#CerpenJumat — Edisi 2: Suara dari Gaza
Widad menemukan surat itu terselip di antara dua lembar seng yang dulunya atap, terlipat rapi dalam kantong plastik yang entah bagaimana masih utuh setelah sekian lama terkubur debu.
Ia nyaris tidak memungutnya. Kertas yang bagus—tebal, belum menguning—biasanya laku ditukar dengan biskuit atau baterai kecil di lapak Abu Ramzi dekat titik air. Widad sudah punya perhitungan sendiri: dua lembar kertas tebal semacam ini cukup untuk ditukar sepotong sabun, dan ibunya sudah tiga hari mengeluh kulitnya gatal-gatal.
Tapi ada tulisan tangan di sampulnya, tinta yang sudah memudar jadi cokelat pucat:
Untuk anakku, yang belum ada namanya, yang belum kulihat wajahnya.
Widad berhenti. Angin pagi membawa debu tipis yang menempel di bibirnya yang kering, dan untuk sesaat ia lupa soal sabun, soal Abu Ramzi, soal apa pun selain kalimat kecil itu.
Ia membawa surat itu—tanpa membukanya, karena entah kenapa terasa seperti membuka pintu tenda orang lain tanpa mengetuk—ke tenda Ummu Khalil. Perempuan tua itu sedang menjemur selimut, dan mendengus begitu Widad menyodorkan kantong plastik itu.
“Kau kira aku tukang pos, Nak?”
“Bukan itu, Ummu.” Widad menahan napas. “Aku pikir Ummu tahu lebih banyak orang di sini daripada siapa pun. Aku tidak tahu ini punya siapa.”
Ummu Khalil mengambil surat itu dengan hati-hati, matanya menyipit membaca tulisan di sampul. Wajahnya berubah—bukan drastis, hanya sedikit, seperti orang yang mendengar nama lama disebut tiba-tiba di tempat yang salah.
“Di mana kau menemukan ini?”
“Reruntuhan dekat bekas sekolah. Yang temboknya masih separuh berdiri.”
Ummu Khalil diam lama. Ia membalik-balik kantong plastik itu, lalu berkata pelan, hampir seperti bergumam sendiri, “Itu tanah keluarga Abu Yusuf dulu. Sebelum rumah mereka jadi seperti sekarang.”
Nama itu membuat Widad menegang. Yusuf—anak yang layangannya terbang paling tinggi minggu lalu, yang seisi kamp masih membicarakannya. Ayah Yusuf, yang hilang entah ke mana sejak dua tahun lalu, yang bahkan Yusuf sendiri tidak yakin apakah masih hidup.
“Ummu pikir ini dari ayahnya?”
“Aku tidak berpikir apa-apa,” kata Ummu Khalil tajam, tapi tangannya yang memegang surat itu tidak setegas suaranya. “Aku cuma tahu tulisan tangan itu.”
Widad pulang malam itu dengan tangan kosong—tanpa sabun, tanpa biskuit, dan ibunya tidak bertanya kenapa. Ia berbaring di alas tidurnya, mendengar suara generator jauh yang menderu lalu mati, dan memikirkan surat itu, yang sekarang tersimpan di tangan Ummu Khalil, menunggu keputusan yang bukan lagi miliknya untuk diambil.
Ia sudah membuat pilihannya sendiri pagi tadi, meski tidak ada yang memintanya. Ia bisa saja menjual kertas itu tanpa membaca sampulnya dulu-dulu. Tidak ada yang akan tahu. Sabun itu nyata; suratnya cuma kertas tua yang mungkin, mungkin saja, tidak berarti apa-apa bagi siapa pun lagi.
Tapi ia sudah membacanya. Dan sekali kalimat itu masuk ke kepala—yang belum kulihat wajahnya—tidak ada cara untuk mengeluarkannya lagi.
Tiga hari kemudian, Ummu Khalil memutuskan.
Ia tidak membuka surat itu—”itu bukan hakku,” katanya pendek pada Widad yang mengekor di belakangnya—dan berjalan bersama gadis kecil itu menuju tenda keluarga Yusuf, tepat ketika sore mulai jatuh dan bayang-bayang tenda memanjang di tanah berdebu.
Ibu Yusuf, Sana, sedang mencuci pakaian di ember plastik ketika mereka datang. Tangannya berhenti bergerak begitu Ummu Khalil menyerahkan kantong plastik itu tanpa banyak kata—hanya, “Widad menemukan ini. Dekat tanah lama kalian.”
Sana membuka kantong itu dengan jari yang basah dan gemetar. Ia membaca sampulnya, dan sesuatu di wajahnya runtuh—bukan tangis yang meledak, tapi sesuatu yang lebih pelan, seperti dinding yang akhirnya menyerah setelah lama menahan beban.
“Ini tulisan tangannya,” bisik Sana. “Aku kenal tulisan ini di mana saja.”
Ia tidak membuka surat itu di depan mereka. Ia memeluknya ke dada, seperti dulu mungkin ia memeluk Yusuf kecil yang baru lahir, dan berjalan masuk ke tenda tanpa berkata apa-apa lagi.
Dari kejauhan, Yusuf berlari pulang membawa layangan merahnya yang kini agak lusuh di ujung-ujungnya, berteriak sesuatu tentang angin sore yang bagus untuk terbang. Ia berhenti begitu melihat wajah ibunya di depan tenda, memegang sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Ummi? Itu apa?”
Sana menatap anaknya lama—anak yang dulu, sebelum lahir, sudah punya seseorang yang menunggunya dengan begitu banyak kata yang tak sempat terucap langsung. Ia berlutut, menyejajarkan diri dengan tinggi Yusuf, dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun terakhir, tersenyum dengan cara yang tidak Widad kenali—senyum yang menyimpan luka dan sesuatu yang hampir seperti syukur, bersamaan.
“Nanti kuceritakan,” katanya. “Malam ini, sebelum tidur.”
Widad berjalan pulang bersama Ummu Khalil dalam diam. Angin sore membawa bau asap kayu bakar dari tenda-tenda lain, bercampur bau debu yang sudah jadi bagian dari udara itu sendiri, begitu biasa hingga nyaris tak tercium lagi.
“Ummu,” katanya akhirnya, “bagaimana kalau aku menjualnya waktu itu?”
Ummu Khalil tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah lagi, tongkatnya mengetuk tanah pelan-pelan.
“Kalau kau menjualnya,” katanya akhirnya, “kau tidak akan pernah tahu apa yang kau jual. Sekarang kau tahu. Itu bedanya.”
Widad tidak sepenuhnya mengerti apa maksud kalimat itu. Tapi ia menyimpannya, seperti menyimpan kertas yang bagus—untuk suatu hari nanti, ketika mungkin ia akan mengerti.
Minggu depan, seseorang di sektor utara akan menemukan bahwa air yang mereka tunggu di titik distribusi tidak datang, dan Bilal—bocah yang selalu tertawa—harus belajar apa artinya menjadi kakak ketika tidak ada cukup untuk semua orang.


