Pada tahun 1973, seorang penulis Jerman bernama Michael Ende mengarang Novel Momo. Tokoh utamanya adalah seorang anak perempuan berpakaian lusuh yang punya satu kehebatan: ia sangat sabar mendengarkan orang lain bercerita, sampai-sampai orang yang sedang sedih atau bingung mendadak merasa tenang dan pintar kembali. Namun, kedamaian kota tempat Momo tinggal dirusak oleh kedatangan gerombolan “Pria Berjas Kelabu”. Mereka adalah pegawai dari Bank Waktu. Mereka merayu warga kota: “Jangan buang waktumu untuk mengobrol santai, melamun, atau merawat ibu yang sudah tua! Waktu harus dihemat dan ditabung di bank kami!”
Lima puluh tahun kemudian, kita menyadari satu hal yang menyeramkan: para Pria Berjas Kelabu di buku itu ternyata benar-benar ada di dunia nyata. Sekarang mereka tidak memakai jas abu-abu, melainkan memakai jaket hoodie, duduk di kantor-kantor komputer raksasa di Amerika sana, dan menamai Bank Waktu mereka dengan istilah bahasa Inggris: Audience Retention (yang artinya: seberapa betah matamu ditawan oleh layar).
Coba lihat halaman depan media sosial kita sekarang. Ada keanehan yang berlawanan. Di satu video kita melihat orang membagikan doa pagi atau ayat suci, lalu begitu jempol kita menggeser layar ke bawah, kita melihat konten orang pamer mobil mewah, orang marah-marah yang dibuat-buat, atau orang miskin yang direkam hanya untuk dijadikan tontonan. Kita jadi terlihat sangat suci sekaligus sangat serakah dalam hitungan detik. Mengapa bisa begitu? Karena dunia kita sekarang digerakkan oleh satu hal saja: durasi berapa lama kamu mau menatap layar.
Di dalam buku Momo, waktu yang “dihemat” oleh warga kota sebenarnya tidak pernah ditabung. Waktu itu digulung menjadi cerutu abu-abu yang diisap oleh para Pria Berjas Kelabu agar monster-monster itu tetap hidup. Kalau manusia berhenti menyetorkan waktu, para pencuri itu akan lenyap menjadi asap. Nah, aplikasi TikTok, Instagram, atau YouTube kita bekerja persis seperti monster asap itu. Mereka hanya bisa hidup dengan cara membakar jam mainmu. Bedanya, jika penjahat di buku Momo menyuruh orang berlari-lari bekerja di jalan, penjahat zaman sekarang menyuruhmu tiduran di kasur, mematung, dan melarang jempolmu bergeser ke video lain selama tiga detik pertama.
Karena “durasi menonton” adalah raja, semua kejadian di dunia nyata harus diubah menjadi tontonan. Kalau tidak bisa direkam dan ditonton, kejadian itu dianggap tidak penting. Di balik aplikasi yang kamu mainkan, ada bos-bos perusahaan dan pembuat video yang duduk memelototi grafik naik-turun di komputer mereka. Di kepala mereka hanya ada satu pertanyaan licik: “Bagaimana caranya supaya anak ini tidak menutup videoku selama tiga detik ke depan?”
Tahukah kamu rahasia otak kita? Secara alami, otak manusia paling cepat bereaksi pada tiga hal: rasa takut, rasa marah, dan rasa penasaran yang berlebihan. Video yang tenang, penuh pelajaran, dan mengajak kita berkasih sayang justru tidak laku karena membuat orang berpikir diam. Sebaliknya, video orang bertengkar di jalan, video gosip, atau video orang menangis histeris pakai musik sedih akan membuat jempol kita berhenti lebih lama. Komputer tidak tahu mana yang baik dan mana yang jahat; komputer hanya tahu angka. Karena komputer memberi uang lebih banyak untuk video yang penuh keributan, orang-orang pun berlomba membuat video berisik tersebut.
Akibatnya, hal-hal suci seperti agama dan duka cita kehilangan rasa hormatnya. Di dalam buku Momo, ada tokoh kakek bijak bernama Master Hora. Ia memberi tahu Momo bahwa di dalam hati setiap manusia tumbuh “Bunga Waktu”. Bunga inilah yang membuat kita bisa merasakan cinta, duka cita, atau rasa marah ketika melihat orang lain dijahati. Sekarang, aplikasi di ponsel kita bertindak seperti mesin pemotong rumput yang membabat habis bunga indah itu. Contoh paling menyedihkan adalah perang di Palestina. Ketika kita melihat video gedung hancur dan anak-anak menangis di Gaza, Bunga Waktu di hati kita mekar berupa rasa kasihan yang mendalam. Tetapi empat detik kemudian, jempol kita menggeser layar ke video ulasan es krim yang enak. Rasa kasihan kita dimatikan secara paksa saat itu juga, sebelum rasa sedih itu berubah menjadi tindakan menolong yang nyata.
Para pencuri waktu di kantor aplikasi tahu satu hal: rasa peduli yang sungguhan itu butuh proses yang lambat. Untuk sungguh-sungguh membela Palestina, kita harus sabar membaca buku sejarahnya, atau bersabar menahan diri tidak membeli produk tertentu. Karena kegiatan sabar itu tidak menghasilkan uang bagi aplikasi, komputer mengubahnya menjadi ajang ikut-ikutan. Akhirnya, jutaan orang memposting gambar kartun buatan komputer bertuliskan “All Eyes on Rafah” cuma karena takut dibilang tidak gaul oleh teman-temannya, lalu lima detik kemudian kembali tertawa menonton video lucu. Rasa peduli kita disulap menjadi kembang api: meledak terang sebentar, lalu kembali gelap.
Di sinilah letak kengerian cerita ini. Ketika tangisan seorang ayah yang memeluk anaknya di reruntuhan dijepit di antara iklan sabun cuci muka dan jogetan viral, penderitaan manusia sudah tidak dihargai lagi. Darah dan air mata rakyat Palestina diubah menjadi bensin pemutar video. Komputer berhasil mengubah posisi kita dari “orang yang menyaksikan kejahatan” menjadi sekadar “penonton bioskop”, di mana air mata kesedihan orang seluruh dunia dihitung nilainya dalam bentuk rupiah per klik iklan.
Kalau kita protes kepada para pembuat aplikasi itu, mereka pasti berkilah: “Lho, kami kan cuma menyajikan apa yang disukai penonton!” Itu alasan yang sangat pengecut. Di cerita Momo, warga kota yang sudah tertipu oleh Pria Berjas Kelabu mendadak berubah jadi orang yang gampang marah, terburu-buru, dan merasa hidupnya selalu kurang. Begitu juga kita hari ini. Selera tontonan kitalah yang dibentuk oleh apa yang terus disuapkan kepada kita. Ketika ponsel terus-menerus mencekoki kita dengan keributan, mereka sebenarnya sedang mengajari hati kita untuk menjadi miskin rasa sayang.
Coba hitung berapa besar kerugian kita. Harganya bukan sekadar uang pulsa yang habis, melainkan triliunan jam waktu hidup anak-anak di seluruh dunia yang terbuang sia-sia di depan layar tanpa menghasilkan apa-apa. Lebih parah lagi, kita kehilangan rasa sayang kepada sesama manusia. Di mata komputer, harga diri seorang manusia hari ini cuma dihitung dari berapa rupiah yang didapat saat jempolnya mengklik sebuah iklan. Kita tidak lagi diperlakukan sebagai manusia yang punya akal, melainkan seperti sapi di peternakan yang diperah datanya.
Lalu, bagaimana cara kita mengalahkan monster-monster ini? Cara Momo mengalahkan para Pria Berjas Kelabu bukan dengan mengajak mereka berkelahi, melainkan dengan duduk diam dan bersabar sampai para pencuri waktu itu kehabisan asap cerutu dan lenyap sendiri. Kita pun harus melakukan hal yang sama: kita harus mempraktikkan puasa ponsel yang disengaja. Kita harus melatih jempol dan mata kita untuk melambat: sengaja membaca buku cerita yang panjang sampai habis, dan memilih diam tidak ikut berkomentar saat ada video yang memancing kita untuk marah. Dan bagi para pembuat konten, inilah saatnya berjanji dalam hati: ada kesedihan orang lain di dunia ini yang terlalu suci, yang tidak boleh dipakai cuma demi memancing penonton mengklik video.
Pada akhirnya, malam ini coba kita berkaca di depan cermin dan bertanya pada diri sendiri: jika seluruh waktu bermain kita, rasa sedih kita, dan isi pikiran kita habis disedot hanya untuk membuat kaya raya beberapa pemilik aplikasi di luar negeri sana, lalu siapa sebenarnya yang sedang kita patuhi? Tuhan yang rajin kita sebut dalam doa, ataukah para Pria Berjas Kelabu di dalam layar yang mengatur kapan mata kita boleh berkedip?

