Dua gadis Palestina tewas akibat runtuhnya dinding beton rumah yang dihantam pesawat tempur Israel di Kota Gaza, demikian disampaikan oleh otoritas setempat pada Sabtu, seperti dilaporkan Anadolu.
Anak lainnya terluka dalam kejadian tersebut saat mereka sedang bermain di dekat rumah yang runtuh, kata Salama Marouf, Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, melalui akun X miliknya.
“Untuk menghentikan jumlah korban syahid, sangat penting untuk mempercepat masuknya peralatan berat, menyediakan bahan bakar, dan memungkinkan tim teknis spesialis untuk mengakses puing-puing serta menilai rumah-rumah yang rusak sebagian,” ujar Marouf.
Menurut otoritas setempat, lebih dari 500.000 rumah telah rusak akibat serangan militer Israel yang mengerikan di Gaza sejak 7 Oktober 2023.
Serangan tersebut, yang telah menewaskan hampir 47.600 orang dan melukai lebih dari 111.000 lainnya, akhirnya terhenti setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan tukar tahanan pada 19 Januari lalu.
Namun, warga Palestina menuduh Israel menunda pengiriman bantuan tempat tinggal dan bahan bakar ke Gaza, yang dianggap melanggar perjanjian gencatan senjata.
Dalam tahap pertama kesepakatan yang berlangsung selama enam minggu, diperkirakan sekitar 600 truk bantuan akan masuk setiap harinya untuk membantu mengatasi kondisi kemanusiaan yang parah di Gaza setelah serangan militer Israel.
Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November lalu untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait serangan terhadap wilayah tersebut.