HomeLiterasiFiksiSebelum Dinding Itu Jatuh

Sebelum Dinding Itu Jatuh

#CerpenJumat — Edisi 13: Suara dari Gaza


Abu Naji tidak pernah percaya pada rencana yang terdengar bagus di kepala.

Dua puluh tahun ia menggali puing, dan satu-satunya pelajaran yang ia pegang adalah ini: bangunan tidak membaca niat orang. Dinding miring di tanah keluarga Yusuf tidak peduli apakah di bawahnya ada tunas zaitun atau hanya rumput. Ia hanya akan jatuh ke arah yang diizinkan beratnya.

Rencananya sederhana. Dua tiang penopang dari balok bekas, tali tarik dari kabel baja, dan satu dorongan dari sisi barat pada saat semua orang berdiri jauh di timur. Dinding akan jatuh ke arah yang ia pilih. Tunas di celah itu, kalau memang tunas, hampir pasti hancur.

Ia sudah menghitung itu, dan sudah memutuskan tidak membicarakannya pada Yusuf.

Pagi itu ia datang sebelum fajar membawa tongkat besinya, dan berhenti di tepi lingkaran batu.

Seseorang sudah ada di sana.


Ummu Khalil duduk di atas balok beton, tongkatnya tersandar di lutut, kantong kain kecil di pangkuannya. Embun belum naik. Udara berbau tanah basah, dingin, dan asam samar dari besi tua.

“Kau datang terlalu pagi, Ummu.”

“Kau juga.” Ia tidak menoleh. “Aku mau lihat dulu. Sebelum kau mengubahnya jadi tumpukan.”

Abu Naji berdiri di sampingnya, tidak menjawab. Ia memang tidak pandai menjawab perempuan ini. Ummu Khalil adalah satu dari sedikit orang yang selalu mengatakan apa yang sebenarnya ia pikirkan, dan itu membuat orang lain terlalu telanjang untuk berbohong.

“Kau akan menjatuhkannya ke sisi mana?”

“Barat.”

“Dan tunasnya?”

Abu Naji menarik napas. Dua puluh tahun, dan tetap saja kalimat semacam ini sulit diucapkan. “Kemungkinan besar tidak selamat.”

Ummu Khalil mengangguk pelan, seperti sudah tahu. Lalu ia berkata sesuatu yang tidak diduga. “Berapa hari kalau dibongkar dengan tangan?”


“Tangan?”

“Bata demi bata. Dari atas.” Ia menatap dinding miring itu, seolah mengukurnya dengan mata. “Aku pernah lihat tukang batu tua membongkar rumah tanpa satu pun bata pecah. Mereka mulai dari puncak, dan tidak pernah membiarkan beban menumpuk di satu sisi.”

“Berbahaya.” Abu Naji mengatakannya seperti mengeja. “Aku tidak membiarkan anak-anak berdiri di bawah—”

“Bukan anak-anak. Aku.” Nada suaranya tidak naik, tidak turun. “Dan Rasha. Dan siapa pun yang berani, asal kau yang memerintah.”

Abu Naji menunduk, memandangi sepatunya yang sudah robek di ujung. Di dalam kepalanya, hitungan lain berjalan. Lima hari. Mungkin delapan. Risiko runtuh sebagian di tengah pekerjaan. Dan satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh perhitungan mana pun: apakah sehelai daun sepadan dengan delapan hari risiko.

“Aku tidak bisa menjanjikan siapa pun selamat,” katanya jujur.

“Aku tidak minta janji.” Ummu Khalil akhirnya menoleh. “Aku minta kau memilih dengan mata terbuka. Bukan dengan rencana yang sudah kau putuskan sebelum datang.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Ia memang sudah memutuskan sebelum datang.


Mereka bekerja mulai hari itu juga.

Abu Naji memimpin, suaranya rendah dan datar seperti biasa, tapi untuk pertama kalinya Widad melihat lelaki itu mengulang instruksi dua kali, perlahan, seperti orang yang ingin dimengerti. “Pegang bata dengan dua tangan. Jangan tarik, angkat. Kalau dengar kretek, berhenti. Tidak ada yang bertanya kenapa.”

Rasha datang membawa air, bayinya diikat di punggung. Yusuf tidak boleh mendekat sebelum pukul sembilan, dan ia menurut, duduk di balok jauh di sisi timur dengan kertas surat di pangkuannya, memandangi dinding yang perlahan menjadi lebih pendek.

Widad menghitung. Bata ke-12. Bata ke-40. Bata ke-103. Berat debu di lidahnya, bau kapur yang menempel di hidung. Dan suara yang berulang: bata diletakkan di tanah, bunyi tumpul dan sabar, satu demi satu, seperti detak jantung yang sengaja dilambatkan.

Hari ketiga, Samir ikut. Ia tidak berkata apa-apa, hanya datang dari arah kelas Khadija dengan lengan baju tergulung, dan Abu Naji tidak menyuruhnya pulang. Ia hanya menunjuk satu tumpukan bata dan berkata, “Susun di situ. Yang rapi.”

Samir menyusun. Sangat rapi.


Pada hari keenam, dinding itu tinggal setinggi lutut. Di balik celah yang dulu sempit, tanah gembur itu kini terbuka, dikelilingi lingkaran batu yang miring.

Dan di tengahnya, ada tunas itu.

Tingginya tak lebih dari sejengkal. Batangnya sebesar lidi, bengkok sedikit ke arah cahaya, dengan daun-daun kecil sempit berwarna hijau abu-abu di ujungnya. Bukan hijau cerah seperti rumput. Hijau yang agak pucat, agak keperakan di sisi bawah daunnya.

Yusuf berdiri paling depan. Napasnya tertahan.

“Zaitun?” bisiknya.

Tidak ada yang menjawab. Abu Naji menatap ke arah Ummu Khalil, dan Ummu Khalil berjongkok pelan, lututnya berbunyi, lalu menyentuh salah satu daun dengan ujung jari yang menekuk.

Ia diam lama. Terlalu lama bagi Widad yang berdiri di sebelahnya, yang tiba-tiba sadar bahwa ia menahan napas sendiri.

“Daunnya,” kata Ummu Khalil akhirnya, suaranya nyaris tidak keluar, “perak di baliknya.” Hanya itu. Ia tidak mengatakan ya, tidak juga tidak.


Menjelang sore, ketika yang lain sudah pulang dan hanya tersisa bau tanah basah dan suara angin di sela batu, Ummu Khalil membuka kantong kainnya.

Di dalamnya ada biji-bijian keras, cokelat gelap, berkerut: belasan biji zaitun kering, yang ia simpan dari panen terakhir bertahun lalu. Ia selalu menyimpannya, tidak pernah tahu untuk apa.

Ia mengambil satu, menekannya ke telapak tangan Yusuf yang kecil dan masih berdebu.

“Ini bukan dari ayahmu,” katanya. “Dari kebunku. Mungkin sudah mati. Mungkin tidak. Aku tidak pernah tahu.”

Yusuf memandangi biji itu, lalu menatap neneknya yang bukan neneknya. “Kenapa memberiku?”

“Karena tunas itu tidak boleh sendirian.” Ia menutup jari-jari Yusuf di atas biji itu. “Dan karena aku sudah terlalu lama membawa yang satu ini sendirian.”

Ia berdiri, tongkatnya mengetuk tanah dua kali. Matanya sempat menatap ke timur, ke arah garis gelap yang sudah lama tidak boleh didekati, lalu ia berbalik pulang tanpa berkata lagi.

Yusuf tetap berdiri di sana, menggenggam biji itu, dan di depannya sehelai daun kecil bergetar tertiup angin sore, perak di baliknya, tidak peduli siapa yang menamainya apa.


Minggu depan, seorang tukang cukur keliling yang membawa gunting karatan akan diminta mencukur rambut seseorang untuk pertama kali dalam dua tahun, dan harus memutuskan apa yang boleh ia katakan sambil menggunting.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini