Bab El Mandab sebagai respons atas operasi Israel di Gaza dan Lebanon.
Pembicaraan yang sebelumnya dijadwalkan antara delegasi AS dan Iran di Pakistan telah ditunda di tengah ketidakpastian terkait kerangka besar kesepakatan. Penundaan ini mencerminkan kerumitan baru dalam upaya menjaga stabilitas kawasan di tengah front-front yang aktif secara bersamaan: Gaza, Lebanon, dan Selat Hormuz.
Bagi Indonesia sebagai negara dengan ketergantungan pelayaran tinggi dan importir energi besar, perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian strategis yang akan terus dipantau pemerintah dalam pekan-pekan ke depan.
Krisis Kemanusiaan: 270 Jurnalis Gugur, Sistem Kesehatan Lumpuh
Angka 270 jurnalis dan pekerja media yang tewas sejak Oktober 2023 menjadikan periode ini sebagai salah satu fase paling mematikan bagi profesi jurnalistik dalam sejarah modern. Penghargaan Golden Pen of Freedom 2026 yang diserahkan kemarin di Marseille, Prancis, kepada jurnalis foto dan video Palestina menjadi pengakuan internasional atas pengorbanan tersebut.
Sementara itu, sistem kesehatan Gaza terus berada dalam kondisi kritis. Sekitar 250 pasien gagal ginjal di Gaza menghadapi risiko kehilangan akses dialisis akibat kekurangan larutan medis vital, 11.000 pasien diabetes kekurangan insulin, dan delapan anak yang sedang sakit kritis terancam tidak mendapat perawatan akibat minimnya filter medis. Krisis pasokan medis ini merupakan dampak langsung dari pembatasan akses bantuan kemanusiaan yang berlangsung berkepanjangan.
Selain itu, kondisi ekonomi Gaza telah mengalami kehancuran yang sulit dipulihkan dalam jangka pendek. Berdasarkan laporan UNCTAD 2025, PDB per kapita Gaza dan Tepi Barat telah anjlok menjadi sekitar 161 dolar AS per tahun, sementara tingkat pengangguran melonjak hingga 80 persen. Biaya karbon dari rekonstruksi Gaza diperkirakan akan melampaui emisi gas rumah kaca tahunan dari 135 negara—gambaran skala kerusakan yang harus dipulihkan.
Anak-anak dan Reruntuhan
Foto-foto terbaru dari Gaza City menggambarkan anak-anak yang berjalan di antara reruntuhan bangunan. Lebih dari 80 persen bangunan di Jalur Gaza dilaporkan dalam kondisi rusak atau hancur total, sementara hampir satu juta warga masih membutuhkan bantuan tempat tinggal darurat.
Flash Appeal 2026 yang dikoordinasikan PBB dengan target pendanaan lebih dari 4 miliar dolar AS untuk hampir tiga juta warga di Gaza dan Tepi Barat hingga kini baru terdanai sekitar 13 persen. Kesenjangan pendanaan yang lebar ini mengancam keberlanjutan program-program bantuan vital pada saat kebutuhan justru meningkat akibat lonjakan aktivitas militer terbaru.
Pertanyaan yang Tetap Sama
Memasuki bulan kedelapan sejak gencatan senjata diberlakukan, situasi di Gaza tetap menampilkan paradoks yang sulit dijelaskan: gencatan senjata yang tidak menghentikan kematian, perdamaian yang tidak menghadirkan pemulihan, dan rencana transisi yang tidak berjalan ke depan.
Bagi keluarga Ahmed Talal di al-Zeitoun, bagi 250 pasien gagal ginjal yang menanti dialisis, bagi 11.000 penderita diabetes yang kehabisan insulin, dan bagi ratusan ribu warga yang masih tinggal di tenda darurat—pertanyaan utama hari ini tetap sama dengan pertanyaan tujuh bulan lalu: kapan janji gencatan senjata di atas kertas akan benar-benar menjadi keselamatan di lapangan?
Hingga laporan ini ditulis, jawaban atas pertanyaan tersebut masih belum terlihat di cakrawala diplomatik mana pun. (IW)


