HomeSejarah Indonesia-PalestinaSejarah PalestinaDari Kamp Jabalia ke Marj al-Zuhur: Lahirnya Gerakan Perlawanan Modern Gaza (1973–1993)

Dari Kamp Jabalia ke Marj al-Zuhur: Lahirnya Gerakan Perlawanan Modern Gaza (1973–1993)

GAZA CITY — Pada sore 8 Desember 1987, sebuah truk militer Israel menabrak dua kendaraan berisi buruh Palestina di titik pemeriksaan Erez, perbatasan utara Jalur Gaza. Empat pekerja Palestina yang kembali dari pekerjaan mereka di Israel tewas dalam kecelakaan itu, dan tujuh lainnya luka berat. Insiden ini memicu rangkaian peristiwa yang dikenal sebagai Intifada Pertama — dan tanpa direncanakan, mempercepat lahirnya kekuatan politik baru yang membentuk ulang Gaza untuk empat dekade berikutnya: Hamas.

Banyak warga Gaza meyakini tabrakan itu bukan kecelakaan, melainkan balas dendam atas kematian seorang warga Israel yang ditikam di Gaza beberapa hari sebelumnya. Keesokan harinya, warga Gaza turun ke jalan membakar ban dan melempar batu serta bom molotov ke arah polisi dan tentara Israel; di Jabalia, patroli militer Israel menembak dan menewaskan seorang pemuda 17 tahun, serta melukai 16 orang lainnya. Sumber lain mencatat korban tewas pertama sebagai Hatem al-Sisi, juga berusia 17 tahun, yang tertembak peluru tepat di jantungnya. Kerusuhan menyebar cepat ke seluruh Jalur Gaza, kemudian ke Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Akar yang Sudah Tertanam Sebelum 1987

Gerakan perlawanan Islamis di Gaza tidak lahir mendadak dari kekosongan. Sejak 1973, Syekh Ahmed Yassin — tokoh Ikhwanul Muslimin cabang Palestina — mendirikan Mujama al-Islami (Pusat Islam) di Gaza, badan amal yang mengelola klinik, bank darah, penitipan anak, dapur umum, klub pemuda, dan beasiswa bagi pelajar yang ingin belajar ke Arab Saudi dan negara Barat. Pada 1979, Israel mengakui Mujama al-Islami sebagai badan amal resmi, membuka jalan bagi organisasi ini membangun Universitas Islam Gaza, masjid, sekolah, dan perpustakaan di kota tersebut.

Bersamaan dengan itu, arus Islamis yang lebih radikal juga tumbuh di Gaza. Fathi Shaqaqi, dokter kelahiran kamp pengungsi Rafah yang belajar matematika di Universitas Birzeit dan kedokteran di Mesir, kembali ke Palestina pada awal November 1981 setelah diusir dari Mesir bersama rekan-rekannya menyusul pembunuhan Presiden Anwar Sadat. Bersama Syekh Abd al-Aziz Awda, pendakwah dari kamp pengungsi Jabalia, Shaqaqi mendirikan Jihad Islam Palestina (PIJ) di Gaza pada 1981 — gerakan yang, berbeda dari Ikhwanul Muslimin, meyakini perjuangan bersenjata melawan Israel harus dimulai segera, bukan menunggu kebangkitan spiritual umat terlebih dahulu. PIJ memulai kehidupan politiknya di masjid dan kampus, sebelum sel-sel rahasianya melancarkan aksi bersenjata pertama pada 1984.

Kerusuhan Meluas, Kepemimpinan Bawah Tanah Terbentuk

Begitu kerusuhan Desember 1987 meluas, koordinasinya diambil alih oleh Unified National Leadership of the Uprising (UNLU) — aliansi rahasia faksi-faksi yang berafiliasi dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat, yang saat itu bermarkas di Tunis. Pada pertengahan Januari 1988, sedikitnya 59 warga Palestina telah tewas di tangan pasukan Israel, dan kerusuhan telah mengkristal menjadi pemberontakan populer melawan pendudukan Israel yang berbasis pada pembangkangan sipil. Dalam enam bulan pertama, warga Palestina dari segala usia dan jenis kelamin tidak hanya mengisi, tetapi juga mengendalikan jalannya Intifada, bergerak selaras dengan kepemimpinan lokal dan nasional — memaksa otoritas pendudukan mengambil sejumlah langkah represif: penutupan sekolah dan universitas berkepanjangan sejak awal 1988, penangkapan 18.000 orang hanya dalam tahun pertama, deportasi berkelanjutan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai pemimpin, dan hampir 3.000 penahanan administratif pada 1988 saja. Pada tahun pertama itu, sedikitnya 300 warga Palestina tertembak mati dan puluhan ribu lainnya cedera. Wikipedia + 2

Delapan bulan setelah pecahnya Intifada, tepatnya 31 Juli 1988, Raja Hussein dari Yordania secara resmi melepaskan klaim Yordania atas Tepi Barat. Menyusul langkah itu, pada 15 November 1988, PLO secara sepihak memproklamasikan negara Palestina, dengan Arafat sebagai presidennya.

Hamas Lahir dari Jejaring Sosial Mujama al-Islamiya

Di tengah gelombang protes, Yassin dan sejumlah tokoh Ikhwanul Muslimin lain — termasuk Abdel Aziz al-Rantisi, dosen parasitologi dan genetika di Universitas Islam Gaza — memutuskan membentuk sayap perlawanan baru agar Ikhwanul Muslimin tidak tertinggal oleh dominasi PLO yang sekuler dalam memimpin pemberontakan. Yassin menjabat sebagai ketua Dewan Syura Hamas sejak 10 Desember 1987 hingga pembunuhannya pada 22 Maret 2004. Sejumlah sumber lain mencantumkan tanggal deklarasi organisasi ini secara berbeda — sebuah rujukan menyebut 14 Desember 1987 — mencerminkan proses pembentukan yang bertahap dan tidak diumumkan secara tunggal dan seremonial.

Organisasi baru itu diberi nama Harakat al-Muqawama al-Islamiya, disingkat Hamas — Gerakan Perlawanan Islam. Hamas menerbitkan piagam resminya pada Agustus 1988, menyerukan pembentukan negara Islam di seluruh wilayah Palestina mandat dan penghancuran Israel. Rantisi sendiri, selama Intifada Pertama pada 1988, menjadi organisator populer yang turut membidani pembentukan Hamas, dan kelak menjadi pemimpin politik serta juru bicara Hamas di Gaza setelah Yassin dibunuh pada 2004.

Israel merespons dengan menangkap Yassin pada 1989 setelah ia diduga memerintahkan penculikan dua tentara Israel, Avi Sasportas dan Ilan Sa’adon, yang kemudian dibunuh. Yassin diadili di Israel dan dijatuhi dua hukuman seumur hidup, namun dibebaskan pada Oktober 1997 atas permintaan Raja Hussein dari Yordania, sebagai bagian dari pertukaran dengan agen Israel yang gagal membunuh tokoh Hamas Khalid Mishal di Amman — dan disambut sebagai pahlawan sekembalinya ke Gaza.

Nama dari Masa Lalu: Siapa Izz ad-Din al-Qassam

Pada 1991, Hamas membentuk sayap militernya dengan nama yang merujuk pada tokoh yang wafat lebih dari setengah abad sebelumnya. Izz ad-Din al-Qassam lahir di Jableh, Suriah, sekitar 1881–1882, seorang pendakwah Muslim yang aktif menentang kekuasaan Prancis di Suriah sebelum melarikan diri ke Haifa, Palestina, dan menjadi pejabat wakaf yang gelisah menyaksikan penderitaan petani Arab Palestina. Di Haifa pada akhir 1920-an, ia membentuk kelompok bersenjata bernama Tangan Hitam (Black Hand) untuk melancarkan serangan terhadap sasaran Inggris dan Zionis.

Setelah jenazah seorang polisi Palestina, Moshe Rosenfeld, ditemukan pada 8 November 1935, al-Qassam dan pengikutnya diduga bertanggung jawab dan menjadi buruan aparat kolonial Inggris. Bersama sebelas pengikutnya, al-Qassam mengungsi ke hutan-hutan di sekitar desa Ya’bad, wilayah Jenin, dan pada 20 November 1935 bertempur selama enam jam melawan pasukan Inggris yang jauh lebih besar; al-Qassam dan empat pengikutnya tewas. Kematiannya memicu pemogokan umum di Haifa dan salah satu prosesi pemakaman terbesar yang pernah disaksikan kota itu, serta menjadi pemicu penting Pemberontakan Arab 1936–1939 melawan mandat Inggris.

Nama itulah yang dipakai Hamas lebih dari lima dekade kemudian. Brigade Izz al-Din al-Qassam (IQB) resmi dibentuk pada 1991 sebagai sayap militer Hamas, dan menjadi kelompok bersenjata terbesar dan paling lengkap peralatannya yang beroperasi di Gaza. Sejumlah sumber media menyebut tahun pembentukannya 1992, namun mayoritas sumber akademik dan lembaga riset kebijakan menetapkan 1991 sebagai tahun berdirinya secara resmi, dengan operasi awal yang dijalankan secara rahasia.

Marj al-Zuhur: Deportasi yang Berbalik Arah

Titik balik penting terjadi menjelang akhir 1992. Dalam dua minggu pertama Desember 1992, enam anggota aparat keamanan Israel tewas dibunuh warga Palestina di wilayah pendudukan, termasuk seorang polisi perbatasan bernama Nissim Toledano, yang diculik pada 13 Desember oleh Hamas. Sebagai respons, pada 16 Desember 1992 pemerintah Israel memerintahkan deportasi massal empat ratus warga Palestina yang dicurigai menjadi anggota Hamas ke seberang perbatasan Lebanon — deportasi tunggal terbesar sejak pendudukan dimulai pada 1967. B’TselemWikipedia

Sebanyak 415 anggota Hamas dan Jihad Islam dideportasi ke Lebanon, dan sebagian besar dari mereka berafiliasi dengan aparat politik Hamas, bukan pelaku aksi kekerasan. Para deportan memutuskan bertahan bersama dan mendirikan kamp di Marj al-Zuhur di Lebanon selatan, tempat mereka mengisi waktu dengan belajar dan berbagai kegiatan budaya, termasuk menulis puisi yang dibacakan dalam pertemuan-pertemuan kamp dan diterbitkan di media Arab. Para deportan tinggal di tenda-tenda di kawasan itu selama setahun, sebelum resolusi internasional 977 dikeluarkan yang mewajibkan pemulangan mereka ke Palestina.

Hamas memandang deportasi ke Marj al-Zuhur sebagai peristiwa pembentuk jati diri organisasi — membawa Hamas ke perhatian regional dan internasional serta membantunya menjalin hubungan dengan entitas non-Palestina seperti Hizbullah di Lebanon dan rezim Iran. Di antara para deportan yang melakukan kunjungan ke kamp-kamp pengungsi di Lebanon terdapat Ismail Haniyeh, Abdel Aziz al-Rantisi, dan Mahmoud al-Zahar — tokoh-tokoh yang kelak menjadi pemimpin utama Hamas. Sebulan sebelumnya, pada September–Oktober 1992, delegasi Hamas yang dipimpin kepala biro politik Musa Abu Marzouq melakukan kunjungan resmi pertama ke Iran dan bertemu pemimpin rezim termasuk Ali Khamenei, sementara delegasi Hizbullah pimpinan Hassan Nasrallah juga berkunjung pada waktu yang sama — pertemuan yang memfasilitasi koordinasi awal, termasuk pelatihan operasi Hamas di kamp-kamp Hizbullah.

Intifada Berakhir di Meja Perundingan

Perlawanan mulai mereda setelah Konferensi Madrid 1991, perundingan pertama yang mempertemukan langsung pemerintah Israel dengan delegasi Palestina. Proses itu berujung pada Kesepakatan Oslo yang ditandatangani pada 1993 — dan pada saat Intifada berakhir, lebih dari seribu warga Palestina telah tewas dan lebih dari seratus ribu terluka akibat tindakan pasukan Israel, sementara sekitar dua ratus warga Israel tewas oleh warga Palestina dan sekitar 350 warga Palestina tewas oleh sesama warga Palestina yang dituduh sebagai kolaborator.

Data korban selama enam tahun Intifada bervariasi antar lembaga. B’Tselem mencatat 1.162 warga Palestina tewas oleh militer dan pemukim Israel sepanjang enam tahun Intifada, dan 170 warga Israel tewas oleh pihak Palestina. Sumber lain, termasuk laporan dekade B’Tselem yang menghitung periode hingga akhir 1997, mencatat 1.318 kematian Palestina — perbedaan ini mencerminkan variasi rentang waktu dan metode penghitungan antar lembaga, bukan sengketa fakta tunggal.

Hamas dan PIJ menolak keras Kesepakatan Oslo, yang dianggap sebagai kompromi yang tidak menjawab tuntutan pembebasan penuh Palestina. Fathi Shaqaqi sendiri telah dideportasi Israel ke Lebanon selatan pada Agustus 1988, dan kemudian dibunuh oleh agen Israel di Malta pada Oktober 1995.

Penutup: Garis yang Bersambung ke Gaza Hari Ini

Perpecahan ideologis yang terbentuk pada periode ini — antara jalur diplomasi PLO dan jalur perlawanan bersenjata Hamas serta Jihad Islam — menjadi garis retak yang terus membentuk politik Gaza pada dekade-dekade berikutnya: pengambilalihan Gaza oleh Hamas pada 2007, blokade yang menyusul, dan rangkaian perang yang berujung pada kehancuran besar Gaza pascaOktober 2023. Struktur perlawanan yang lahir dari kamp pengungsi Jabalia, klinik-klinik Mujama al-Islamiya, dan tenda-tenda Marj al-Zuhur, dengan caranya sendiri, terus membentuk lanskap Gaza hingga gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini