HomeBeritaPerangi Gaza, Militer Israel Alami Krisis Dana dan Stok Senjata

Perangi Gaza, Militer Israel Alami Krisis Dana dan Stok Senjata

TEL AVIV — Militer Israel dilaporkan menghadapi kekurangan anggaran sekitar 40 miliar shekel atau setara US$13,1 miliar (sekitar Rp207 triliun) untuk memenuhi kebutuhan operasional, mengisi kembali persediaan persenjataan, serta memulihkan kemampuan militernya setelah hampir tiga tahun menjalankan operasi militer secara terus-menerus.

Laporan tersebut diungkap surat kabar Israel Yedioth Ahronoth dan dikutip Middle East Monitor, Selasa (15/9/2026). Kondisi itu memunculkan kekhawatiran di kalangan pejabat militer Israel terkait kesiapan operasional, pengadaan senjata, hingga rencana pembangunan kekuatan militer dalam jangka panjang.

Menurut laporan tersebut, sejumlah pejabat senior militer telah berulang kali memperingatkan kepemimpinan politik Israel dalam beberapa bulan terakhir bahwa keterbatasan anggaran dapat berdampak langsung terhadap kesiapan tempur militer.

Peringatan itu disebut disampaikan oleh Kepala Staf Militer Israel, wakilnya, serta Kepala Direktorat Perencanaan. Mereka mendesak adanya tambahan anggaran untuk mempertahankan operasi yang sedang berlangsung sekaligus membangun kembali kemampuan militer yang terkuras sejak Oktober 2023.

Salah satu persoalan yang paling dikhawatirkan adalah menurunnya persediaan amunisi. Pejabat pertahanan Israel disebut khawatir stok senjata yang semakin berkurang dapat menghambat kemampuan militer dalam menjalankan operasi secara berkelanjutan.

Sejumlah program yang ditujukan untuk memulihkan kesiapan militer bahkan dilaporkan harus ditunda akibat keterbatasan pendanaan.

Persoalan anggaran juga berpotensi berdampak terhadap industri pertahanan domestik Israel. Yedioth Ahronoth melaporkan adanya kekhawatiran bahwa sejumlah lini produksi persenjataan dapat mengalami gangguan apabila tambahan alokasi anggaran tidak segera disetujui.

Bersiap Hadapi Konflik di Banyak Front

Kondisi tersebut terjadi ketika militer Israel masih menjalankan operasi di sejumlah front dan pada saat yang sama mempersiapkan kemungkinan menghadapi konflik baru atau eskalasi secara bersamaan.

Menurut laporan tersebut, perencana militer Israel mempertimbangkan kemungkinan konfrontasi yang kembali melibatkan Iran, Hezbollah, dan Hamas, selain tantangan keamanan yang disebut berasal dari Suriah dan Yaman.

Militer Israel disebut tidak ingin mengasumsikan bahwa konflik akan berlangsung secara terpisah. Sebaliknya, para perencana pertahanan berupaya mempertahankan kemampuan untuk menjalankan operasi di beberapa medan secara bersamaan.

Situasi tersebut membuat kebutuhan terhadap persenjataan, amunisi, peralatan militer, serta personel cadangan semakin besar.

Anggaran Jadi Persoalan Strategis

Kekurangan anggaran sekitar 40 miliar shekel itu kini menjadi persoalan strategis bagi pemerintah dan militer Israel. Di satu sisi, pemerintah harus membiayai kebutuhan operasi militer yang sedang berlangsung. Di sisi lain, militer membutuhkan dana besar untuk mengisi kembali persediaan senjata, memperbaiki kesiapan pasukan, serta mempersiapkan kemungkinan konflik di masa depan.

Laporan Yedioth Ahronoth menunjukkan adanya tekanan antara kebutuhan pengeluaran operasional jangka pendek dengan kebutuhan investasi pertahanan jangka panjang.

Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, militer Israel telah menjalankan operasi berkepanjangan yang menguras persediaan amunisi, peralatan tempur dan personel cadangan.

Dengan semakin panjangnya durasi operasi dan munculnya potensi ancaman dari berbagai arah, kebutuhan untuk memulihkan stok persenjataan menjadi semakin mendesak.

Kini, keputusan pemerintah Israel terkait tambahan anggaran pertahanan akan menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan militer negara tersebut mempertahankan operasi sekaligus membangun kembali kekuatan untuk menghadapi kemungkinan konflik di berbagai front. (cky)

Ahmad Tasori
Ahmad Tasori
Aktif sebagai koresponden jurnalis iNews dan bagian dari jaringan MNC Group yang memiliki pengalaman dalam peliputan berbagai isu nasional, keagamaan, dan internasional. Berpengalaman meliput penyelenggaraan ibadah haji di Makkah serta isu Palestina dan Gaza. Pada 2025, pernah melaporkan langsung dari Tunis, Tunisia, mengenai misi Global Freedom Flotilla menuju Gaza.
ARTIKEL TERKAIT

Terkini