HomeHeadlineJamal al-Zebda: Insinyur Roket di Balik Perisai Gaza

Jamal al-Zebda: Insinyur Roket di Balik Perisai Gaza

Pada 12 Mei 2021, di tengah hari kedua Operasi Guardian of the Walls, sebuah serangan udara Israel menghantam lokasi berkumpulnya sejumlah tokoh senior Hamas di bagian barat Kota Gaza. Empat belas orang tewas — seluruhnya operatif Hamas, sebagian memegang posisi tinggi, menurut catatan Meir Amit Intelligence and Terrorism Information Center. Dua di antaranya adalah dua generasi dari satu keluarga insinyur: Jamal al-Zebda, 64 tahun, dan putranya Usama al-Zebda, 33 tahun, warga negara Amerika Serikat yang menurut FDD’s Long War Journal sudah masuk daftar pengawasan teroris AS sebelum kematiannya.

Kematian keduanya menjadi salah satu titik paling diperdebatkan dalam konflik sebelas hari itu — bukan karena keraguan soal siapa mereka, tapi karena kedua belah pihak, Israel dan Hamas, sepakat pada satu fakta yang jarang terjadi dalam konflik ini: Jamal al-Zebda memang kepala divisi pengembangan roket Hamas. Perbedaannya hanya pada bagaimana fakta itu dimaknai.

Dari Gaza ke Virginia, dan Kembali

Jamal Muhammad Sayid Abd al-Rahman al-Zebda — dikenal juga dengan kunya Abu Usama — lahir dan besar di Gaza sebelum berangkat ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia meraih gelar doktor di Institute for Critical Technology and Applied Science, Virginia Polytechnic Institute and State University, yang lebih dikenal sebagai Virginia Tech, dengan spesialisasi teknik mesin dan aerodinamika — begitu dilaporkan seragam oleh ABC News, Jerusalem Post, FDD’s Long War Journal, dan situs berbahasa Ibrani milik IDF. Tehran Times, mengutip Al Jazeera, justru menyebutnya doktorat penerbangan sipil; kemungkinan besar keduanya merujuk gelar yang sama, namun karena tidak ada sumber yang mendamaikan dua istilah ini secara eksplisit, perbedaan itu layak dicatat apa adanya. Sebuah makalah akademik atas namanya soal aerodinamika, ditulis di Virginia Tech pada 1989, masih tercatat di situs Aerospace Research Center, meski FDD’s Long War Journal sendiri tidak bisa memverifikasi independen apakah itu penulis yang sama dengan insinyur Hamas yang kelak dikenal dunia.

Tehran Times, mengutip liputan Al Jazeera, menambahkan bahwa Al-Zebda sempat bekerja di badan antariksa NASA setelah menyelesaikan studinya dan turut mempelajari mesin pesawat tempur F-16, sebelum memilih meninggalkan Amerika sepenuhnya. Klaim ini bersumber tunggal dari media Iran dan belum dikonfirmasi independen oleh ABC News, Jerusalem Post, atau FDD, yang ketiganya melaporkan riwayat pendidikannya secara rinci namun tidak menyebut NASA atau F-16 sama sekali.

Keluarganya sempat memperoleh kewarganegaraan Amerika Serikat — termasuk putranya Usama, yang lahir di AS saat sang ayah masih menempuh studi di Virginia dan, menurut penuturan istrinya kepada ABC News, sempat tinggal di negeri itu selama lima tahun. Namun alih-alih menetap dan berkarier sebagai akademisi di Amerika, Al-Zebda memilih kembali ke kawasan Timur Tengah. ABC News mencatat keluarga itu sempat tinggal beberapa tahun di Uni Emirat Arab sebelum akhirnya pulang ke Gaza pada 1994. FDD’s Long War Journal mencatat bahwa bergabungnya warga negara Amerika dengan organisasi yang oleh pemerintah AS didesain sebagai Foreign Terrorist Organization — termasuk Hamas — merupakan pelanggaran hukum federal, menempatkan kasus keluarga ini dalam pola yang sama dengan warga Amerika lain yang pernah bergabung dengan kelompok militan, seperti Anwar al-Awlaki dan John Walker Lindh.

Dua Belas Tahun yang Menentukan Bagaimana Riwayat Ini Harus Dibaca

Inilah detail yang seharusnya jadi pusat dari seluruh riwayat ini, bukan catatan sampingan: menurut catatan yang paling luas dikutip, Al-Zebda kembali ke Gaza dan mulai mengajar di Universitas Islam pada 1994, namun baru bergabung secara resmi dengan tim rahasia Brigade Izz al-Din al-Qassam pada 2006. Dua belas tahun jarak antara kepulangannya dan keterlibatan resminya bisa dibaca dua cara yang sangat berbeda.

Bacaan pertama, yang lebih nyaman: selama 12 tahun itu ia murni akademisi, dan baru direkrut belakangan — sebuah kisah keinsafan atau ajakan yang datang dari luar. Bacaan kedua, yang lebih konsisten dengan bukti yang ada: posisi mengajarnya sejak awal berfungsi sebagai fondasi jaringan rekrutmen, dan tahun 2006 hanyalah titik ketika keterlibatan itu diformalkan secara struktural, bukan ketika ia mulai.

Satu detail langsung relevan pada perdebatan ini dan tidak semestinya diabaikan: ABC News, mengutip sumber dari internal Hamas, melaporkan bahwa kepulangan Al-Zebda ke Gaza pada 1994 sejak awal dimaksudkan untuk membantu sayap bersenjata Hamas mengembangkan persenjataan roketnya, bukan semata untuk mengajar. Jika akurat, ini condong mendukung bacaan kedua — namun kehati-hatian yang sama perlu diterapkan seperti pada klaim lain dalam riwayat ini: ini pernyataan dari sumber Hamas sendiri, pihak yang punya kepentingan menceritakan riwayat tokohnya seolah pengabdian sudah dimulai sejak hari pertama kepulangannya, sebagian dari pembentukan citra pahlawan yang lazim terjadi pascakematian, bukan dokumen internal yang bisa diverifikasi silang secara independen. Klaim ini memperkuat plausibilitas bacaan kedua tanpa menyelesaikannya secara pasti.

FDD’s Long War Journal secara eksplisit mencatat pola serupa pada Hamas — mengirim atau membiarkan calon operatifnya menempuh pendidikan di institusi asing untuk memperkuat kapasitas militer organisasi — dan menyamakan kasus ini dengan Fadi al-Batsh, insinyur Hamas yang tengah studi di luar negeri sebelum dibunuh Mossad di Malaysia pada 2018. Al-Zebda bukan kasus tunggal yang berdiri sendiri; ia contoh dari sebuah pola yang sudah teridentifikasi.

Detail paling meyakinkan justru datang dari dalam keluarganya sendiri. Putrinya, Saja al-Zebda — yang keberadaannya dapat dikonfirmasi lewat akun media sosialnya sendiri, tempat ia masih mendoakan ayah dan kakaknya — dilaporkan menyampaikan bahwa di luar rumah ayahnya bercitra militer, namun di rumah ia kebanyakan menghabiskan waktu bersama anak-anaknya dan menjadi ayah yang baik; pekerjaannya bersifat rahasia dan tidak pernah diberitahukan kepada keluarga. Ia baru memahami ayahnya adalah operatif senior Brigade Izz al-Din al-Qassam setelah percobaan pembunuhan pada 2012. Rekaman wawancara spesifik dengan outlet yang disebut sebagai sumber kutipan ini tidak berhasil ditemukan secara independen, meski substansi kutipannya sendiri konsisten dengan pola yang dilaporkan sumber-sumber lain. Jika akurat, detail ini justru mengonfirmasi tingkat kerahasiaan operasional yang konsisten dengan peran sentral, bukan peran akademisi yang “kebetulan membantu” — orang yang sekadar membantu sesekali umumnya tidak memerlukan penyamaran serapi itu bahkan dari anak kandungnya sendiri.

Yang membuat gambaran ini semakin sulit dibantah: Al-Zebda bekerja di bawah pengawasan langsung Muhammad al-Deif, panglima sayap militer Hamas dan target paling dicari Israel selama bertahun-tahun, dikonfirmasi baik oleh Meir Amit Intelligence and Terrorism Information Center maupun Tehran Times. Ia bukan insinyur lepas yang sesekali dipanggil, melainkan bekerja langsung di bawah rantai komando tertinggi organisasi militer itu.

Satu klaim lain butuh koreksi arah sumbernya. Riset aerodinamika dan sayap delta yang ia tekuni semasa di Virginia disebut-sebut menjadi dasar bagi pengembangan berbagai pesawat tempur termasuk F-35 — klaim yang berasal dari laporan Meir Amit Center, yang pada bagian itu sendiri mengutip surat kabar Lebanon Al-Akhbar, outlet yang bersimpati pada narasi perlawanan. Klaim ini tidak terverifikasi independen oleh sumber industri penerbangan atau akademik mana pun, dan secara teknis meragukan: program yang kelak menjadi F-35 baru berkembang bertahun-tahun setelah 1989, sehingga sulit dipahami bagaimana satu makalah konferensi bisa menjadi dasar bagi pesawat yang programnya belum ada saat makalah itu ditulis. Klaim ini pantas diperlakukan dengan kehati-hatian yang sama seperti klaim NASA dan F-16 di atas — kemungkinan besar bagian dari pembesaran citra pascakematian yang bersumber dari media yang bersimpati pada Hamas, bukan fakta teknis independen.

Bagaimana Kedua Pihak Memandangnya

Dari sisi Israel, penilaiannya konsisten dan tidak berubah sejak 2021: seorang pejabat militer senior menyebut kepada ABC News bahwa Al-Zebda memiliki pelatihan teknologi dan menjadi sumber pengetahuan di pusat produksi organisasi tersebut. Situs berbahasa Ibrani milik IDF menyebutnya sebagai anggota senior divisi riset dan pengembangan Hamas. Al-Monitor, dalam laporan 13 Mei 2021, turut mencantumkan namanya sebagai salah satu dari sedikit komandan inti proyek militer Hamas, berdampingan dengan nama komandan brigade Kota Gaza, Bassem Issa. Wasef Eriqat, pakar dan analis militer Palestina, menyampaikan kepada ABC News bahwa Al-Zebda dikenal membimbing dan melatih satu generasi penuh insinyur di Universitas Islam yang mampu menghadapi ilmuwan-ilmuwan Israel — pengakuan dari analis Palestina sendiri atas skala kontribusinya pada kapasitas militer Hamas, bukan cuma klaim sepihak Israel.

Brigade Izz al-Din al-Qassam sendiri, dalam laman peringatan bagi anggotanya yang gugur, menuliskan keterangan di bawah fotonya dalam terjemahan bahasa Inggris yang dipublikasikan Meir Amit Intelligence and Terrorism Information Center: “Insinyur teroris yang mengabdikan hidupnya untuk Allah”, “Komandan militer”. Ini terjemahan lembaga riset Israel atas teks Arab aslinya, bukan teks Arab itu sendiri — ada kemungkinan istilah asli yang dipakai Hamas lebih dekat dengan sebutan kehormatan seperti “mujahid” atau “pejuang” yang lazim mereka pakai untuk anggotanya sendiri, dan “teroris” adalah pilihan kata lembaga penerjemah yang mencerminkan sudut pandangnya sendiri. Karena teks Arab asli laman itu tidak berhasil diverifikasi independen, kutipan di atas mengikuti satu-satunya terjemahan dari sumber yang bisa dirujuk. Sebuah dokumentar yang diunggah setelah kematiannya bahkan menjulukinya “Bapak Roket” — sebutan yang tidak menyisakan ruang ambiguitas soal bagaimana Hamas sendiri memosisikan kontribusinya.

“Insinyur teroris yang mengabdikan hidupnya untuk Allah — Komandan militer.”

— Keterangan foto Jamal al-Zebda di situs peringatan Brigade Izz al-Din al-Qassam, 1 Juli 2021 (terjemahan Meir Amit Intelligence and Terrorism Information Center)

Ikhwanul Muslimin, Hamas, dan Brigade al-Qassam mengeluarkan pengumuman berkabung bersama atas kematiannya dan putranya.

Kematian dan Reaksi Keluarga

Al-Zebda dan putranya tewas dalam serangan udara yang sama pada 12 Mei 2021. Media sosial Palestina mulai menyebarkan foto keduanya dengan label “syuhada” sejak hari kejadian. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, menanggapi laporan soal warga negaranya yang tewas di Gaza, hanya menyampaikan kepada ABC News bahwa pihaknya menyadari laporan tersebut namun tidak bisa memberi komentar lebih lanjut karena pertimbangan privasi.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, istri Al-Zebda menyampaikan bahwa seluruh anaknya dibesarkan di jalan jihad sesuai yang diajarkan sang ayah, dan bahwa ia bercita-cita mati syahid di jalan Allah. Ia mengirim pesan kepada Israel bahwa suaminya telah meninggalkan “ribuan Jamal” di belakangnya, serta menyampaikan kebanggaan keluarga ketika Israel sendiri menyebut Al-Zebda mengembangkan seluruh rangkaian persenjataan roket Hamas di Jalur Gaza.

“Pendudukan tidak paham bahwa sekalipun Jamal al-Zebda gugur, ada seribu Jamal al-Zebda lain di tanah kami.”

— Istri Jamal al-Zebda, dalam wawancara dengan Al Jazeera, dikutip Tehran Times

Istri Usama al-Zebda menyampaikan pesan senada, menyebut kesyahidan suami dan mertuanya sebagai kehormatan bagi seluruh keluarga dan berjanji membesarkan anak-anak mereka mengikuti jalan ayah dan kakeknya.

Dari periode ini beredar pula sebuah rekaman yang bukan sekadar momen spontan yang kebetulan terekam kamera: Yahya Sinwar tampak menggendong putra kecil Usama al-Zebda sambil meletakkan senapan di tangan balita tersebut — sumber-sumber secara konsisten menyebutnya sebagai putra, bukan putri. Menurut laman peringatan Brigade al-Qassam, adegan serupa juga terekam bersama anak Usama yang lain dalam sebuah pawai di Gaza City tak lama setelah kematiannya. Menampilkan pemimpin senior Hamas bersama anak seorang “syahid” yang belum genap berusia lima tahun, lengkap dengan senjata di tangan mungilnya, adalah pernyataan politik yang disengaja: pesan bahwa garis keturunan perlawanan diteruskan sejak buaian, dan bahwa kematian sang ayah maupun kakek bukan akhir melainkan estafet. Efeknya berlapis — bagi pendukung Hamas, itu bukti kesinambungan perjuangan lintas generasi; bagi pengamat luar, itu justru menyingkap bagaimana simbol anak-anak dipakai secara sadar untuk melanggengkan narasi kekerasan, jauh sebelum anak itu sendiri mampu memilih jalannya.

Detail yang Tidak Seragam Antar-Sumber

Beberapa detail berbeda tergantung sumber mana yang dirujuk, dan pembaca berhak mengetahuinya alih-alih tulisan ini diam-diam memilih satu angka. Soal usia Usama: ABC News, Jerusalem Post, dan FDD’s Long War Journal konsisten mencatat 33 tahun, namun laporan Meir Amit Intelligence and Terrorism Information Center sendiri mencantumkan “39 atau 33” tanpa memastikan mana yang akurat. Soal nama gelar doktornya, mayoritas sumber Barat menyebut PhD teknik mesin spesialisasi aerodinamika, sementara Tehran Times menyebutnya doktorat penerbangan sipil, tanpa ada sumber yang mendamaikan keduanya secara eksplisit.

Soal upaya pembunuhan sebelum 2021, sumber yang dikutip ABC News — termasuk Palestinian Information Center — dan Meir Amit Center sama-sama merujuk pada satu percobaan pembunuhan tahun 2012, di jam-jam akhir Operasi Pillar of Defense. Tehran Times menambahkan detail berbeda: pengejaran intelijen Israel antara 2007 hingga 2010, serta pengeboman apartemennya pada perang 2014. Tidak jelas apakah ini rangkaian insiden yang sama dengan penjelasan berbeda, atau insiden yang benar-benar terpisah — dan karena Tehran Times satu-satunya sumber untuk detail 2014 ini, ia dicantumkan hanya sebagai catatan, bukan fakta sekuat percobaan 2012 yang dikonfirmasi lebih dari satu sumber.

Satu Nama yang Sering Tertukar

Penting dicatat: nama Al-Zebda kerap tertukar dengan sosok lain yang berbeda dan meninggal pada waktu berbeda pula. Said Al-Zubda — variasi ejaan dari nama keluarga yang sama, namun individu berbeda — adalah presiden University College of Applied Sciences di Gaza, seorang insinyur elektro yang meraih gelar magister dan doktor dari University of Nottingham, Inggris. Ia tewas bersama istri dan anak-anaknya dalam serangan udara Israel pada 31 Desember 2023, dua setengah tahun setelah kematian Jamal al-Zebda. Keduanya kerap disebut dengan ejaan nama keluarga yang mirip dalam berbagai laporan, namun merupakan dua orang yang sama sekali berbeda, dengan latar belakang profesional dan waktu kematian yang berbeda pula.

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler