Di bawah langit yang sama, pernahkah kamu bertanya mengapa ada kota yang bermandikan cahaya dengan menara yang menusuk awan, sementara di sudut bumi lainnya, sepiring nasi masih menjadi kemewahan yang harus diperjuangkan dengan air mata? Why Nations Fail?
Dulu, banyak orang dewasa mengira jawabannya adalah karena cuaca. Ada yang bilang cuaca panas membuat orang malas bekerja. Ada juga yang mengira karena kutukan atau karena tidak punya tambang emas. Namun, lewat buku super terkenal berjudul “Why Nations Fail“ (Mengapa Negara Gagal), misteri besar ini akhirnya terpecahkan.
Mari kita bedah rahasia dunia ini lewat beberapa pertanyaan sederhana:
Apa yang sebenarnya membedakan negara kaya dan miskin?
Perbedaan utamanya bukanlah letak pulau atau kebudayaannya, melainkan “aturan main” yang berlaku di negara tersebut. Buku ini membaginya menjadi dua kutub yang sangat berlawanan. Kutub pertama adalah Sistem Inklusif, yakni aturan yang adil dan memberi kesempatan bagi semua orang. Kutub kedua adalah Sistem Ekstraktif, yakni aturan yang curang dan hanya menguntungkan segelintir penguasa.
Siapa yang menemukan rahasia ini dan siapa yang memainkannya?
Dua orang ilmuwan pintar, Daron Acemoglu dan James A. Robinson, adalah penulis yang membongkar rahasia ini. Dalam praktiknya di dunia nyata, lakon utamanya terbagi dua sisi. Di satu sisi ada rakyat biasa yang ingin bekerja keras untuk maju, dan di sisi lain ada segelintir elit penguasa yang rakus dan ingin menguasai segalanya.
Di mana aturan main ini berlaku?
Di seluruh belahan bumi! Teori ini berlaku dari benua Afrika, Eropa, Amerika, hingga Asia. Penulis membandingkan kota kembar seperti Nogales yang terbelah dua oleh perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, hingga perbedaan drastis antara Korea Selatan yang kaya raya dan Korea Utara yang kelaparan.
Kapan sebuah negara bisa berubah nasibnya?
Nasib sebuah negara sering kali ditentukan pada momen sejarah yang penting, atau disebut “titik kritis”. Misalnya, saat sebuah wabah besar berakhir, saat teknologi baru ditemukan, atau saat masa penjajahan usai. Di momen itulah, sebuah bangsa memilih jalannya: apakah mereka mau merancang masa depan yang adil, atau kembali dikuasai pemimpin yang curang.
Mengapa ada pemimpin yang membiarkan negaranya miskin?
Ini adalah fakta yang paling mengejutkan! Pemimpin di negara yang curang sering kali dengan sengaja menolak inovasi atau teknologi pintar. Mengapa? Karena mereka takut kehilangan posisi. Kalau rakyatnya menjadi cerdas, kaya, dan mandiri, rakyat tidak akan mau lagi ditindas dan dikendalikan. Bagi penguasa curang, lebih baik negaranya miskin asalkan takhta kekuasaan mereka tetap aman.
Bagaimana cara kerja sistem adil dan curang itu?
Bayangkan negara itu seperti ruang kelas di sekolah:
Kelas A (Sistem Inklusif/Adil): Siapa pun yang rajin belajar pasti mendapat nilai yang bagus. Setiap penemuan baru akan dipuji. Hasilnya, murid merasa aman berkreasi dan kelas menjadi yang paling cerdas.
Kelas B (Sistem Ekstraktif/Curang): Sebagus apa pun tugasmu, nilai tertinggi hanya untuk anak kesayangan guru. Terkadang, bekal makananmu dirampas oleh ketua kelas yang galak dan guru hanya diam saja. Hasilnya, murid menjadi malas dan kelas tersebut terus tertinggal.
Berapa banyak orang yang diuntungkan dari sistem yang curang?
Sangat sedikit! Sistem ekstraktif dirancang hanya untuk memperkaya segelintir orang. Hanya kelompok elit penguasa saja yang menikmati tumpukan kekayaan, sementara jutaan rakyat biasa lainnya harus terus hidup dalam penderitaan dan serba kekurangan.
Berapa besar kerugian akibat sistem yang curang ini?
Kerugiannya sungguh tidak ternilai harganya. Sebuah negara yang curang tidak hanya kehilangan uang yang dicuri dari rakyatnya. Negara itu kehilangan puluhan tahun masa depan yang cerah, mematikan jutaan inovasi berharga, dan mengubur mimpi anak bangsa yang sebenarnya berpotensi menjadi ilmuwan hebat pembawa kemajuan.
Pesan untuk Kita Semua
Buku “Why Nations Fail” memberikan sebuah harapan besar. Kegagalan sebuah negara bukanlah takdir dari langit yang tidak bisa diubah. Kalau sebuah negara miskin ingin menjadi kaya, mereka hanya perlu berani mengubah aturan mainnya.
Setiap warga harus diajak bermain dengan adil. Hukum harus melindungi semua pihak tanpa pilih kasih. Dengan jaminan keamanan dan keadilan itu, setiap anak manusia memiliki kesempatan untuk mewujudkan mimpinya, dan pada akhirnya, membawa negaranya terbang tinggi menyentuh awan kemajuan.

