HomeBeritaIsrael Ancam Serang Gaza Gara-Gara Layangan, Serangan Susulan Tewaskan Sejumlah Warga Sipil

Israel Ancam Serang Gaza Gara-Gara Layangan, Serangan Susulan Tewaskan Sejumlah Warga Sipil

GAZA CITY — Militer Israel meningkatkan serangan di Jalur Gaza sepanjang akhir pekan lalu, menyusul perintah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz yang menetapkan setiap layangan, balon, dan drone yang berasal dari Gaza sebagai “tindakan perang”. Perintah yang dikeluarkan Minggu (23/8) itu diikuti rangkaian serangan yang menewaskan sedikitnya lima warga Palestina dalam dua hari, termasuk seorang anak berusia empat tahun, di tengah gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.

Perintah Katz menyusul insiden sejumlah layangan yang mendarat di wilayah komunitas perbatasan Israel. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu turut mengeluarkan pernyataan senada, menegaskan Gaza “tidak akan kembali ke situasi sebelum 7 Oktober 2023”.

Serangan Susulan Tewaskan Anak-Anak

Pada Minggu (23/8), serangan udara Israel menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina, salah satunya Muhammad Abdel Salam Taha, anak berusia empat tahun. Sehari kemudian, serangan menjelang subuh menghantam tenda tempat tinggal sebuah keluarga di Deir el-Balah dan menewaskan dua bersaudara, menurut laporan warga Palestina setempat.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025 diberlakukan telah mencapai 1.288 jiwa, dengan 4.290 orang lainnya luka-luka, hingga Senin (24/8). Dengan tambahan tersebut, total korban tewas warga Palestina sejak 7 Oktober 2023 tercatat sedikitnya 73.422 jiwa.

Ketegangan Pascapertemuan Kushner-Netanyahu

Eskalasi ini terjadi hanya beberapa hari setelah utusan Amerika Serikat Jared Kushner mengakhiri pertemuan dengan Netanyahu pada 17 Agustus di Yerusalem, yang membahas upaya menyelamatkan gencatan senjata di Gaza. Pertemuan itu menghasilkan dua kelompok kerja — soal pelucutan senjata Hamas dan isu kemanusiaan — namun tidak menuntaskan perbedaan mendasar antara kedua pihak: Israel menolak menarik pasukannya dari Gaza selama Hamas belum melucuti senjata sepenuhnya, sementara Israel juga membatasi masuknya bantuan dan material rekonstruksi ke wilayah tersebut.

Dalam pertemuan itu, Kushner disebut tidak keberatan dengan serangan terhadap “ancaman yang mendesak”, namun memperingatkan agar definisi tersebut tidak ditafsirkan terlalu luas. Rangkaian serangan yang terjadi setelahnya menunjukkan peringatan itu tidak banyak membatasi interpretasi Israel soal apa yang dianggap sebagai ancaman mendesak.

Seorang sumber dari Hamas mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan-serangan Israel yang berlanjut serta penolakannya menarik pasukan dari Gaza merupakan pelanggaran terhadap rencana perdamaian 15 poin yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 30 Juli.

Situasi di Lapangan

Israel Defense Forces (IDF) menyebut sebagian target serangan pekan ini sebagai komandan Hamas, termasuk dalam serangan drone di Deir el-Balah pada Sabtu (22/8) dan serangan di Nuseirat. Pihak Hamas melalui juru bicaranya, Hazem Qassem, menuduh Badan Perdamaian (Board of Peace) yang dibentuk Trump memberikan “perlindungan” bagi Israel untuk melanjutkan eskalasi alih-alih menekannya agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi tambahan dari IDF maupun Kantor PM Israel terkait rincian korban sipil dalam serangan-serangan tersebut.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini