HomeAnalisis dan OpiniAnalisaAnalisis – Miliaran untuk Teheran, Penutupan untuk Gaza: Membaca Hasil Kesepakatan Swiss...

Analisis – Miliaran untuk Teheran, Penutupan untuk Gaza: Membaca Hasil Kesepakatan Swiss dan Siapa yang Benar-Benar Diuntungkan

Telaah atas tinta yang baru mengering di Bürgenstock — ketika Iran pulang membawa miliaran dolar dan blokade yang dicabut, sementara Gaza menerima janji pendudukan tanpa batas waktu dan perintah penyitaan tanah yang terus mengalir

Pada 17 Juni 2026, di tepi Danau Lucerne yang tenang di Swiss, sebuah memorandum kesepahaman empat belas poin ditandatangani antara Amerika Serikat dan Iran. Beberapa hari kemudian, di kompleks hotel mewah Bürgenstock, perundingan teknis lanjutan dinyatakan berakhir dengan sukses. Hasilnya gemilang bagi mereka yang duduk di meja: Selat Hormuz dibuka kembali, blokade laut dicabut, dan — yang paling mencolok — Iran dilaporkan memperoleh pencairan aset beku senilai dua belas miliar dolar, dengan rancangan dana rekonstruksi yang disebut-sebut mencapai ratusan miliar dolar. Di tepi danau yang indah itu, perdamaian dirayakan dan keuntungan dibagi. Namun beberapa ribu kilometer ke selatan, di Gaza, hari-hari yang sama membawa kabar yang sama sekali berbeda: bukan miliaran dolar, melainkan janji pendudukan yang dinyatakan akan berlangsung tanpa batas waktu.

Beberapa pekan lalu, kita telah membahas bagaimana nama Gaza hilang dari naskah kesepakatan AS-Iran. Kini, setelah tinta mengering dan hasil-hasil konkretnya mulai terlihat, gambaran itu menjadi semakin terang dan semakin pahit. Kesepakatan ini bukan sekadar mengabaikan Gaza; ia secara aktif memperlihatkan sebuah ketimpangan yang mencolok antara apa yang diperoleh para pemain besar dan apa yang ditinggalkan bagi rakyat Palestina.

Analisis ini hendak membaca hasil-hasil konkret dari kesepakatan Swiss itu, dan menempatkannya berdampingan dengan kabar terbaru dari Gaza dan Tepi Barat. Sebab hanya dengan menyandingkan keduanya — keuntungan di Lucerne dan kehilangan di Gaza — kita bisa memahami sepenuhnya logika kekuasaan yang sedang bekerja, dan siapa yang sesungguhnya membayar harga dari “perdamaian” ini.

Apa yang Diperoleh Iran

Mari kita hitung dengan jujur apa yang dibawa pulang Teheran. Pertama, dan paling fundamental, rezim Iran bertahan. Banyak pihak di Washington dan Tel Aviv yang sebelumnya berharap perang akan meruntuhkan pemerintahan Iran; alih-alih runtuh, ia keluar dari konfrontasi dalam keadaan utuh dan, menurut sejumlah analis, bahkan dengan posisi tawar yang menguat. Kedua, secara ekonomi, Iran memperoleh pencairan aset beku yang dilaporkan mencapai dua belas miliar dolar, ditambah kerangka dana rekonstruksi yang angkanya disebut-sebut sangat besar. Blokade laut yang mencekik ekonominya dicabut, dan Selat Hormuz — sumber pendapatan vitalnya — kembali dibuka.

Ketiga, secara diplomatik, Iran kembali ke meja internasional. Inspektur badan atom dunia akan kembali masuk, dan Teheran memperoleh jalur menuju normalisasi hubungannya dengan kekuatan-kekuatan besar. Tentu, semua ini disertai syarat dan tenggat waktu enam puluh hari untuk menuntaskan isu nuklir. Tetapi gambaran besarnya jelas: Iran masuk ke perang sebagai negara yang terkepung dan terancam, dan keluar dengan aset yang dicairkan, blokade yang dicabut, dan rezim yang selamat. Dalam kalkulasi kekuasaan murni, ini adalah hasil yang menguntungkan bagi Teheran.

Iran masuk ke perang sebagai negara terkepung, dan keluar dengan miliaran dolar dicairkan dan rezim yang selamat. Itulah hasil yang nyata.

Apa yang Diperoleh Amerika dan Israel

Amerika Serikat di bawah Trump pun pulang membawa kemenangan yang bisa dipamerkan. Harga minyak turun begitu kesepakatan diumumkan; pasar global melonjak; ancaman terhadap ekonomi domestik mereda. Trump memperoleh sebuah “kesepakatan damai” berskala besar untuk dibanggakan, dan Selat Hormuz yang kembali terbuka mengamankan kepentingan energi global yang menjadi prioritas utamanya. Bagi Washington, ini adalah penyelesaian yang pragmatis dan menguntungkan.

Israel berada dalam posisi yang lebih rumit. Di satu sisi, ia tidak sepenuhnya puas — banyak pejabatnya mengkritik kesepakatan itu karena dinilai memberi terlalu banyak kepada Iran, dan Israel bahkan tidak menjadi pihak dalam perundingan yang menentukan nasib kawasannya. Namun di sisi lain, Israel memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kursi di meja perundingan: tangan yang bebas di Palestina. Dengan ancaman Iran dinetralkan melalui kesepakatan, dan dengan perhatian dunia tersedot oleh drama Hormuz dan nuklir, Israel kini bisa bergerak di Gaza dan Tepi Barat dengan hambatan eksternal yang minimal. Dan itulah persis yang sedang dilakukannya.

Perlu dicatat, bahkan “perdamaian” bagi para pemain besar ini pun belum sepenuhnya mulus. Jalur utama Selat Hormuz dilaporkan masih tertutup oleh sekitar delapan puluh ranjau laut yang harus dibersihkan lebih dulu, meski rute alternatif di utara dan selatan telah kembali dilalui kapal. Perundingan teknis di Swiss sempat tertunda, dan serangan Israel ke Lebanon sempat mengguncang kerangka kesepakatan pada hari-hari pertamanya. Namun bahkan dengan segala ketidaksempurnaan ini, satu hal tetap jelas: ketidaksempurnaan yang dihadapi para pemain besar adalah soal logistik dan penyesuaian, sementara yang dihadapi Gaza adalah soal kelangsungan hidup itu sendiri. Bahkan dalam ketidaksempurnaan pun, jurang itu menganga lebar.

Apa yang Diperoleh Gaza: Janji Pendudukan Tanpa Akhir

Maka kita sampai pada pihak yang tidak duduk di meja Swiss itu. Apa yang diperoleh Gaza dari semua perundingan ini? Jawabannya diucapkan sendiri, dengan terus terang, oleh Perdana Menteri Israel. Dalam pernyataan publiknya pada hari-hari yang sama ketika kesepakatan dirayakan, Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan mempertahankan kehadirannya di Gaza, Lebanon, dan Suriah “selama diperlukan”. Tidak ada batas waktu, tidak ada komitmen penarikan, tidak ada cakrawala bagi berakhirnya pendudukan. Sementara Iran memperoleh tenggat enam puluh hari menuju normalisasi, Gaza memperoleh ketiadaan tenggat sama sekali.

Bandingkan dua hal ini dengan saksama. Iran: aset dicairkan, blokade dicabut, jalur menuju pemulihan ekonomi terbuka. Gaza: pendudukan tanpa batas waktu, blokade yang berlanjut, perlintasan yang dikuasai sepenuhnya oleh pihak pendudukan. Iran menerima miliaran dolar untuk rekonstruksi; Gaza, yang infrastrukturnya hancur jauh lebih parah, tidak menerima satu pun jaminan rekonstruksi dalam kerangka kesepakatan ini. Ketimpangan ini bukan kebetulan — ia adalah konsekuensi langsung dari siapa yang punya daya tawar dan siapa yang tidak.

Teheran menerima tenggat enam puluh hari menuju pemulihan; Gaza menerima pendudukan tanpa batas waktu sama sekali. Itulah aritmetika daya tawar.

Sementara Tinta Mengering, Darah Terus Mengalir

Yang membuat kontras ini semakin tajam adalah kabar dari lapangan pada hari-hari yang sama. Pada pertengahan Juni, persis ketika kesepakatan Swiss dirayakan, Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk menyampaikan peringatan keras kepada Dewan HAM. Ia menyatakan bahwa pada tahun ini saja, Israel telah membunuh sekitar lima puluh tujuh warga Palestina di Tepi Barat dan mengeluarkan dua puluh tiga perintah penyitaan tanah. Ia memperingatkan bahwa sejumlah pejabat senior Israel telah berbicara secara terbuka tentang pengusiran seluruh warga Palestina dari Gaza dan tentang mengakhiri segala kemungkinan berdirinya negara Palestina yang layak — sesuatu yang ia sebut sepenuhnya ilegal.

Kalimat Türk yang paling menghantam adalah ini: “Kami sudah kehabisan bendera merah. Peringatan-peringatan kami sebelumnya tidak diindahkan.” Sebuah lembaga PBB tertinggi untuk hak asasi manusia, pada momen ketika dunia merayakan perdamaian, justru menyatakan bahwa ia telah kehabisan cara untuk memperingatkan dunia tentang apa yang terjadi di Palestina. Sementara para diplomat berjabat tangan di tepi Danau Lucerne, di Gaza seorang anak perempuan bernama Zeina memeluk jenazah ayah dan adik lelakinya yang baru berusia lima tahun, yang tewas dalam serangan rudal ke rumah mereka di Kota Gaza.

“Kami sudah kehabisan bendera merah,” kata Komisaris HAM PBB — pada minggu yang sama ketika dunia merayakan perdamaiannya.

Pelajaran tentang Daya Tawar

Apa pelajaran terdalam dari kontras ini? Ia adalah pelajaran yang keras tentang bagaimana dunia bekerja: bahwa dalam tatanan internasional yang ada, keadilan mengalir mengikuti daya tawar, bukan mengikuti penderitaan. Iran memperoleh konsesi besar bukan karena penderitaan rakyatnya lebih besar, melainkan karena ia memiliki daya tawar — rudal yang bisa diancamkan, selat yang bisa ditutup, posisi strategis yang harus diperhitungkan. Gaza tidak memperoleh apa-apa bukan karena penderitaannya lebih kecil — justru jauh lebih besar — melainkan karena ia tidak memiliki daya tawar yang sama.

Inilah kebenaran yang tidak nyaman namun harus dihadapi. Dalam logika kekuasaan murni, sebuah pihak diperhitungkan sejauh ia bisa menimbulkan biaya bagi pihak lain. Iran bisa; Gaza tidak. Maka Iran diajak ke meja, sementara Gaza ditinggalkan di luar pintu. Pelajaran ini, betapapun pahitnya, penting untuk dipahami — bukan untuk menyerah padanya, melainkan untuk memahami bahwa keadilan bagi Palestina tidak akan pernah datang sebagai hadiah dari belas kasih para pemegang kekuasaan. Ia harus diperjuangkan melalui jalur lain: tekanan moral, hukum internasional, opini publik global, dan solidaritas yang tak kunjung padam.

Yang Tersisa untuk Kita Lakukan

Menyaksikan Gaza ditinggalkan sementara yang lain diuntungkan, tugas kita adalah memastikan bahwa apa yang tidak dimiliki Gaza di meja perundingan — daya tawar — sebagiannya bisa digantikan oleh kekuatan lain: suara dan solidaritas global. Ada tiga hal konkret yang bisa kita lakukan sebagai pembaca Indonesia:

  1. Tolak narasi “perdamaian sudah tercapai”. Bagi Iran dan Amerika, perang mungkin usai. Bagi Gaza, pendudukan justru dinyatakan permanen. Lawan kesan keliru bahwa kesepakatan Swiss berarti berakhirnya penderitaan Palestina. Sebarkan informasi terverifikasi yang membedakan perdamaian para raksasa dari realitas Gaza yang sebenarnya.
  2. Dorong agar rekonstruksi dan keadilan Gaza masuk agenda. Ketika Iran memperoleh dana rekonstruksi miliaran dolar, pertanyaan tentang rekonstruksi Gaza harus terus disuarakan. Dukung advokasi yang menuntut agar setiap kerangka kawasan memasukkan pemulihan Gaza dan keadilan bagi korban, bukan menghapusnya.
  3. Perkuat solidaritas sebagai pengganti daya tawar yang tak dimiliki Gaza. Salurkan dukungan kemanusiaan melalui lembaga terpercaya seperti INH, MER-C, Sahabat Al-Aqsha, dan Adara Foundation, serta zakat-infak via BAZNAS, Dompet Dhuafa, atau Rumah Zakat. Solidaritas global yang terorganisir adalah salah satu dari sedikit kekuatan yang bisa mengimbangi ketiadaan daya tawar Gaza di meja kekuasaan.

Perdamaian yang Bukan untuk Semua

Pada akhirnya, kesepakatan Swiss mengajarkan kita untuk berhati-hati dengan kata “perdamaian”. Sebab perdamaian yang ditandatangani di Bürgenstock itu nyata — tetapi ia adalah perdamaian bagi sebagian, bukan bagi semua. Ia menghentikan pertukaran rudal antara Iran dan Israel, membuka kembali jalur minyak dunia, dan mencairkan miliaran dolar bagi Teheran. Tetapi ia tidak menghentikan satu pun buldoser di Tepi Barat, tidak membuka satu pun perlintasan secara permanen di Gaza, dan tidak mencairkan satu pun harapan bagi rakyat yang pendudukan atasnya justru baru saja dinyatakan akan berlangsung tanpa akhir.

Ada sesuatu yang nyaris obscene dalam kontras itu: foto-foto para pemimpin yang berjabat tangan di hotel mewah tepi danau, berdampingan dengan foto seorang anak perempuan yang memeluk jenazah ayah dan adiknya di Gaza. Keduanya terjadi pada minggu yang sama, di planet yang sama, di bawah tatanan internasional yang sama. Yang satu disebut perdamaian; yang lain bahkan tidak disebut sama sekali. Dan justru dalam jurang antara keduanya itulah terletak seluruh kritik yang perlu kita ajukan terhadap tatanan dunia yang ada.

Sebab sebuah perdamaian yang membagi keuntungan di antara yang kuat sambil meninggalkan yang lemah dalam pendudukan tanpa akhir bukanlah perdamaian dalam makna yang sesungguhnya — ia hanyalah penataan ulang kepentingan yang dibungkus dengan kata yang indah. Perdamaian sejati, sebagaimana keadilan sejati, tidak bisa dibangun di atas pengabaian terhadap penderitaan satu bangsa. Selama Gaza tetap menjadi nama yang hilang dari setiap naskah, setiap “perdamaian” yang dirayakan akan tetap cacat di jantungnya.

Maka pertanyaan yang ditinggalkan kesepakatan Swiss kepada kita bukanlah apakah perang dengan Iran telah usai — untuk sementara, tampaknya begitu. Pertanyaannya adalah: ketika dunia begitu mudah merayakan perdamaian yang meninggalkan sebuah bangsa dalam pendudukan tanpa akhir, akankah kita ikut bertepuk tangan, atau akankah kita menjadi suara yang terus bertanya — di mana Gaza dalam perdamaian ini, dan mengapa namanya, sekali lagi, tidak ada di sana? (IW)

ARTIKEL TERKAIT

Terpopuler