Pernyataan solidaritas Afghanistan terhadap Iran bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan sinyal penting mengenai perubahan lanskap geopolitik Asia Barat dan Asia Tengah di tengah meningkatnya kemungkinan konfrontasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pemerintah Afghanistan yang kini dipimpin Taliban secara terbuka menyatakan kesiapan memberikan dukungan kepada Iran jika terjadi agresi. Pernyataan ini menunjukkan semakin menguatnya poros negara-negara yang menolak dominasi keamanan Amerika Serikat di kawasan.
Selama dua dekade pendudukan AS di Afghanistan, Kabul berada dalam orbit strategis Washington. Namun setelah penarikan pasukan AS pada 2021, Afghanistan secara bertahap membangun hubungan lebih erat dengan negara-negara tetangga regional, termasuk Iran, China, dan Rusia. Dukungan terbuka kepada Teheran menandai perubahan orientasi geopolitik yang semakin jelas.
Di saat yang sama, laporan mengenai persiapan militer Amerika Serikat untuk kemungkinan operasi berkepanjangan terhadap Iran menunjukkan bahwa Washington tidak hanya menyiapkan opsi tekanan diplomatik, tetapi juga skenario militer jangka panjang. Penempatan tambahan kapal induk, pesawat tempur, dan ribuan pasukan mengindikasikan strategi pencegahan sekaligus kesiapan eskalasi.
Faktor Israel menjadi elemen kunci dalam dinamika ini. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara konsisten mendorong pendekatan keras terhadap Iran dan berupaya memastikan bahwa setiap kesepakatan AS–Iran tidak hanya membatasi program nuklir, tetapi juga melemahkan jaringan sekutu regional Iran.
Bagi Israel, ancaman utama bukan hanya kemampuan nuklir Iran, melainkan apa yang disebut sebagai “arsitektur perlawanan regional” — jaringan aktor sekutu Iran di berbagai front kawasan. Karena itu, dorongan memperluas agenda negosiasi di luar isu nuklir berpotensi memperumit diplomasi dan meningkatkan risiko kegagalan perundingan.
Iran sendiri telah mengirim sinyal pencegah yang jelas. Ancaman balasan dari Korps Garda Revolusi Islam terhadap pangkalan militer AS di seluruh Asia Barat menunjukkan bahwa konflik apa pun tidak akan bersifat terbatas, melainkan berpotensi berubah menjadi perang regional multi-front.
Dalam konteks ini, dukungan Afghanistan menjadi signifikan secara simbolik maupun strategis. Meski kemampuan militer Kabul terbatas, posisi geografis Afghanistan memperluas ruang kedalaman strategis Iran di kawasan timur, sekaligus memperlihatkan bahwa isolasi regional terhadap Teheran semakin sulit diwujudkan.
Jika ketegangan terus meningkat, kawasan Asia Barat berisiko memasuki fase konfrontasi baru: bukan lagi konflik terbatas, melainkan persaingan blok regional yang melibatkan aktor negara dan non-negara secara bersamaan — sebuah skenario yang dapat mengubah keseimbangan keamanan kawasan dalam jangka panjang.

