Ada sebuah paradoks besar tentang retensi di era digital yang sedang kita hidupi hari ini: kita tidak pernah terlihat begitu religius sekaligus begitu materialistis pada saat yang bersamaan. Di beranda media sosial, kutipan ayat suci dan doa pagi berseliweran, hanya berjarak satu usapan jari dari konten pamer kemewahan, amarah yang direkayasa, atau eksploitasi kemiskinan yang dibalut label social experiment. Keterbelahan ini terjadi bukan karena manusia modern mendadak kehilangan akal sehat, melainkan karena kita tanpa sadar telah menyepakati satu mata uang baru yang menggerakkan peradaban: retensi.
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Selama sepuluh tahun terakhir, kita pindah dari masa “mencari informasi” menjadi masa “merebut perhatian otomatis”. Zaman dulu, teknologi dibuat untuk menghemat waktu agar kita bisa bermain di luar rumah. Sekarang, sejak ada fitur gulir layar yang tidak pernah habis, tugas teknologi berubah total: mesin sengaja dirancang untuk menghabiskan waktu hidup kita di depan layar sebanyak mungkin. Bagi perusahaan aplikasi, membuat kita menoleh saja tidak cukup lagi. Mereka ingin mengurung mata kita selama berjam-jam. Ketika lamanya waktu menonton dianggap sebagai hal paling penting, semua kejadian nyata harus diubah menjadi tontonan. Jika sesuatu tidak bisa direkam lalu ditonton orang lain, maka ia dianggap tidak punya nilai sama sekali.
Tempat kejadian perkara dari masalah besar ini bukan di medan perang sungguhan, melainkan di dalam ruangan ber-AC yang sangat sepi: gedung kantor raksasa teknologi di Amerika, ruang rapat pembuat iklan, sampai kamar tidur para pembuat video. Di sanalah orang-orang penting itu berkumpul. Para direktur pemasaran, perancang strategi jualan, dan para petugas tim media sebenarnya sedang melakukan satu siasat yang sama persis. Mereka duduk menatap layar komputer, memelototi grafik jumlah penonton, lalu memikirkan satu pertanyaan sangat gila: “Bagaimana caranya supaya orang ini tidak menggeser layarnya selama tiga detik ke depan?”
Cara menjawab pertanyaan itu selalu berujung pada trik psikologi yang mematikan rasa kasihan kita. Secara alami, otak manusia paling cepat terpancing oleh tiga hal: rasa takut, amarah, dan hal porno. Video yang tenang, mendalam, dan penuh kasih sayang biasanya sepi penonton karena butuh ketenangan saat melihatnya. Sebaliknya, video orang bertengkar karena selingkuh, keributan di jalan raya, atau kesedihan parah yang diberi musik sedih akan menahan jempol penonton jauh lebih lama. Mesin komputer tidak mengenal dosa; ia cuma tahu angka. Ketika sistem memberi hadiah uang bagi konten tanpa rasa kasihan, para kreator serta penjual dengan senang hati memproduksinya secara sangat banyak.
Lalu, di mana letak ajaran agama yang selalu kita banggakan? Agama akhirnya cuma dijadikan bahan jualan baru. Berbuat baik tidak lagi dilakukan secara diam-diam serta tulus, melainkan dipertontonkan supaya mendapat banyak jempol. Kita merasa sudah jadi orang baik hanya dengan memencet tombol suka pada video kesedihan saudara kita di negara yang jauh, lalu lima detik kemudian tertawa terbahak-bahak melihat video konyol. Rasa peduli kita pun hancur berkeping-keping; ia menyala lalu mati dalam hitungan detik, tergantung pada apa yang disajikan oleh layar kita.
Contoh paling nyata dari hilangnya rasa kasihan ini terlihat pada perang menyedihkan di Palestina. Pembantaian manusia yang disiarkan langsung tidak lagi membuat kita marah besar, melainkan cuma berubah menjadi salah satu “jenis tontonan”. Kita melihat gambar semangka atau poster buatan komputer dibagikan oleh para youtuber dan toko online bukan karena mereka tulus peduli, melainkan karena takut dihujat penonton jika diam saja. Ketika suara tangis anak-anak di bawah reruntuhan rumah terjepit di antara iklan sabun cuci muka dan video jalan-jalan ke kafe, penderitaan manusia sungguh kehilangan harga dirinya. Darah serta air mata diubah menjadi angka penonton, dipakai sebagai pancingan awal supaya grafik aplikasi tetap berwarna hijau.
Jika kamu bertanya kenapa aturan buruk ini sangat kuat, jawabannya ada pada sistem “bisnis mengintip kebiasaan pengguna”. Bisnis jualan ini cuma bisa sukses kalau kita terus-menerus merasa kurang cantik, merasa tertinggal zaman, dan merasa paling berhak menghakimi orang lain. Para bos pembuat iklan selalu berkilah: “Kami cuma memberikan apa yang memang disukai penonton.” Padahal, itu adalah alasan yang sangat pengecut. Selera penonton tidak muncul sendiri dari langit. Selera itu dibentuk oleh apa yang terus dicekokkan kepada mereka. Ketika televisi serta internet sengaja membius kita dengan kehebohan palsu demi menahan mata, mereka sebenarnya sedang memiskinkan batin kita secara sangat terencana.
Berapa kerugian yang kita bayar untuk semua ini? Jawabannya bukan sekadar habisnya paket internet, melainkan miliaran jam hidup manusia yang terbuang sia-sia, serta matinya rasa sayang di seluruh dunia. Kita menukar pikiran jernih dengan kesenangan palsu sementara. Harga diri seseorang sekarang diukur dari seberapa pintar ia menghasilkan uang lewat konten. Ketika doa, tangisan, serta kebaikan sudah dipatok harganya lewat bayaran per klik, manusia tidak lagi hidup sebagai hamba, melainkan cuma hewan ternak yang dikurung dalam kandang data.
Lalu, bagaimana cara kita merusak jebakan lingkaran setan yang jahat ini? Kita tidak bisa langsung membuang HP begitu saja karena sekolah serta pekerjaan kita butuh internet. Cara melawannya adalah lewat mempraktikkan “puasa digital secara sadar”. Kita harus melatih ulang jempol serta mata kita supaya sengaja menolak menonton video-video heboh, mau sabar membaca tulisan yang panjang, dan memilih diam saat mesin memancing kita untuk marah. Bagi para pembuat iklan maupun para youtuber, sekaranglah saatnya memiliki batas rasa malu: sadarlah bahwa di dunia ini ada banyak hal yang terlalu suci untuk dijadikan pancingan video tiga detik.
Pada akhirnya, kita harus berani berkaca di cermin dan bertanya: jika seluruh waktu, perasaan, dan rasa sayang kita habis digadaikan demi memperkaya rekening beberapa perusahaan besar, lalu siapa yang sebenarnya sedang kita sembah? Tuhan yang namanya kita pampang di profil, ataukah mesin komputer yang mengatur kedipan mata kita?

