HomeSejarah Indonesia-PalestinaDokter yang Menjadi Pemimpin Selama 25 Hari: Kisah Abdul Aziz al-Rantisi

Dokter yang Menjadi Pemimpin Selama 25 Hari: Kisah Abdul Aziz al-Rantisi

GAZA CITY — Pada 17 April 2004, sebuah mobil di Lingkungan Sheikh Radwan, Gaza City, dihantam rudal yang ditembakkan dari helikopter Apache Israel. Di dalamnya terdapat Abdul Aziz al-Rantisi, pemimpin Hamas di Jalur Gaza yang baru menjabat 25 hari. Ia tewas bersama dua orang lain dalam serangan tersebut — sumber berbeda dalam menyebutkan apakah keduanya adalah dua pengawalnya, atau seorang pengawal dan putranya, Mohammed, berusia 27 tahun. Poin ini akan dibahas lebih lanjut di bagian audit data.

Kematian Rantisi terjadi kurang dari sebulan setelah pendahulunya, Sheikh Ahmed Yassin, tewas dalam serangan serupa pada 22 Maret 2004. Dalam rentang 26 hari, Israel menghilangkan dua tokoh puncak kepemimpinan Hamas di Gaza.

Dari Pengungsi Yibna ke Bangku Kedokteran Alexandria

Rantisi lahir pada 23 Oktober 1947 di Yibna, sebuah desa di dekat Jaffa, Palestina Mandat. Setahun kemudian, keluarganya terusir selama Nakba 1948 dan menetap sebagai pengungsi di Jalur Gaza. Ia dibesarkan bersama sepuluh saudara kandungnya di kamp pengungsi Khan Yunis, di bawah administrasi Mesir yang kemudian berganti menjadi pendudukan militer Israel setelah 1967.

Pada usia sembilan tahun, tahun 1956, pamannya tewas ditembak tentara Israel — peristiwa yang menurut sejumlah sumber turut membentuk pandangan politiknya sejak dini. Rantisi lulus terbaik dari sekolah menengah UNRWA di Khan Yunis pada 1965, dan berkat program beasiswa Mesir bagi pelajar Gaza berprestasi yang tidak mampu, ia melanjutkan studi kedokteran anak di Universitas Alexandria.

Di Alexandria itulah ia berkenalan dengan Syekh Mahmoud Eid, mantan imam masjid di Khan Yunis semasa kecilnya, yang memperkenalkannya pada Ikhwanul Muslimin. Rantisi kelak mengakui bahwa pertemuan itu menjadi titik balik yang membuatnya menjadi pengikut setia gerakan tersebut. Ia menyelesaikan magister pediatri pada 1976 dan kembali ke Gaza untuk memimpin bagian anak di Rumah Sakit Nasser.

Hamas' new leader is an avid foe of Israel, Arafat / Rantisi most ...

Terrorize Israelis while eliciting sympathy abroad: Inside Hamas's ...

Tujuh Pendiri di Rumah Sheikh Yassin

Pada 9 Desember 1987, di tengah gelombang kemarahan atas kecelakaan lalu lintas yang menewaskan empat warga Palestina di Jalur Gaza, tujuh anggota Ikhwanul Muslimin berkumpul di rumah Sheikh Ahmed Yassin. Mereka — Yassin, Rantisi, Abdel Fattah Dukhan, Mohammed Shama, Ibrahim al-Yazouri, Issa al-Najjar, dan Salah Shehadeh — memutuskan membentuk sayap perlawanan baru dari Ikhwanul Muslimin: Harakat al-Muqawama al-Islamiyya, yang disingkat Hamas.

Keputusan itu lahir dari perdebatan internal. Sebagian anggota muda Ikhwanul Muslimin menilai gerakan induk terlalu berfokus pada islamisasi bertahap dan kurang serius dalam perlawanan bersenjata terhadap pendudukan, berbeda dengan strategi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) atau Jihad Islam Palestina yang lebih dulu mengangkat senjata. Pembentukan Hamas menjadi respons terhadap tekanan itu, bertepatan dengan pecahnya Intifada Pertama pada hari yang sama.

Rantisi segera menjadi salah satu tokoh yang paling vokal. Ia ditangkap pertama kali pada Januari 1988 dengan tuduhan menulis selebaran-selebaran jalanan Hamas yang menghasut dukungan bagi intifada, dan dijatuhi hukuman dua setengah tahun penjara yang dijalani di penjara Ansar III, Gaza, dan Kfar Yonnah. Ia dibebaskan September 1990, ditangkap kembali November tahun yang sama, lalu dibebaskan Desember 1991.

Marj al-Zuhur: Titik Balik Reputasi Internasional Hamas

Desember 1992, setelah serangkaian serangan Hamas yang menewaskan enam tentara Israel dalam sepekan, pemerintah Israel mendeportasi 415–416 aktivis Hamas dan Jihad Islam ke Lebanon Selatan. Rantisi termasuk di antara mereka, dan ditunjuk sebagai juru bicara para deportan.

Alih-alih menyebar, para deportan memilih bertahan bersama di sebuah perkemahan dekat Desa Marj al-Zuhur, di perbatasan wilayah kendali Israel. Rantisi memimpin kampanye media dari kamp itu — tercatat sekitar 1.500 kegiatan pers digelar selama masa pengasingan — yang berhasil membingkai penderitaan para deportan sebagai simbol perlawanan tanpa kekerasan berlandaskan nilai-nilai Islam. Menurut riset akademik yang mengkaji periode ini, episode Marj al-Zuhur menjadi mitos pendirian yang memperkuat citra Hamas dan mempererat hubungan gerakan itu dengan Hizbullah serta Iran, sekaligus mengubah Hamas dari gerakan lokal menjadi pemain dengan sorotan internasional. Rantisi sendiri kelak menyebut Marj al-Zuhur sebagai “batu pijakan” yang membuat Hamas muncul sebagai aktor di panggung dunia.

Para deportan dipulangkan pada Desember 1993 setelah kompromi Amerika Serikat–Israel–Palestina. Rantisi langsung ditahan lagi sesampainya di Gaza, karena menentang keras Perjanjian Oslo yang baru saja diteken dan menyerukan perlawanan terhadap pendudukan Israel dengan segala cara. Pada Agustus 1995, pengadilan militer Israel menjatuhkan hukuman penjara terhadapnya, dan ia baru dibebaskan April 1997. Sepulangnya ke Gaza, hubungannya dengan Otoritas Palestina pimpinan Yasser Arafat juga tidak akur — pada 1998 ia sempat ditahan otoritas Palestina setelah menuntut sejumlah pejabat senior PA mundur, sebelum Mahkamah Tinggi Palestina memerintahkan pembebasannya dua bulan kemudian.

Percobaan Pembunuhan Pertama dan Naik ke Puncak Kepemimpinan

Rantisi dikenal sebagai tokoh Hamas yang menolak bersembunyi meski namanya berulang kali muncul dalam daftar sasaran Israel. Pada 8 Juni 2003, ia disebut mengarahkan serangan Hamas di Penyeberangan Erez yang menewaskan empat tentara Israel. Dua hari berikutnya, 10 Juni 2003, tiga helikopter Apache Israel menembakkan setidaknya tujuh rudal ke arah mobilnya di sebuah jalan raya ramai di Gaza City. Rantisi selamat dengan luka di kaki kanan, meski dua warga sipil Palestina di sekitar lokasi tewas.

Sembilan bulan kemudian, pada 22 Maret 2004, Sheikh Ahmed Yassin — pendiri sekaligus pemimpin spiritual Hamas yang menggunakan kursi roda — tewas dalam serangan helikopter Israel seusai salat subuh di Gaza City. Hamas menunjuk Rantisi sebagai penggantinya sebagai pemimpin gerakan di Jalur Gaza. Dalam masa jabatannya yang singkat, ia terus berbicara terbuka kepada publik dan menolak hidup dalam persembunyian, sikap yang kontras dengan sebagian besar tokoh Hamas lain yang menjadi target Israel.

Serangan 17 April 2004

Pada Sabtu malam, 17 April 2004, sekitar pukul 20.30 waktu setempat, mobil Rantisi dihantam rudal yang ditembakkan dari helikopter Israel sekitar satu blok dari rumahnya di Lingkungan Sheikh Radwan, Gaza City — kurang dari sebulan setelah ia menjabat. Ia dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis dengan luka serius di kepala dan leher, menjalani operasi darurat, dan dinyatakan meninggal sekitar lima menit setelah tiba di rumah sakit.

Serangan itu memicu kecaman luas. Yasser Arafat menyebutnya “pembunuhan brutal”; Liga Arab menyebutnya “terorisme negara”; Menteri Luar Negeri Inggris Jack Straw menyebut kebijakan pembunuhan bertarget Israel “melanggar hukum, tidak dapat dibenarkan, dan kontraproduktif”. Sebaliknya, pejabat Israel — termasuk Wakil Perdana Menteri Ehud Olmert — menyatakan serangan terhadap tokoh Hamas akan berlanjut. Kematian Rantisi terjadi hanya beberapa jam setelah seorang pembom bunuh diri Palestina menewaskan seorang polisi perbatasan Israel di Penyeberangan Erez, meski pihak Israel menyatakan tidak ada kaitan langsung antara dua peristiwa itu.

Menurut sejarawan Hamas Khaled Hroub, pembunuhan Yassin dan Rantisi dalam waktu berdekatan menciptakan paradoks bagi gerakan itu: popularitasnya di kalangan warga Palestina justru meningkat, sementara struktur organisasinya melemah secara signifikan akibat kekosongan kepemimpinan mendadak.

Warisan

Rumah Sakit Anak Al-Rantisi di Gaza City, yang menangani kasus kanker dan penyakit ginjal pada anak, dinamai untuk mengenangnya. Di lokasi bekas kamp Marj al-Zuhur di Lebanon Selatan, sebuah monumen didirikan setelah kematiannya dan menjadi situs ziarah yang terus dikunjungi hingga bertahun-tahun kemudian.

Istrinya, Jamila al-Shanti, kemudian menjadi anggota Dewan Legislatif Palestina pada 2006 dan anggota Biro Politik Hamas pada 2021 — perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut. Ia tewas dalam serangan Israel selama perang Gaza yang dimulai Oktober 2023, dua dekade setelah suaminya terbunuh dengan cara yang serupa.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini